by

Pustaka Gayo

Acara Keberni Gayo di Aceh TV, Jum’at (23/09) menyapa pemirsa dengan tema “Literatur Kebudayaan Gayo”, nara sumber yang dihadirkan adalah dua orang budayawan Gayo LK Ara dan Salman Yoga.

Pembahasan tentang kebudayaan yang merupakan kreasi manusia mengawali pembahasan, dimana mereka menyebutkan bahwa kreasi seseorang sangat erat hubungannya dengan tempat tinggal, bahasa dan pola kehidupan masyarakat yang mengitari manusia itu sendiri.

LK Ara yang mempunyai pengalaman menulis sejak tahun 1972 dan sampai saat ini masih produktif, mengatakan suka duka sebagai seorang penulis, ketika pada tahun pertama menggeluti profesi kepenulisannya mendapat penghargaan secara lisan dari masyarakat pembaca. Penghargaan yang ternilai dengan uang membuat beliau semakin terdorong untuk banyak menulis, karena juga menurut beliau kepuasa sang penulis adalah ketika tulisannya di baca oleh orang.

Tulisan di stensil dan didiling pada kerta gadung, diantar kepada mereka yang menurut beliau mau membacar, akhirnya tidak hanya mengatakan pak LK ini “hebat” tapi juga mendapat hadiah satu rem kertas untuk melanjutkan tulisannya.

Melihat perkembangan dari tulisan yang ada Salman Yoga mengatakan Pak LK termasuk kedalam kelompok pertama orang Gayo yang menulis di samping Yunus Melala Toa dan penulis lainnya. Penulis penulis lain juga Gayo lain juga masih banyak yang mewarnai literature yang beredar, seperti halnya Mahmud Ibrahim, kendati beliau mulai menulis dalam usia senja. Tapi banyak insprirasi pemikiran kaum muda Gayo yang diwarnai oleh tulisan beliau.

Tafsir Gayo yang ditulis oleh Abdurrahim Daudi, mempunyai kelas internasional. Diterbitkan oleh lembaga penerbit Mustafa al-Baby al-Halabi Kairo-Mesir, didalamnya kita temukan bagaimana pada saat itu orang Gayo masih sangat kental dengan kehidupa mitos, masyarakat masih percaya dengan kekuatan azimat untuk mengusir kekuatan makhluk halus, masih adanya kepercayaan pada benda-benda yang mempunyai kekuatan ghaib. Dalam taftis ini beliau berusaha mengajak masyarakat  dengan pembuktian dalil al-Qur’an dan Hadis untuk meninggalkan kebiasaan yang tidak baik tersebut.

Kalau kita memperhatikan objek dari tulisan yang ditulis oleh penulis Gayo banyak berbicara tentang budaya, ini artinya mereka yang menulis ada budayawan. Sedangkan buku-buku yang ditulis oleh mereka yang bukan orang Gayo seperti Snouck Hurgronje dan Jhon R Bowwen, melihat Gayo dari sudut antropologi, karenanya mereka banyak berbicara kehidipan orang Gayo. Sangat sedikit kita temukan tulisan yang berbicara tentang kehidupan masyarakat dari sudut pandang sosiologi.

Akibatnya menjadikan generasi sekarang tidak lagi mengenal bagaimana strutur kehidupan masyarakat, mungkin tidak hanya itu. Tulisan-tulisan tentang ilmu pertanian, peternakan, pertukangan tidak bisa kita temukan.

Banyak lagi tulisan yang kita tidak bisa hafal tentang Gayo dan penulis yang berasal dari Gayo, mungkin karena keterbatasan kita atau juga karena kepedulian tentang hal-hal yang menurut sebagian orang perlu dan orang lain tidak perlu. Karena juga yang kedua nara sumber pada malam ini budayawan, dan untuk kejian leteraur ini masih diperlukan dari disiplin ilmu yang lain sehingga satu saat komprehensif pengetahuan kita tentang Gayo dari segi literature.

Mr. Daud Ali penulis Gayo yang banyak menulis terntang hukum, pemikiran beliau sangat mewarnai pelaksanaan Peradilan Agama di Indonesia, diantara upaya beliau adalah supaya pernikahan itu sah harus dicatat, perceraian yang sah harus di depan pengadilan dan lain-lain. (JM Ungel)

Comments

comments