by

Semua Dambakan RSU Belang Kejeren Optimal

Belang Kejeren | Lintas Gayo : Rumah Sakit Umum (RSU) Belangkejeren telah berdiri sejak tahun 2007. Pada awalnya sekitar tahun 2004 saat Kabupaten Gayo Lues baru berpisah dengan Kabupaten Aceh Tenggara rumah sakit ini hanya berupa container bantuan dari negara Jerman. Hingga saat ini rumah sakit tersebut belum memiliki nama dan belum terakreditasi.

Kepala RSU Belangkejeren dr.Taufik, Jum’at (17/6) mengatakan pihaknya telah mengusulkan akreditasi RS hingga ke pusat. Namun prosedurnya memang panjang dan membutuhkan waktu yang lama. Ia berharap nantinya RS bisa mendapatkan akreditasi type C. Untuk type C ini RS harus memenuhi standar minimal 100 orang perawat sedangkan yang dimiliki oleh RS baru sekitar 64 orang perawat.

Bangunan RS belum dapat dikatakan sempurna karena masih banyak ruangan yang disatukan. Seperti ruangan pasien pria dan wanita berada dalam satu gedung, ruangan Intensive Care Unit (ICU), Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan operasi juga masih dalam satu gedung.

Menurut Taufik tahun depan Pemkab Gayo Lues akan membangun gedung baru untuk RS sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada pasien yang pada umumnya merupakan pasien Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), Askes dan Jamkesmas.

RS ini baru memiliki seorang dokter spesialis Pegawai Negeri Sipil (PNS), sedangkan lima dokter spesialis lainnya merupakan tenaga kontrak yang berasal dari Medan. ”Kami telah menyekolahkan beberapa dokter ke berbagai daerah, sekitar 3-5 tahun lagi baru mereka lulus. Saat itulah baru kami menyediakan alat-alat kesehatan di bidang spesialis. Karena jika harus kembali mengontrak dokter spesialis dari luar daerah, pemkab tidak sanggup”, ujarnya.

Letak RS yang tidak strategis dan Taufik mengaku hal ini menjadi salah satu kendala yang ia alami sebagai kepala RS sejak Februari lalu. Letak RSU Belangkejeren sangat terpencil, terletak di pegunungan, diapit oleh hutan, rumah penduduk juga masih jarang, ditambah lagi tidak adanya penerangan jalan.

Kondisi ini membuat para perawat di RS yang notabene perempuan merasa takut jika harus dinas malam. Ia telah menghubungi Dinas Kebersihan dan Pekeraajaan Umum (PU) Kabupaten Gayo Lues untuk menangani masalah ini. Tanggapan dinas-dinas tersebut positif bahkan rencananya tahun depan jalan menuju RS akan dibuat dua jalur.

Harapan Taufik tidak muluk, ia hanya ingin agar masyarakat Gayo Lues dapat terlayani dengan baik. ”Mereka datang sudah dalam keadaan sakit, seharusnya memang para perawat melayani mereka dengan senyuman. Hal ini secara tidak langsung dapat mengurangi rasa sakit yang mereka derita”, papar dokter dengan aksen Bataknya.

Taufik, pria asal Medan ini telah mengabdi untuk masyarakat Gayo Lues sejak tahun 2003. Pertama kali ia ditugaskan ke Desa Pining yang merupakan desa terpencil di Gayo Lues, selanjutnya ia ditugaskan di Rikit Gaib sebelum memegang jabatan sebagai Kepala RSU Belangkejeren. Ia pun telah memperistrikan wanita asal Belangkejeren.

Ia amat menyayangkan tidak adanya bus atau angkutan umum dengan rute kota-rumah sakit yang lumayan jauh. Padahal tidak semua keluarga pasien memiliki kendaraan pribadi. Hal ini mengakibatkan keluarga yang menemani pasien kerap membawa kompor dan barang belanjaan untuk beberapa hari agar memudahkan mereka untuk mendapatkan makanan. Tentu saja kegiatan keluarga pasien tersebut membuat keadaan rumah sakit menjadi kotor, namun ia tidak dapat berbuat banyak untuk menangani hal tersebut. Ia berharap Jalan Pangur segera dapat diselesaikan seusai dengan perencanaan yang matang dan adanya angkutan umum yang melewati RS.

Ia berencana akan membuka kotak keluhan yang nantinya pasien atau keluarga pasien dapat mencurahkan kesulitan yang mereka alami. Namun pihak RS membutuhkan tenaga kerja yang khusus menangani hal tersebut, dan tenaga kerja yang berada di front office yang siap menjelaskan prosedur administrasi RS.

Menurut pengalamannya, masyarakat Gayo Lues masih awam akan prosedur administrasi tersebut. Keinginan terbesarnya hanyalah bagaimana Rumah Sakit Umum Belangkejeren dapat bekerja optimal dalam melayani masyarakat, tidak lebih. (Ria Devitariska)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.