by

Di SMAN 15 Takengon, Tak Tahan Aturan Silahkan Keluar

“Bagaimana bisa pacaran, baru sehari jadian langsung ketahuan” ungkap seorang siswa SMAN 15 Takengen Binaan Nenggeri Antara kepada Lintas Gayo (14/05/2011) lalu ketika ditanya saat menyantap semangkuk mie di halaman sekolah.

Menurut siswa ini, dengan gampangnya pihak guru sekolah tersebut bisa mendeteksi aktivitas mereka. “Pasti ada mata-mata yang sangat rahasia dan bekerja dengan baik,” kata siswa ini ketika ditanya kenapa bisa ketahuan.

Hal ini juga diakui oleh wakasek bagian kesiswaan yang namanya tidak ingin disebutkan, “selama bersekolah disini siswa tidak kami izinkan berpacaran, baik itu sesama teman sekolah atau beda sekolah karena kami selaku guru akan selalu memantau mereka,” ujarnya.

Namun hal tersebut tidak memberatkan para siswa, katanya lagi. Kini mereka terbiasa dengan kedisiplinan yang diterapkan pihak sekolah. Seperti tidak berpacaran, tidak membawa telepon selular ke sekolah kalaupun ada yang membawa atas kesadaran sendiri akan menyerahkan ke kantor wakil kepala sekolah, sekolah dari pagi hingga sore hari, tidak mengenakan sepatu ketika berada di ruangan kelas, Shalat Dhuha ketika jam istirahat, serta Shalat Dzuhur berjama’ah.

Untuk bahasa yang digunakan dalam kegiatan belajar dan mengajar masih menggunakan Bahasa Indonesia, terkait terbatasnya SDM yang dimiliki oleh tenaga pengajar. Namun para siswa telah menggunakan buku pelajaran yang bersistem bilingual, papar wakasek ini.

Sekolah yang dipimpin oleh Amiruddin ini lebih mengedepankan pelajaran tentang agama, para siswa diwajibkan mempelajari hadist, Al Quran, membaca Surah Yassin setiap Hari Jumat, dan setiap minggunya seorang siswa berpidato di halaman sekolah menggunakan Bahasa Arab atau Bahasa Inggris.

Sesuai dengan visi misi sekolah ini menciptakan generasi yang berakhlaq dan mengedepankan imtaq. Di sekolah yang siswanya berjumlah 87 siswa ini setiap siswanya dituntut untuk belajar bertanggung jawab dan jujur dalam bertindak salah satunya dengan menerapkan kantin kejujuran. Untuk membentuk kesadaran para siswa, pihak sekolah mengaku awalnya sangat kesulitan butuh waktu 3 – 5 bulan.

Beruntung sekolah ini memiliki kepala sekolah yang tidak sungkan memberikan andil dalam kerja keras tersebut.

Lokasi SMA 15 Takengen berada di Jalan Lukup Badak. Kendati masih berada di tahun pertama namun telah mampu menggondol prestasi di bidang akademik dan non akademik, diantaranya juara 3 cerdas cermat yang diadakan Assalam, juara 3 Putri Gayo, Juara 2 lomba berhitung, dan peserta terbaik Jambore Nasional.

Maka untuk menjadi siswa di sekolah ini harus melewati beberapa tahap, yaitu tes bidang akademik dan baca Al Quran.

Tahun ini direncanakan akan ada tes wawancara. Para siswa dari sekolah ini mayoritas berasal dari daerah Pegasing dan Bies Aceh Tengah. Pihak sekolah menyediakan asrama bagi siswa laki – laki yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah. Namun sekolah ini memiliki permasalahan terhadap ketersediaan air bersih, sehingga pihak sekolah kerap membeli air untuk memenuhi kebutuhan para siswa dan guru di sekolah.

Terkait dengan adanya kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lipga yang diadakan di aula sekolah. Pihak sekolah merasa sangat terbantu karena dapat memberikan masukan kepada para siswa bagaimana cara tata cara berorganisasi yang benar khususnya Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Dan berharap agar ilmu yang didapatkan dapat diterapkan di sekolah. (Ria Devitariska/Rahma Umar)

Comments

comments