by

Pak Ramli Membumikan Kearifan Lokal


Takengon | Lintas Gayo – Matahari baru saja menyembul dari sela-sela bukit, kabut masih begitu tebal sehingga orang-orang yang hendak memulai rutinitas pagi ini harus mengenakan jaket tebal, untuk melawan dingin.

Sama seperti pagi-pagi lainnya, Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 pagi ini juga mulai diramaikan suara bocah-bocah berusia 9-11 tahun, halaman sekolah sebesar 2 kali lapangan sepak bola ini mulai dibanjiri bocah-bocah berseragam coklat, mereka berbaris rapi, hendak melakukan senam pagi, rutinitas yang wajib diikuti seluruh siswa sekolah dasar berbasis keagamaan ini.

Bukan tanpa alasan aku mengunjungi sekolah yang memiliki lima ratus perserta didik itu, sepagi ini, dari sekedar bercerita tentang kondisi sekolah dengan seorang kawan bernama Arbi, salah seorang penggiat LSM yang sebelumnya pernah menggelar program pendidikan bagi guru-guru di sekolah ini bersama LSM nya, aku jadi tertarik ingin membuktikan kebenaran kata-katanya yang menyebutkan sejumlah prestasi siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri  (MIN) 1 Bebesen Kabupaten Aceh Tengah.

Benar saja, begitu memasuki ruang-ruang kelas, sejumlah barang-barang bernilai seni terpajang di dinding-dinding dan meja-meja, dari pengakuan siswa barang kerajinan ini dibuat sendiri oleh para siswa, “ini kami yang buat bang, diajari pak guru” kata Supri, salah seorang siswa sekolah tersebut.

Suasana riang benar-benar terasa di sini, tingkah polah bocah-bocah cilik begitu menyegarkan suasana Peragaan hasil karya Seni atau Expo yang kebetulan sedang dsigelar disekolah tersebut, tawa dan canda khas anak kecil berpadu dengan keramaian yang membuat semarak pergelaran ini.

Untuk pertama kalinya, aku melihat  oemar Bahkri  madrasah Ibtidaiyah Negeri, sibuk menyambut para tamu- tamu. Wali murid berdatangan dari penghujung  negeri penghasil kopi yang tak rewel. Tak rewel orang-orang disini penghasilanya menurun atau bertambah.

Pagi  begitu akrab, suasananya bersahabat. Perlahan aku menghampiri sekolah itu, sosok Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 (MIN) tersebut menyapaku lembut, “ silahkan masuk pak,” ia mempersilahkanku.

Ia adalah Drs. Armas, M.pd kepala sekolah MIN 1 Bebesen, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah.  Senyumnya seakan memberikan arti, seolah tak ada beban dalam hidupnya, namun ia berpikir keras memberikan yang terbaik kepada anak didiknya.

Keresahan dan kegelisahanya pada generasi yang tidak memahami kearifan lokal  di Negeri ini. Membuat ia sadar, bahwa produk lokal sebagai alat peraga dalam metode pembelajaran haruslah  diajarkan kepada perserta didiknya, sudah  5 Tahun ia mengenalkan metode ini kepada siswanya. sangat sederhana kawan, saat ia memperkenalkan hasil karya siswanya itu kepada lintas gayo, sabtu, (24/2/2012).

“ inilah hasil karya perserta anak didik kita pak ,” sebutnya padaku satu persatu sambil menjelaskan alat peraga yang di pamerkan. Keungulan lokal  sebagai alat peraga disajikan yang merupakan ciri khas kedaerahan. Mencakup  aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi, ekologi, lingkungan dan lain-lain.

Wah, luar biasa sekali, pikirku. Seorang murid  MIN sudah dapat merakai bunga yang terbuat dari plastik, Sabun, karbon dan kertas dirangkai menjadi keterampilan luar biasa. Bumbu masakan masam jeng ( kuning, bawang putih, bawang merah)  ini menjadi pelajaran biologi, mempelajari Botani  tentang jenis tanamana yang hidup dengan bertunas atau tidak.

Ada lagi yang membuat miniatur, Umah Pitu Ruang ( Rumah Adat Gayo), peyangkulen, perahu, canang, keni, “ ini semua hasil karya kelas 5 dan 6 , pak “, ini termasuk pelajaran keterampilan siswa, “ tambah kepala sekolah

“ Kita sedang berupaya pada setiap mata pelajaran  dapat mengintegrasikan bahan kajian keungulan produk lokal sebagai alat peraga pada media pembelajaran,” komitmenya untuk sekolah itu. Lanjutnya,  Saat ini  pada mata pelajaran yang tertentu yang relevan, seperti  mata Pelajaran muatan local dan mata pelajar keterampilan sudah dapat kita perbuat,” sebutnya

Expo ini, bak museum urang Gayo ( Suku Gayo),meskipun di daerah ini belum mempunyai meseum, alat peraga ini bagi pak Ramli adalah sebuah kerinduan pengati meseum di Negeri ini. dengan cara inilah pak, mungkin anak didik kita tau sejarah, seni dan kebudayaan urang Gayo. Jelasnya kepada wartawan Lintas Gayo

Semua orang tau, kalau di Daerah menyimpan kekayaan khazanah yang menyerap  Sejarah, seni dan budaya yang telah ada selama Tujuh Ribu Tahun yang lalu. Ini terbukti dalam penelitian Arkeologi Ketut Wiradnyana dan Taufiqurrahman Setiawan dalam bukunya Gayo Merangkai Indentitas.

Buku Gayo Merangkai Identitas, merupakan upaya untuk mengumpulkan proses sejarah budaya yang telah berlangsung di Tanah Gayo. Proses sejarah budaya yang terekam dalam penelitian arkeologis di Gua Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang menunjukkan adanya kelompok pengusung budaya Hoabinh yang pernah beraktivitas di sekitar  Danau Lut Tawar, sekitar 7.000 tahun yang lalu.

Dalam Kajian arkeologi, menunjukkan adanya indikasi yang kuat bahwa aktivitas budaya prasejarah di Tanah Gayo, khususnya dari babakan neolitik (megalitik), menunjukkan masa yang lebih tua dibandingkan dengan aktivitas di Tanah Batak. Hal tersebut memunculkan hipotesis bahwa Orang Batak berasal dari Tanah Gayo.

Sungguh ini bukan dongeng, ini merupakan karya ilmiah yang membuka tabir kebohongan mitos Gayo. Urang Gayo telah mempunyai peradaban sejak Tujuh Ribu Tahu yang lalu, namun sangat disayangkan kekayaan ini tidak di kemas dengan nilai sebuah Gedung Museum Gayo. (Maharadi)

Comments

comments