by

Cara Panen Kopi Petani di Gayo

Minggu (30/10) dipinggiran Kabupaten Kopi Aceh, terlihat ramai. Tapi di Takengen, aktipitas terlihat sepi. Sementara di pinggiran Kota, Kecamatan Kebayakan, seperti Kampung Paya Tumpi, Paya Reje, Wihni Kuli, Rebe Gedung hingga Kebun Makmur, pagi itu terlihat lebih ramai.

Pasalnya, Minggu adalah hari ke kebun. Bagi warga Takengon, pergi ke kebun di hari libur merupakan “kewajiban”. Tak heran, Minggu menjadi ramai. Jika di hari kerja, mereka yang bekerja di pemerintahan, polisi, militer dan swasta lainnya berpakaian dinas, dihari Minggu, pakainnya lebih bebas bahkan terlihat kotor dan di bagian tertentu berwarna coklat karena getah.

Tak heran jika satu kenderaan roda dua penumpangnya bisa mencapai empat orang. Sekali angkut  satu keluarga.  Keadaan ini disebabkan perumahan penduduk dan kebun berjauhan. Kebun berada di lereng atau dikaki bukit.

Ada yang berjalan kaki sambil membawa peralatan tani. Cangkul, parang atau sprayer serta mesin babat. Sebelum sampai di kebun para petani ini singgah dahulu di kios–kios sembako terdekat yang umumnya adalah  Ruki (Rumah Kios).

Beberapa makanan yang sering dibeli petani untuk bekal di kebun seharian antara lain, mie instant, ikan asin, bubuk kopi serta gula. Di akhir bulan Oktober tahun ini, kebanyakan petani Gayo yang pergi ke kebun untuk panen kopi.

Seperti yang dilakukan salah seorang petani di Wihni Kuli. Namanya Inen Tauhid. Ibu berputra tiga ini panen kopi. Dalam bahasa Gayo disebut “Ngotep”. Ditemani sang Suami, biasa dipanggil Aman Tauhid. Padahal nama asli Aman Tauhid adalah Dirum Solahri.

Dalam tatanan adat masyarakat Gayo, seseorang yang belum menikah, dipanggil dengan nama aslinya. Tapi setelah menikah dan belum punya anak, namanya diganti menjadi Aman Mayak. Nah setelah punya anak, nama anak sulungnya (Siulubere) dinabalkan menjadi panggilan suami dan istri. Jadilah Dirum Solahri kini disapa Aman Tauhid dan Inen Tauhid. Nama aslinya tak pernah disebut lagi.

Terkadang, jika seseorang menanyakan alamat dengan menyebut nama asli seseorang yang sudah berkeluarga, akan timbul masalah. Karena tak banyak warga Kampung yang tahu nama seseorang yang sudah berkeluarga.

Jadi , secara adat   nama asli warga Gayo, berubah berdasarkan status terakhirnya.Kebanyakan petani kopi di Gayo memiliki rumah kecil di kebun. Biasa disebut Jamur. Tangan Inen Tauhid bergerak cepat. Satu persatu buah kopi yang merah dipetiknya.

Kedua tangannya, kanan dan kiri sama cepatnya. Saat kopi dalam genggamannya penuh, Inen Tauhid memindahkannya kedalam tas yang dibawanya. Tas untuk buah kopi ini dibuat dari bekas karung plastic yang diikatkan ke badannya.

Jika tas ini  penuh, tak jauh dari tempatnya mengutip,  ada karung sebagai wadah buah kopi.Tangan Inen Tauhid seperti sedang memainkan dawai-dawai harfa yang senarnya begitu banyak. Lincah memindahkan buah kopi merah dari batang kopi ke tas dan karungnya.

“Jika sedang musim panen seperti sekarang, biasanya tetangga ikut membantu panen kopi”, kata Aman Tauhid yang menghidupkan api di Jamurnya. Api di kebun, jelas Aman Tauhid merupakan symbol dan tanda.

Api sebagai Simbol yang menandakan bahwa di kebun ada orang. Juga sebagai alat mengusir nyamuk serta babi sebagai hama. Karena semua keluarga berada di kebun. Dalam satu hari, Inen Tauhid mampu mengutip kopi sampai delapan hingga sepuluh kaleng. Satu kaleng takarannya kira-kira 12 Kg.Demikian juga para tetangganya yang disebut “man ongkosan” bersamanya.

“Satu tem (kaleng) ongkosnya Rp.15 ribu”, ungkap Aman Tauhid. Mengutip kopi secara tradisional di Gayo adalah mengambil semua kopi yang sudah berwarna merah. Walaupun belum merah sempurna. Terkadang hijau sekalipun, asala ada warna sedikit merah, akan dipetik.

“Tidak ada ketentuan dalam mengutip kopi. Asal merah, walau sedikit saja, akan dipetik”, papar Aman Tauhid. Selama ini, lanjutnya, tidak ada keluhan dari para agen kopi yang membeli kopi mereka terhadap pola pengutipan seperti ini.

Meski beberapa petani , ada yang sudah membiasakan diri hanya mengutip kopi yang benar-benar merah saja. Jika kopi dijadikan kopi olahan, seperti kopi roasting dan kopi bubuk, panen kopi sangat menentukan kualitas rasa.

Jika kopi yang belum merah sempurna dipanen, kemudian dijadikan kopi roast, akan menimbulkan cacat rasa. Demikian halnya kopi yang busuk karena hama. Mereka yang menjadikan kopi sebagai kopi olah di Takengon, umumnya melakukan seleksi buah kopi.

“Beberapa lokasi yang diyakini menghasilkan kopi terbaik di Takengon dan Bener Meriah akan ditandai dan beberapa petani dibina”, ujar seorang pengusaha kopi di Bener Meriah. Kepada petani ini diajarkan agar hanya memanen kopi yang telah benar-benar matang saja.

Kopi ini kemudian diambil dan diolah dengan beberapa tahapan. Pertama, kopi merah ini direndam dalam air. Yang mengapung, biasanya adalah kopi rusak karena hama penggerek buah  atau biji yang tidak sempurna.

Kopi merah yang mengapung ini dipisahkan dan diolah terpisah. Kopi yang benar-benar tenggelam di air lalu diolah dengan memisahkan kulit merahnya, tidak lama setelah dipetik. Kemudian difermentasikan. Umumnya fermentasi di Takengon selama 12 jam.

Setelah difermentasi, kopi gabah ini kembali disortir. Kopi dimasukkan kedalam bak pembersihan. Kopi gabah yang terapung, dibuang atau diolah terpisah. Biasanya di Takengon langsung dibuang karena dianggap kopi pesel atau kopi sampah (Terase).

Kopi dibersihkan dari hasil fermentasi hingga benar-benar kesat. Setelah dianggap bersih barulah dijemur. Nah disini, ada dua cara yang dilakukan para pengolah kopi untuk dijadikan bubuk atau kopi roasting.

Cara pertama, kopi gabah ini dibiarkan kering hingga kadar air 12-14 persen, lengkap dengan kulit tanduknya. Cara kedua, kopi gabah ini dijadikan kopi labu (tanpa kulit ari). Barulah dijemur kembali hingga kadar kekeringan airnya tinggal 12 persen.

“Saya percaya rasa akan lebih baik jika kopi dikeringkan dalam bentuk gabah sebelum diolah jadi kopi roasted atau bubuk dibandingkan dengan menjemur dalam bentuk biji tanpa kulit tanduk”, kata Aman Shafa, seorang pelaku kopi olahan.

Para petani kopi yang bekerjasama dengan pengusaha kopi olahan, biasanya akan menjual kopinya lebih tinggi dalam satu kalengnya. Jika kopi biasa dibeli dengan harga Rp.100 ribu/kalengnya. Kopi yang benar-benar matang, dibeli antara Rp.120 -130 ribu/kalengnya.

Penjemuran kopi yang akan diolah biasanya lebih spesifik. Yakni diatas para-para atau wadah jemur diatas tanah yang tingginya diatas 1 meter atau lebih. Setelah kering, kopi yang masih memiliki kulit tanduk ini dipisahkan dengan kulit tanduknya. Seleksi kopi terbaik arabika Gayo belum berhenti sampai disini.

Kopi green bean ini kemudian diseleksi lagi. Dalam istilah Takengon disebut Depe . Kopi yang rusak karena busuk, walau sedikit saja, akan dipisahkan. Demikian juga kopi yang pecah atau terbelah. Jadi kopi yang akan di roast benar-benar kopi terbaik.Kopi seleksi ini biasanya disebut Grade 1.

Namun sayangnya, karena alat roasting sangat mahal. Hanya ada beberapa pengusaha saja yang mampu memasuki segmen pasar kopi roasted ini atau kopi bubuk. Keadaan ini diperparah, minimnya modal penduduk asli dan kemudahan mengakses bank.

‘Kemasan kopi yang baik adalah kopi olahan yang dikemas dengan bungkus kedap udara, seperti alumunium foil”, kata Aman Shafa. Untuk semua itu , diperlukan modal yang besar dan konsistensi usaha.

Kedepan, segment usaha kopi di kopi olahan masih terbuka lebar dan potensial. “Takengon adalah penghasil kopi terbaik. Kita jangan lagi menjual kopi biji. Kalau kopi biji sudah dilakukan sejak zaman Belanda dahulu. Sekarang harus masuk segment pasar kopi olahan”, kata Zainul Purba, Kabid Perdagangan.

Apa yang diungkapkan Zainul tentu saja sangat benar. Sejak Zaman Belanda, kopi sudah dibawa keluar dan dijadikan komoditi eksport Belanda ke Erofa. Belanda menyebut kopi sebagai product of future kala itu. Dan terbukti hingga kini.

Bahkan Belanda mengeksport kopi bersama teh dari Bener Meriah dan getah terpentin (dari Pinus mercusi). Belanda membuat perkebunan kopi secara resmi dengan metode modern dengan pengawasan yang ketat. Dari segi budidaya hingga eksport dengan pola perkebunan negara.

Menurut beberapa pengamat kopi Gayo di Takengon, persoalan kopi adalah persoalan klasik. Dimana kopi masih dijual dari Takengon berupa kopi biji. “Seharusnya pola ini dirubah. Sudah saatnya bahan baku atau bahan mentah kopi tidak lagi dijual keluar. Tapi sudah kopi olahan”, kata seorang pns yang tak mau disebut namanya.

Selain itu, lanjut lelaki jangkung ini, tahun depan sudah saatnya dibangun resi gudang di Takengon dan menjajaki pasar lelang. Selain itu tambahnya lagi, selain kopi, komoditi terkenal dari Dataran Tinggi Gayo adalah sayuran dan bunga.

Untuk semua itu, perlu pemanfaatn Cold storage dan Cold Box. Caranya, di beberapa daerah di Aceh dan Sumatera, Pemda melalui BUMD yang idealnya dibuat, membuat toko-toko hortikultura sebagai jawaban atas fluktuatifnya harga hortikultura di tingkat petani dan acapkali dibuang saat panen karena anjloknya harga.

“Kita semua sudah tahu persoalan kopi dan hortikultura di Takengon, untuk itu diperlukan tindakan nyata menjawab semua persoalan itu, bukan lagi berteori dan menjual bahan baku mentah dari produk unggulan ini”, cetusnya.

Saat ini, Cold Storage yang dibangun di era bupati Drs. Mustafa M.Tamy, dijadikan gudang. Padahal ratusan juta uang daerah pernah dipakai membangun Cold Storage ini bersama Cold Box yang kini entah dijadikan apa.

“Kedepan, kita seharusnya melatih sebanyak-banyaknya  Q grader serta cupper untuk menjaga kualitas kopi Gayo. Dengen demikian, kita bisa mempersiapkan kopi bagi konsumen dunia, sesuai selera mereka”, sebut pns ini.

Dengan banyaknya ahli kopi olahan dari warga Takengon, kedepan, kopi sebagai napas rakyat Gayo, dari hilir ke hulu bisa dimasuki penduduk Gayo , bukan saja orang luar yang mengambil segmen ini. Kita semua bermimpi, gerai kopi Gayo akan tumbuh di antero Nusantara, lengkap dengan outletnya di kota-kota besar Indonesia bahkan dunia. Beranikah kita merevolusi kopi…?, bila tidak, kita ketinggalan 100 tahun lebih dibandingkan Belanda.

Saat ini rakyat Gayo membutuhkan ketegasan kebijakan tentang kopi. Harus Top-Down , bukan sebaliknya. Bila juga tidak, kita semua perlu cuci otak. Dari otak proyek ke otak bisnis .Karena SDA kopi arabika ini begitu luar biasa. Terbesar di Asia . Tapi juga sangat hina di tanahnya sendiri akibat pembuat kebijakan , sang eksekutor  yang tidak paham arti penting kopi dari tanah Gayo di perdagangan dunia .

Ada yang salah dari cara kita berpikir dan bertindak terhadap kopi Gayo. Soal ini, Belanda dahulu jauh lebih hebat. Lantas dari semua fakta dan sejarah ini, hanya satu kata “Revolusi Kopi Gayo”, lain tidak. Bismillah.(Win Ruhdi Bathin)

Comments

comments