by

Kol (Purn) H Mohammad Beni Bantacut BA “Perginya Sang Penggerak Yang Gesit”

Makam H M Beni Bantacut di Komplek Makam Orang Berjasa di Reje Bukit Takengon (Foto: Khalisuddin)

Salah satu makam yang ada di Taman Makam Pahlawan (TMP) Reje Bukit Takengon Kabupaten Aceh Tengah dengan kategori Tokoh Berjasa adalah makam mantan Bupati Aceh Tengah ke 10, Kol. (purn) H. Mohammad Beni Bantacut, BA yang menjadi orang nomor satu di Aceh Tengah di periode 1975-1985.

Berbagai upaya di tempuh Lintas Gayo untuk menemukan bagaimana kiprah tokoh ini hingga menemukan Bulletin Aceh “Hariye” Edisi XI Desember 1997 – Januari 1988 yang menulis bagaimana gesitnya pergerakan mendiang M Beni Bantacut dalam berkarir hingga menjadi Bupati Aceh Tengah.

Berikut salinan tulisan dirubrik In Memoriam halaman 53-54 yang ditulis Dwi Windu dan disunting Win Kobat/Rahmad Sanjaya serta foto Dok Hariye/Uan Daudy :

Mantan Bupati Aceh Tengah dua periode Kol. (purn) H. Mohammad Beni Bantacut, B.A, telah tiada. Kepergiannya menghadap yang khaliq, minggu, 21 Septembet 1997 pukul 07.50 WIB di RSAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, menimbulkan kesedihan bagi masyarakat Gayo, terlebih masyarakat Aceh Tengah.

HM. Beni Bantacut BA adalah satu-satunya putra Gayo yang menjadi Bupati selama dua periode tahun 1975-1985. Selama kepemimpinanya itu, berbagai gejolak muncul. Bagai ikan di air tenang menimbulkan riak, masanya pernah terjadi kesalahpahaman menjelang periode II. Aksi dari segelintir pemuda yang kurang senang terhadap kepemimpinan Beni, sempat beraksi. Padahal sebelum Beni dipercayakan masyarakat menjadi Bupati untuk kedua kalinya dia pernah “menyentil” kalangan yang mencoba mengacaukan programnya dengan pengibaratkan ber-bahasa Gayo, “Aku ini ibarat tersik wan paya, makin igoyang makin relem mupantik,” (Aku ini ibarat kayu yang menancap di rawa, semakin digoyang semakin dalam dan kuat). Disamping itu, Beni juga berhasil menciptakan stabilitas politik di Takengon tanpa menimbulkan gejolak yag berarti. Beni berhasil membersatukan kaum ulama dengan Teknokrat dalam menempati jajaran pengurus Golongan Karya Aceh Tengah. Ketika itu dikenal sebagai ‘pola kombinasi’.

Walau ada reaksi, Beni tak surut, melainkan terus bergerak memajukan kota depik ini. Keadaan itu mempertegas setiap reaksi dalam pembangunan selalu ada kekecewaan pihak yang dirugikan. Begitulah membangun, sampai suatu ketika Beni sempat berucap, “Yang diperlukan seorang pemimpin dalam membangun Takengon adalah Bidik, Cerdik, Lisik dan mersik,” Ujar Beni. Bidik berarti cepat, cerdik berarti pintar, Lisik berarti rajin, dan mersik berarti kuat.

Dalam kepemimpinanya pria kelahiran Aceh Tengah, 10 Oktober 1934 ini juga dirasakan banyak terjadi perubahan-perubahan, baik dibidang pendidikan dengan pembangunan beberapa sekolah yang ketika itu dirasa perlu. STM Pertanian dan SMA Negeri II (sekarang SMU 1 Kecamatan Kota) yang sudah menelurkan banyak sarjana itu adalah bukti keuletannya dibidang pendidikan. Begitu pula bidang inprastuktur, dimasanyalah pembangunan jalan darat banyak terlaksana. Salah satunya merealisasikan seputar Danau Lut Tawar menjadi berfungsi maksimal setelah digagas Bupati M. Isa Amin dan dijalankan oleh Nurdin Sufi. Selanjutnya disempurnakan Beni Bantacut. Kini, untuk berkeliling danau cukup ditempuh dalam waktu 1,5 jam.

Selanjutnya, semua yang diinginkan Beni “harus terwujud”. Obsesi Beni kala itu, tak berlebihan, memang ketika lepar dari tugas Ka. Biro Humas SU-V/Kodam I Iskandar Muda dengan pangkat Letda Infantri, tahun 1960, kemudaian menjadi anggota DPRD-GR hingga 1972, dan kaditsospol Aceh 1975, dan terpilih menjadi Bupati Aceh Tengah dua periode. Menjadi orang nomor 1 di Takengon tak lantas membuat ayah 5 orang anak yang rata-rata berhasil bidang pendidikan itu lupa kepada sahabat-sahabatnya.

Langkah pertama yang ditempuh adalah  mencari masukan-masukan baru tentang jabatan barunya. Adalah sesneg Moerdiono orang pertama yang bertanya kepadanya, apa kebutuhan masyarakat mu ? Oleh Beni ketika itu telah mempersiapkan jawaban yang kebutulan memang cita-citanya sejak lama. “Mesjid”!! Jawab Beni. Maka oleh Moerdiono, Beni dibekali “semangat” untuk mengajak masyarakat Takengon membangun Mesjid Raya bernama Ruhama di tengah Kota Takengon. “Sebelum dia dipilih menjadi Bupati Aceh Tengah, yang pertama dia katakan adalah bagaimana supaya Mesjid Raya Takengon bisa dibangun,” kata Affan Hasan, pensiunan pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang kebetulan sahabat sejak kecil Beni Bantacut.

Jabatan Bupati diemban Beni memang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dijalaninya. Setamat Sekolah Menengah Pertama di Takengon, Beni meneruskan SMA di Medan. Pengalaman menarik dari Beni di kota Medan ini ketika meletus DI/TII. Masa itu, Beni mengalami ekonomi sulit sakin sulitnya Beni sempat menjajakan rokok di Kampung  Keling Medan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tamat SMA lantas melanjutkan ke APDN Malang tahun 1959. lulus APDN terus masuk wajib militer, terakhir ikut militer sukarela (milsuk) di Malang. Di Malang, Beni termasuk anak muda yang “keras” menantang kebijakan yang melenceng. Setelah beberapa lama di Jawa, Beni ditugaskan ke Bukit Barisan. Dari sanalah karir Beni Bantacut terus menanjak.

Dari perkawinannya dengan Hj. Nursyiah, Beni di anugerahi 5 orang anak, yaitu Alfiansyah (S3 Teknik sipil di Jepang), Ihwansyah (S3 Teknik Mesin di Jerman), Berliana Utami SH, Sora Yanti Utami (S2) dan Alfis Syahrin (baru lulus S1 elektro Muhammadiyah).

Semasa Beni memimpin Takengon, mungkin dialah satu-satunya Bupati Takengon yang berhasil melakukan dialog dengan masyarakat Gayo perantauan tentang pembangunan daerah. Beni terbilang gesit membela Takengon, sehingga oleh teman-temannya ia dijuluki si penjemput bola.

Ketika Anggaran untuk pembanguna Takengon tersendat di Tingkat I, Beni-lah yang berhasil melakukan lobi di tingkat pusat. Dia lihai memanfaatkan sahabat-sahabatnya yang ada di pemerintahan, yang kebetulan banyak satu kelulusan dari APDN.

Kini dia telah tiada. Kenangan tentang dia begitu besar. Setidaknya ketika masyarakat Gayo berkesenian di Gedung Olah Seni Takengon, namanya menjadi terukir sebagai Bupati yang pernah dekat dengan seniman. Bagitu pula dikalangan olahragawan, programnya membangun stadion bukti kongkrit akan klebersamaan di bidang olah raga. Demikian pula program penempatan Transmigrasi, sehingga disana dijumpai  kemajuan pertanian. Seiring dengan itu, dia pula tokoh yang menggerakkan kemajuan koperasi di Aceh Tengah.

Namun, gagasan-gagasan yang pernah digulir Beni Bantacut banyak yang tak produktif lagi. Bahkan tidak sedikit pula yang nyaris ditinggalkan, seperti melupakan betapa perlunya lokasi tempat seniman berkarya, atau betapa perlunya dilahirkan simbol-simbol yang dapat membangkitkan semangat masyarakat untuk mengembangkan budayanya. Apakah ini suatu isyarat, peninggalan berharga dari sang penggerak sudah mencukupi sehingga tak perlu diluaskan lagi.

Dalam karirnya Beni berhasil memperoleh empat tanda jasa Satya Lencana GOM-VII, Satya Lencana Siaga, Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun, Satya Lencana Wira Dharma, Satya Lencana Penegak, dan Satya Lencana Kesetiaan 16 Tahun.

(Tim LG/03)

Comments

comments