Peran Guru Dalam Mendidik Siswa di Era Kurikulum Merdeka

Wanda Syahputra. Dok Pribadi.

Oleh, Wanda Syaputra*

Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, Kurikulum Merdeka hadir sebagai upaya pemerintah untuk memberikan ruang kebebasan dan fleksibilitas kepada sekolah serta guru dalam proses pembelajaran.

Di balik semangat perubahan ini, peran guru menjadi semakin krusial, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik sejati yang membimbing siswa untuk menjadi manusia yang berkarakter, kreatif, dan berdaya saing

Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning).

Hal ini menuntut guru untuk tidak lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan memfasilitasi proses belajar sesuai dengan minat dan kemampuan peserta didik.

Guru perlu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, interaktif, serta mendorong siswa untuk berpikir kritis dan berani berpendapat.

Dalam konteks ini, guru bukan lagi sumber utama pengetahuan, melainkan pembimbing yang menuntun siswa menemukan makna dari setiap proses belajar.

Peran guru sebagai fasilitator menuntut kemampuan untuk memahami karakter setiap siswa dan menyesuaikan strategi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Selain aspek akademik, Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya penguatan Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia; mandiri; gotong royong; bernalar kritis; kreatif; serta berkebinekaan global.

Guru memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui keteladanan, pembiasaan, serta kegiatan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5).

Mendidik dalam Kurikulum Merdeka berarti membantu siswa menemukan potensi dirinya dan membentuk karakter yang kuat.

Guru harus menjadi teladan dalam sikap, tutur kata, dan tindakan, karena sejatinya pendidikan karakter lebih banyak dipelajari melalui contoh nyata daripada sekadar teori.

Meskipun konsep Kurikulum Merdeka menawarkan kebebasan, tantangan di lapangan tidaklah sedikit.

Guru dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi dengan pendekatan pembelajaran baru, teknologi pendidikan, serta sistem asesmen yang berorientasi pada capaian pembelajaran.

Namun di balik tantangan tersebut, tersimpan peluang besar bagi guru untuk berinovasi dan mengembangkan kreativitas dalam mengajar.

Melalui kolaborasi dengan rekan sejawat, pemanfaatan teknologi, dan pembelajaran berbasis proyek, guru dapat mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa.

Guru adalah ujung tombak keberhasilan Kurikulum Merdeka. Dengan semangat mendidik yang tulus, guru tidak hanya mencerdaskan peserta didik secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Kurikulum Merdeka bukan hanya tentang kebebasan dalam belajar, tetapi juga tentang tanggung jawab moral guru dalam menuntun siswa menjadi manusia seutuhnya — yang berpikir, berperasaan, dan berperilaku sesuai nilai-nilai kemanusiaan dan Pancasila.

*Penulis merupakan mahasiswa program studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
**Warga Aceh Tengah.

Leave a Reply to Putra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

  1. Selama para murid tidak lagi menghormati dewan guru dan para orang tua murid memperlakukan guru TDK sopan jgn harap anak² didik berbudi luhur dan berakhlak mulia… karena kewenangan dewan guru sudah terpasung.