Kartini, Cita-Cita dan Ironisme Masa Kini

Oleh Nurhayati Sahali*

 

Ibu kita Kartini …pendekar bangsa ..

Pendekar kaumnya … untuk merdeka …

Bait lagu di atas sudah pasti tak asing lagi di telinga kita. Bahkan ketika duduk di bangku sekolah, mungkin lirik lagu ini selalu kita dendangkan setidaknya setiap peringatan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April.

Lagu itu benar, Kartini memang seorang pendekar. Bila lagu tersebut menyebut Kartini sebagai pendekar dua kali, yaitu pendekar bangsa dan pendekar kaumnya, maka Saya lebih cenderung dengan sebutan yag pertama, pendekar bangsa.  Sebab hasil dari perjuangan Kartini bukan hanya dirasakan oleh kaum perempuan tetapi dirasakan bangsa secara umum.

Sejarah memang mencatat bahwa Raden Ajeng Kartini (1879 – 1904) berjuang untuk para perempuan di masa itu yang tidak mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki dalam banyak hal terutama dalam menuntut ilmu. Kartini sendiri yang termsuk golongan  priyayi, anak Bupati Jepara saat itu hanya bisa mengecap pendidikan formal hinga umur 12 tahun, dan setelah itu harus mengalami masa pingitan. Keprihatinan pada nasib perempuan dan status sosial mereka yang rendah inilah yang mendorong Kartini untuk mendirikan sekolah khusus perempuan.

Apa yang dilakukan Kartini sesungguhnya tidak terbatas bagi kepentingan kaum perempuan. Kartini boleh saja tidak mengetahui kalimat bijak yang mengatakan, “Wanita adalah tiang negara, jika wanita itu baik maka baiklah negara itu dan (sebaliknya) jika wanita itu buruk maka buruklah negara itu.  Tetapi Kartini yang dianugerahi kecerdasan dan jangkauan berfikir yang jauh ke depan mampu melihat betapa besarnya peran perempuan dalam kemajuan bangsa. Mari kita lihat surat Kartini kepada Prof. Anton yang berbunyi, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tetapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar bagi kaum perempuan agar para perempuan lebih cakap dalam melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam  ke dalam tangannya, menjadi ibu pendidik manusia yang pertama.”

Kartini sangat memahami sebagai partner laki-laki dalam kehidupan, perempuan juga harus pintar dan memiliki kemajuan berfikir. Bukan untuk bersaing dengan laki-laki, tetapi bagaimana agar perempuan memiliki kecakapan dan keterampilan dalan menjalani peran dan fungsinya. Terlebih perempuan punya eran penting dalam roda kehidupan, yaitu sebagai ibu yang melahirkan dan mendidik generasi manusia. Ibu yang tidak terdidik tidak akan mampu mencetak sumber daya manusia berkualitas yang kelak berguna bagi bangsa dan negara.

Kartini tidak hanya berkeinginan agar para perempuan bangsanya bisa menulis dan membaca, tetapi juga memiliki pengetahuan yang luas seperti para wanita Eropa kala itu. Dia sendiri sangat gemar membaca, mulai dari surat kabar Semarang (De Locomotief), paket majalah Leestrommel, majalah wanita Belanda De Hollandsche hingga berbagai buku menjadi temannya sehari-hari. Bahkan dia sering menulis dan dimuat di majalah Belanda.

Kartini juga ingin agar setiap perempuan bersikap kritis dan memahami maksud dari setiap perbuatan. Itu sebabnya-seperti dikutip dalam surat-suratnya yang dihimpun Mr.J.H Abendanon– Kartini bersedih mengapa kitab suci hanya dilafalkan dan dihafal tanpa dikaji arti dan maknanya.  Pada masa kecilnya, Kartini pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Qur’an). Ibu guru mengajinya memarahi dan menyuruh Kartini keluar ruangan ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Qur’an yang diajarkan kepadanya.

Kini, Kartini memang tinggal sejarah. Tetapi cita-cita besarnya telah menjadi inspirasi kaum perempuan Indonesia. Tetapi benarkah mimpi perempuan bergelar Pahlawan Nasional ini sudah menjadi kenyataan? Lantas mengapa masih banyak perempuan Indonesia hidup terbelakang, tidak mengecap pendidikan bahkan buta huruf? Mengapa kemiskinan masih melanda kaum perempuan? Mengapa peran public dan politik perempuan masih sangat minim? Mengapa perempuan masih mengalami kekerasan?

Di sisi lain sebagian perempuan Indonesia masih lebih suka membuang waktu untuk berhura-hura dan bergaya hidup konsumtif saat perempuan lain butuh dana pendidikan, memilih untuk menonton sinetron yang ceritanya tak berujung dan infotainment yang mengumbar aib seseorang ketimbang membaca dan melakukan kegiatan yang prestatif. Bahkan perempuan yang nasibnya diperjuangkan Kartini belakangan banyak menjadi ‘komoditi’ yang diperdagangkan. Fenomena yang sangat ironis dengan cita-cita Kartini.

Meski kita pun harus mengakui bahwa banyak juga Kartini-Kartini masa kini yang sukses di bidang mereka. Banyak Kartini-Kartini masa kini yang hebat dan menjadi inspirasi banyak orang. Banyak Kartini-Kartini yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk bangsa dan negara ini. Di antara mereka banyak guru, dokter, ekonom, polisi, hingga politisi dan pejabat negara.

Cita-cita Kartini pada hakikatnya adalah cita-cita PKS. Karena Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam hadir mengangkat harkat dan derajat kaum perempuan dan atas landasan dakwah Islam PKS akan berjuang untuk memuliakan perempuan. Para kader perempuan PKS telah membuktikan kontribusi luar biasa mereka untuk negeri bukan hanya melalui peran domestik dalam mengasuh anak-anak bangsa tetapi juga melalui peran publik. Tak kenal lelah para kader perempuan PKS dalam membina dan mengadvokasi masyarakat serta berkontribusi di tengah masyarakat sesuai potensi dan kapabilitas yang dimiliki.

Apa dan siapa pun kita, sebagai perempuan kita boleh berlomba dalam kebaikan dengan kaum laki-laki. Bukan emansipasi atau cita-cita Kartini yang menjadi landasan, tetapi karena Allah yang memberi kesempatan. Karena di sisi-Nya laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam beribadah dan berkarya sebagai Khalifah di muka bumi.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang puasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar,” (Qs. Al Ahzab : 35).

Perempuan Gayo Lues, Mari kita maju dan bekerja untuk Gayo Lues !

 

*Anggota DPRK Gayo Lues

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.