by

TV dan Pertaruhan Moralitas Anak

Oleh: AS. Dewi*

 

Tidak diragukan lagi, apa yang akan terjadi dan apapun hasil yang berwujud pada masa yang akan datang merupakan karya cipta yang kita bentuk, diolah dan dirancang pada saat sekarang. Benih yang ditanam dengan baik, biasanya akan menghasilkan tanaman yang baik. Demikian juga pendidikan terbaik pada anak adalah prioritas penting yang seharusnya diberikan oleh para pendidik khususnya orang tua selaku pendidik pertama yang menanamkan fondasi dasar sebelum anak di cekoki berbagai macam ilmu dan terkontaminasi oleh budaya baru.

Abuddin Nata, Guru Besar Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam mengatakan bahwa ada dua amanah wajib yang dipesankan oleh Nabi SAW dalam Haditsnya tentang anak. Pertama, memberikannya nama yang baik, karena dalam nama yang baik terkandung do‘a. Kedua, keharusan memberikannya pendidikan yang terbaik. Mendidik dan membimbing anak memerlukan waktu yang panjang serta pengorbanan dari kedua orang tua. Anak merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri. Kehadirannya selalu dinantikan, keceriaan, kebahagiaan, cinta kasih keharmonisan rumah tangga rasanya belum terlengkapi jikalau tawa dan tangisan sang buah hati belum menghiasi bahtera ini. Wajar, bila banyak orang tua yang sangat menyayangi anak hingga terkadang lupa bahwa ia adalah titipan yang harus dikembalikan lagi kepada pemilik sebenarnya.

Pemenuhan hak dan kebutuhan anak menjadi tanggungjawab orang tua baik jasmani maupun spiritualnya. Untuk itulah perhatian terhadap pendidikan awal bagi anak secara sungguh-sungguh merupakan unsur penting dalam institusi ini. Apalagi situasi zaman yang tengah berkembang saat ini mengharuskan para orang tua untuk benar-benar tanggap dan cerdas terhadap segala unsur negatif yang dapat mempengaruhi anak. Proses pendidikan yang baik dan benar biasanya akan menghasilkan produk yang memuaskan pula.

Persoalan yang dihadapi dunia yang tengah tenggelam dalam kemajuan teknologi dan informasi saat ini ternyata menciptakan keresahan dan kegelisahan pada diri orang tua dan pendidik. Walaupun tak dapat dipungkiri segala kemudahan hidup kini dapat dirasakan dengan kemajuan multidimensional. Kalau dahulu orang baru mengetahui berita tentang jatuhnya pesawat di Columbia beberapa jam setelah kejadian, saat ini segala peristiwa dapat dilaporkan tepat pada detik itu juga. Semua ini merupakan dampak positif dari kehebatan teknologi informasi. Acungan jempol patut diberikan pada para ilmuwan yang telah bekerja keras menemukan alat-alat baru yang mempunyai manfaat besar bagi kemasyarakatan. Tapi jangan lupa banyak kekurangan dari teknologi yang mesti di waspadai juga.

Tuntutan untuk memberikan perhatian dan pengawasan yang lebih dari orang tua saat ini diperlukan oleh anak. Mengapa demikian? Dampak dari kemajuan teknologi informasi seperti televisi yang tidak hanya membawa segudang manfaat, tetapi perlu disadari betapa banyak korban ketidakpahaman dikalangan anak-anak, remaja, tua dan dewasa yang tidak tahu memilih dan memilah mana program yang cocok dan bermanfaat buat mereka. Hingga akhirnya mereka ditenggelamkan oleh pesona tubuh-tubuh indah nan molek yang memporakporandakan jiwa, adegan-adegan panas dingin turut disuguhkan, busana minim tentu saja tak ketinggalan. MasyaAllah, astaghfirullah…  terkadang ada letupan kata terucap dari bibir para pemirsa yang menyaksikan tapi sayangnya bukan beranjak untuk pergi dari tempat tersebut malah tambah merapatkan duduk mereka.

Hal yang paling disesalkan adalah justru orang tua dan anak bersama-sama menyaksikan tayangan demi tayangan yang mengundang nafsu birahi tersebut. Padahal jika dipikir seharusnya ada rasa malu antar anak dan orang tua, tetapi budaya inilah yang telah jauh hilang dari manusia yang hidup di zaman ini. Ini adalah realita dari salah satu sudut ruang TV sebuah keluarga Muslim. Kita belum melihat berapa banyak keluarga-keluarga yang demikian, lalu buat perhitungan berapa banyak para generasi muda kita yang akan menjadi pemimpin bangsa untuk beberapa dekade mendatang telah dikotori dan dirasuki oleh hantu-hantu yang akan merusak moral dan keyakinan mereka?

Ironis dan sungguh memilukan kalau bangsa ini dipimpin oleh seorang yang miskin agama, fakir akhlak mulia, jauh dari cahaya kebenaran. Kalau pemimpinnya sudah tidak benar, bagaimana pula dengan rakyat yang dipimpinnya. Mungkin pepatah lama tut wuri handayani dan  ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso akan tinggal pepatah saja. Lalu, apakah semuanya ini dibiarkan saja tanpa ada penanggulangan dan tindak preventif bahkan kuratif bagi korban yang telah jatuh. Tentu saja ada solusi dan cara yang dapat dilakukan khususnya bagi para orang tua dan pendidik yang lebih banyak frekwensi bertemunya dengan anak-anak.

Perhatian terhadap persoalan ini sebenarnya sudah banyak yang mengangkatnya ke permukaan seperti isu maraknya pemberantasan pornografi beberapa waktu lalu, permintaan dibentuknya undang-undang anti pornografi, tetapi dalam kenyataannya pornografi itu sendiri masih bebas gentayangan semaunya. Menyakitkan memang kalau dipikir untuk apa peraturan dan undang-undang jika kesadaran orang-orang untuk menghentikan perbuatan kotor itu tidak ada sama sekali. Bahkan semakin banyak cara yang ditempuh untuk dapat memasarkan kaset-kaset CD cabul dan mudah didapat. Semakin banyak pula manusia-manusia yang suka dipuji dan dinikmati keindahan tubuhnya, membuka bagian-bagian tertentu yang seharusnya terbungkus rapi tanpa lekukan. Anak dan remaja putri tidak merasa risih dan tidak hormat pada orang yang lebih dituakan seperti Ayah, Kakak laki-laki mereka dengan berpakaian yang mengundang keinginan kotor. Padahal agama telah menganjurkan untuk berpakaian sopan dan menutup bagian yang seharusnya ditutup bila berada didepan muhrim atau yang bukan muhrimnya. Inilah tugas berat bagi kita untuk dapat memperbaikinya dan memberantas prilaku yang menyesatkan tersebut, kalaupun sulit dilakukan karena semua tahu biasanya perlindungan terhadap kegiatan yang mempunyai asset yang banyak seperti pornografi ini juga cukup kuat. Ada cara lain yang dapat dilakukan oleh orang tua dan pendidik agar anak dapat terhindar dari pengaruh yang merusak moralitas.

Orang tua sebagai teladan

Tindakan dini yang perlu segera dilakukan oleh orang tua di rumah adalah langkah pro-aktif mengarahkan anak-anak pada tontonan yang mendidik dan bermanfaat. Tidak mungkin  melarang anak menonton televisi, apalagi ada acara yang mendukung pendidikan anak baik aspek kognitif (intelektual), afektif (sikap) dan psikomotor (prilaku). Arahkan dan beri pengajaran yang dapat dipahami oleh anak. Coba seleksi program mana yang memang bisa ditonton anak yang mendidik dan bermanfaat untuk mereka.

Kesesuaian antara usia dan program yang sudah pantas ditonton juga perlu menjadi pertimbangan orang tua agar tidak menjerumuskan anak dan mengakibatkan pematangan yang dikarbit. Pengkarbitan kematangan anak biasanya tidak memberi manfaat yang baik, apalagi pendidikan yang berkaitan seperti pendidikan seks sama sekali belum pernah didapat oleh anak. Bahaya seperti ini  harus diwaspadai oleh orang tua. “Partisipasi” orang tua yang justru nimbrung enjoy menyaksikan program-program “mesum” adalah andil orang tua menjerumuskan anaknya ke jurang kerusakan. Inilah yang dal hadits dikatakan Nabi bahwa orang tua bisa membentuk anaknya berwatak Islami, Yahudi, atau Majusi. Tindakan pro aktif di sini adalah mengarahkan mereka, bukan malah “meramaikan”.

Bila arahan kita tepat, justru media seperti televisi sangat efektif membantu orangtua dalam menanamkan nilai-nilai agama ke dalam jiwanya. Agama adalah fondasi yang harus sudah dikenalkan dan diajarkan pada anak sejak dini. Pastikan bahwa anak telah mengenal dan memahami dengan benar ajaran Islam sebagaimana tuntunan al-Quran dan hadits. Pendidikan dan pengajaran agama ini tidak hanya diupayakan pada kemampuan intelektual (cognitif) anak saja yaitu sebatas pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran agama semata, tetapi juga pendidikan dan pengajaran tersebut harus terwujud dalam sikap atau afektif anak serta terealisasi dalam prilaku dan keseharian anak.

Pada umumnya orang tua kurang memperhatikan dua aspek terakhir ini (afektif dan psiko-motorik) yang justru sangat penting bagi anak. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa pengajaran ilmu agama harus didahulukan pada anak sebelum mereka belajar tentang ilmu lainnya. Baginya al-Quran dan hadith Nabi sebagai pelajaran pertama yang harus dikuasai anak. setelah keduannya dipelajari dan dipahami oleh anak barulah ia diajarkan pelajaran lainnya seperti filsafat, astronomi, dan lainnya. Apapun profesi dan kecendrungan anak nantinya, tidak akan menyebabkan kerusakan moral dan prilaku anak serta penyimpangan atau penyalahgunaan ilmu pengetahuan. Jadilah mereka generasi dan ilmuwan yang shaleh dan bertaqwa. Demikian besarnya pengaruh dari penanaman fondasi agama pada anak, semakin kokoh ia ditanamkan, maka semakin tidak mudah pengaruh negatif merasuki para muda.

Solusi lain yang dapat dilakukan dari pengelola program televisi yang ada adalah menentukan jam tayang program-program yang tidak layak disaksikan oleh pemirsa dibawah umur untuk disajikan pada tengah malam tepatnya anak-anak sudah berada ditempat tidurnya masing-masing. Ada banyak pilihan yang seharusnya dikonsumsi oleh orang dewasa atau hanya patut ditonton oleh pasangan suami isteri saja salah satunya seperti montir-montir cantik dan lainnya. Karena bukan mustahil bahwa penyebab banyaknya terjadi pelecehan seksual terhadap anak maupun perempuan dan maraknya prilaku tidak senonoh adalah karena tontonan murahan tersebut.

Tindakan mencegah (preventif) agar moral generasi muda dapat diselamatkan merupakan langkah jitu karena tidak dapat disangkal mereka kelak akan menjadi pemimpin dan panutan bagi bangsa ini. Lalu apa jadinya bila semuanya menjadi orang-orang yang tipis iman dan rendah moralitasnya? Bukankah kita yang menjadi orang tua mereka yang seharusnya mengambil tindakan antisipasi sejak dini. Masa kita hidup tidak akan sama dengan masa beberapa puluh tahun ke depan. Kesadaran kita selaku orang tua sangat diperlukan saat ini.

 

*Guru Bahasa Inggris MIN Merduati, Banda Aceh, Mahasiswi S2 Pendidikan PPs IAIN Ar-Raniry.                

Comments

comments