by

Nasib Pendidikan Kita Diujung Tanduk

Sadra Munawar. Ist

Catatan : Sadra Munawar

Jika Ki Hajar Dewantara masih ada entah kesedihan macam apa yang dia rasakan, atau Muhammad Natsir masih menyaksikan wajah pendidikan kita entah berapa banyak sudah air mata yang di kucurkan untuk nasib pendidikan negri ini.

Alasan mereka  berduka tentu saja dikarenakan problema dasar menyangkut hak tenaga pendidik yang tidak selesai-selesai, bukan hal yang utama di dahulukan namun sesuatu yang bisa di tunda di utamakan.

Penulis masih percaya peradaban bangsa ini di bangun atas pondasi pendidikan, namun jika melihat realita dilapangan, agak-agak nya masih jauh panggang dari api ketika kita bicara membangun peradaban, bayangkan saja wajah tenaga pendidik yang pergi pagi pulang petang itu hanya di bayar dengan janji manis saja.

Maka logika korupnya sedang bekerja para petinggi dunia pendidikan ini semakin hari semakin terlihat jelas, jika beberapa waktu lalu para mafia itu memainkan ijazah sekarang mereka sanggup menunda pembayaran keringat para Ibu dari anak-anak kita.

Belum lagi kita lihat lebih jauh perdebatan kawan-kawan Forum Mahasiswa & Pemuda Aceh Seluruh Indonesia (FORMAPA-SI) dengan BPSDM – Aceh berkaitan dengan Biasiswa atas pendidikan mereka, yang tidak ada transfaransi untuk perekrutan nya. ( Baca : Beasiswa BPSDM Aceh di Nilai Tak Transparan, Formapa – SI laporkan ke Ombusman RI ).

Dilain sisi mungkin kita banyak sepakat dengan ide berlian Kaisar Jepang Hiroto setelah pengeboman oleh Amerika Serikat Kota Hirosima dan Nagasaki, dirinya menyadari kelemahan mereka adalah dari segi pengetahuan maka yang pertama dia tanyakan saat mengumpulkan para jendral adalah “Berapa jumlah guru yang tersisa?”.

Dari sini dapat kita ambil banyak pembelajaran berkait dengan betapa mulianya seorang guru, betapa berharganya mereka untuk kemajuan negara ini, hanya gurulah yang mampu menyelematkan pendidikan, hanya mereka yang mampu membuat kepala kita tegak dan hanya mereka pula menjadi pahlawan saat nasib pendidikan kita di ujung tanduk.

Semoga, kita senantiasa berada di pihak “Pahlawan tanpa tanda jasa” ini.

*Penulis adalah seorang anak muda berasal dari Samar Kilang, yang dapat melihat “terang” nya dunia karena jasa Guru.

Comments

comments