Tidak Semua yang Tahu Diungkapkan, Didengar Disimpan, dan Tuduhan Harus Diklarifikasi

Arkiandi. Dok. Ist

Oleh, ARKIANDI, ST, CGCAE*
Tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan, dan tidak semua yang kita dengar harus kita masukkan ke dalam pikiran, apalagi ke dalam hati.

Ada kualitas, tempat, dan waktu yang harus diperhatikan sebelum sebuah pesan disampaikan. Begitu pula dalam mendengar, tidak semua kabar layak kita simpan, apalagi sampai meracuni ketenangan batin.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali orang terjebak pada kegelisahan hanya karena terlalu cepat bicara atau terlalu dalam menyerap apa yang ia dengar.

Padahal, dalam Islam, menjaga lisan dan hati merupakan bagian dari tanda kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa diam, pada situasi tertentu, jauh lebih mulia dibandingkan bicara tanpa kendali.

Bahkan kebenaran sekalipun, bila disampaikan pada waktu dan cara yang salah, dapat menimbulkan masalah, salah paham, atau bahkan melukai perasaan orang lain.

Di era media sosial, kita kerap melihat orang terseret dalam arus klarifikasi tanpa henti. Semua tuduhan dianggap harus dijawab, semua gosip dianggap perlu diluruskan.

Padahal, bijak menyikapi tuduhan sering kali justru dengan membiarkannya.
Al-Qur’an menegaskan:

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan kata-kata (yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam’.” (QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini memberi teladan bahwa tidak semua hinaan layak ditanggapi. Kadang, membiarkan orang dengan prasangkanya adalah cara terbaik menjaga martabat diri sekaligus melindungi ketenangan hati.

Imam Al-Ghazali (1058–1111 M) Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, menjelaskan panjang lebar tentang bahaya lisan.

Menurutnya, banyak manusia masuk neraka bukan karena ibadahnya kurang, tetapi karena lisannya tak terkendali.

Beliau menekankan, hati akan tenang bila kita pandai menyaring apa yang kita dengar dan menahan diri dari ucapan yang sia-sia.

Motivator dunia, Stephen R. Covey, dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People (1989), menekankan pentingnya “circle of influence”, yaitu fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan abaikan hal-hal di luar kendali.

Dalam konteks tuduhan dan gosip, tidak semua harus kita klarifikasi, sebab fokus kita seharusnya pada kualitas diri, bukan pada opini orang lain.

Hal serupa juga ditulis oleh Dale Carnegie dalam bukunya How to Stop Worrying and Start Living (1948).

Carnegie menegaskan bahwa banyak orang yang menderita bukan karena fakta nyata, melainkan karena terlalu menghiraukan kata-kata orang lain. “No one kicks a dead dog,” tulisnya, artinya jika seseorang dihujat, itu justru tanda bahwa ia sedang berjalan maju.

Di media sosial hari ini, banyak “penyebar” yang menyamar jadi “pendengar”. Terlihat seakan peduli, padahal hanya mencari celah untuk menyebarkan cerita.

Maka, Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita berhati-hati:
Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Ketenangan pikiran dan kebahagiaan hati sering kali bukan ditentukan oleh apa yang datang dari luar, melainkan oleh cara kita menyaringnya.

Bila semua yang menyinggung hati langsung kita tanggapi, hidup akan penuh kegaduhan.

Sebaliknya, bila kita belajar memilah, mana yang pantas didengar dan mana yang sebaiknya diabaikan, maka hati akan lebih fresh, pikiran lebih tenang, dan hidup terasa lebih bahagia.

Motivator ternama Robin Sharma dalam bukunya The Monk Who Sold His Ferrari (1997) menulis, “Your ‘I can’ is more important than your IQ.”

Pesan ini mengingatkan bahwa keteguhan hati dan sikap positif lebih penting daripada membuang energi pada hal-hal kecil seperti komentar negatif atau gosip orang lain.

Menjaga lisan dan hati adalah seni hidup yang penting. Tidak semua yang kita tahu harus kita katakan, dan tidak semua yang kita dengar harus kita simpan.

Kualitas waktu, tempat, serta siapa yang menjadi lawan bicara menentukan makna dari sebuah pesan. Adakalanya, diam adalah jawaban yang paling indah.

Kita bisa memilih untuk tetap jernih, meski dunia berisik dengan tuduhan dan kabar simpang siur.

Sebab pada akhirnya, ketenangan hati adalah harta yang lebih berharga daripada sekadar kemenangan dalam perdebatan.

Seperti kata Mahatma Gandhi dalam bukunya The Story of My Experiments with Truth (1927):

Nobody can hurt me without my permission.” Tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti kita tanpa kita izinkan masuk ke dalam hati.

*Penulis merupakan ASN dilingkungan Pemkab Bener Meriah.
*Penceramah, dan aktif diberbagai kegiatan keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3 comments