by

Asyiknya Jadi Wartawan (6) : Ke Jepang, Berkat Menulis Dunia Fantasi

Oleh : Lukman Hakim Gayo

—–

Foto bersama Ir Ciputra

Pengalaman luar negeri pertama kali adalah ke Negeri Sakura.  Ketika itu, tahun 1986, Dunia Fantasi Taman Impian Jaya Ancol (Dufan-TIJA) baru dibuka. Sekaligus mengadakan sayembara menulis untuk para wartawan. Mereka mendapat undangan gratis. Saya hanya mendapat tulisan kecil dari Pak Ir Ciputra ketika bertemu di sebuah pameran. Tulisan itu ditukar dengan lima undangan untuk masuk Dufan.

Karena sayembara, maka semua yang saya lihat saya catat. Termasuk yang terkencing-kencing ketika naik Kora-Kora, permainan baru di Indonesia. Hampir semua permainan di Dufan tergolong baru. Belum pernah ada permainan itu di lokasi hiburan manapun. Hasil menikmati semua mainan  itu saya tulis, dan, saya menang. Tulisan edisi Inggris dimenangkan oleh Syahbudin Hamzah dari Indonesian Time dan foto terbaik dimenangkan oleh Frans dari IPPOS. Akhirnya kami bertiga berangkat ke Jepang menikmati  hadiahnya.

Besoknya kami bertiga ke TIJA lagi menghadap direktur. Saya gusar karena tidak punya tas dan rumah jauh. Padahal pesawat berangkat dari Cengkareng pukul 08.00 pagi.. Lalu ia memberi bekal 100 dollar masing-masing. Saya tukarkan uang asing itu dan saya beli perlengkapan seperti kopor kecil, tas gantung dan pakaian kecil. Sisanya buat pegangan isteri.

Terus terang, naik pesawat asing, baru sekali ini saya alami. Japan Air Line (JAL) menerbangkan kami jam 8.00 pagi. Dingin, memang. Karena itu, saya disarankan memakai jas, termasuk di dalam pesawat yang besar itu. Saya diapit oleh seorang Jerman di kanan dan ’orang kita’ di kiri. Kesempatan belajar dialog bahasa Inggris, kata saya. Tapi, untuk memulai, tetap saja tidak berani. Dasar, kampungan.

Ketika pramugari menawarkan sarapan pagi, saya bingung. Aksennya tidak jelas, membuat saya tergagap-gagap. Tapi sambil senyum, saya menganggukkan kepala. Artinya, sama dengan teman sebelah saya. Saya ceritakan, saya mendapat undangan ke Jepang untuk beberapa hari. Selain Tokyo, kami juga akan mengunjungi beberapa kota industri.

Pesawat berhenti di Singapura. Semua penumpang turun untuk beberapa jam, karena pesawat mau dibersihkan. Saya benar-benar kagum. Dalam hitungan beberapa detik, pekerja di bandara Changi itu menyerbu pesawat dengan alat pembersih di tangan masing-masing. Hanya dalam sekejap, perut pesawat yang buncit itu benar-benar bersih dari sampah. Kami naik lagi, dan, pesawat berangkat.

Di Hongkong, kembali berhenti agak lama. Beberapa penumpang transit, meneruskan perjalanan dengan pesawat lain. Kata orang, di kota ini barang-barang elektronik murah harganya. Kami berjalan di deretan pertokoan airport Hongkong. Mungkin itulah yang membuat pesawat kami agak malam tiba di Narita, airportnya kota Tokyo. Rasanya, kami bertiga penumpang terakhir di bandara internasional itu. Semua pendatang sudah meninggalkan bandara. Sepi. Tidak tampak para kuli pengangkut barang. Tidak kelihatan calo yang menawarkan taksi.

Kami berjalan gontai sambil menarik kopor masing-masing. Bengong, karena tidak tahu mau bertanya kemana. Sampai akhirnya, polisi airport mendekati kami. Lalu ia memanggil taksi. Ia menuliskan sesuatu  dan menyerahkannya kepada sopir taksi. Berkat jasa polisi yang santun itulah, taksi kami meluncur ke kota Tokyo. Kami berhenti di depan hotel megah, Ginza Dai Ichi Hotel. Ginza adalah kawasan pertokoan terpadat di kota ini.

Sopan santun orang Jepang.

Hotel mewah, juga baru sekali ini saya alami. Bukan hanya soal petiduran yang disediakan, tetapi juga perlengkapan memasak kalau tidak mau makan di restoran. Hiburan malam kelas dewasa ada di televisi, hanya dengan memasukkan koin beberapa yen. Tapi, di laci ada buku agama Shinto, agama orang Jepang. Kagum dan mengherankan. Di tengah kemewahan ini masih ada penuntun moral sesuai dengan  agama mereka.

Kemewahan sebuah ruangan, telah mewarnai hidup saya. Kunci kamar hanya dengan sebuah kartu yang telah ”diisi” untuk beberapa hari. Pintu kamar tidak akan bisa dibuka lagi, apabila sudah habis masa berlakunya. Yaitu, selama kita bermalam di hotel ini. Bukan itu saja. Kamar mandi tanpa kran. Air akan keluar sendiri ketika berdiri dibawah pancuran. Ruarrr biasa.

Terus terang, budaya Jepang baru sekali ini saya lihat dengan mata kepala sendiri. Setiap pagi,  dua orang petugas berdasi siap di pintu loby. Keduanya membungkukkan badan sampai sembilan puluh derajat, kalau ada yang masuk atau keluar dari pintu itu. Bukan dibuat-buat. Tapi benar-benar sebuah penghormatan kepada tamu. Belakangan saya lihat, penghormatan itu tidak hanya di hotel, tetapi juga di pintu sejumlah toko. Pengunjung membeli atau tidak.

Saya mendapat kamar di lantai 14. Pagi-pagi melihat ke seputar kota Tokyo, adalah pemandangan yang menakjubkan dari jendela yang tinggi itu. Inilah kota termahal di dunia. Biaya hidup yang tinggi, kemajuan yang mengagumkan, tetapi dengan penduduk yang penuh sopan santun. Jam enam pagi, ketika itu. Saya melihat karyawan berlari sambil memakai jas dan memasang dasi mereka. Kemudian hilang. Ternyata mereka turun masuk terowongan melalui tepi jalan raya itu. Mereka naik sub way.

Ketika kami mencoba berjalan kaki seputar hotel, hampir semua karyawan perusahaan berolah raga di depan kantor mereka. Setiap pagi, sebelum mulai bekerja. Mereka tahu kami orang asing, lalu melambaikan tangan sambil berolah raga itu. Kami mencoba berjalan kaki, sejauh yang bisa dicapai. Baru kemudian pulang ke hotel dengan menunjukkan alamat hotel dalam huruf kanji, kepada sopir taksi. Maklum, sopir taksi jarang mau menggunakan bahasa Inggris.

Tokyo sedang dingin. Saya terpaksa memakai jas setiap hari kemana-mana. Karena kami merupakan tamu dari Dufan, tentu saja ikut terus dengan rombongan Dunia Fantasi itu. Mereka sudah menyediakan bis besar bertingkat, dilengkapi dengan meja konfrensi. Sambil melihat pemandangan Tokyo, pak Ciputra selaku ’Bos’ Dufan berbincang-bincang dengan kami. Hari ini kami dibawa ke Tsukuba (Cukuba) melihat pameran internasional tehnologi Jepang.

Tsukuba sekitar 30 km dari kota Tokyo. Ketika itu sedang berlangsung pameran elektronik terbesar di dunia. Bukan hanya pabrik elektronik dan produknya, tetapi juga pertunjukan dan berbagai permainan serta hiburan tersedia di areal ratusan hektar itu. Lagi-lagi saya kagum dengan budaya Jepang. Di beberapa gedung pertunjukan yang loketnya dibuka dua jam sekali, para pengantri membawa kursi masing-masing. Mereka duduk sambil membaca menunggu loket dibuka. Luar biasa.

Dengan karcis masuk beberapa Yen, kami menelusuri satu persatu. Rasanya seperti berada di abad ke-30, setelah melihat kemajuan elektronik di Tsukuba ini. Mulai dari pameran robot, otomotif, alat rumah tangga sampai kepada korek api gas. Sebagian besar buatan orang Jepang. Saya membeli beberapa keperluan kecil, yang di Jakarta belum saya temukan.

Esoknya kami berangkat ke Urayasu, menggunakan kereta ekspress. Pengalaman yang menarik lagi di stasiun kereta. Hampir semua serba otomatis. Baik membeli tiket kereta sub way maupun kereta ekspress. Tidak ada petugas loketnya. Bahkan loketnyapun entah dimana. Kita cukup dengan memasukkan uang dan menekan tombol tujuan. Karcis akan keluar berikut kembaliannya. Semua dengan mesin. Demikian juga dengan tiket bis kota. Namun demikian, tak seorangpun yang sok preman, lalu tak membeli tiket. Padahal, tidak ada petugas penjaga pintu di stasiun itu.

Urayasu adalah kota kecil tempat Tokyo Disneyland yang kesohor itu. Di samping pintu masuk ada box berjejer dalam jumlah yang banyak untuk menyimpan barang-barang. Beli koin, lalu masukkan ke pintu box, kemudian kita dapat mengambil kuncinya. Kunci dibawa sendiri selama berada di Disneyland itu. Kami mencoba menelusuri Taman Impian Tokyo ini. Ternyata luasnya lebih dari empat kali Dufan di Ancol. Demikian juga dengan wahana permainan, ketangkasan, olah raga dan pengetahuan. Bahkan ada beberapa wahana yang belum dibangun di Dufan.

Kami berusaha mengunjungi semua wahana, sedapat mungkin menikmatinya. Sebab, kami sudah memiliki karcis terusan. Satu diantara wahana itu yang menarik adalah kereta hantu. Kita duduk seorang diri dalam sebuah kabin sambil berkeliling taman luas itu. Tetapi ketika kita melewati kaca cermin yang besar, ternyata kita duduk dengan hantu. Ngeri, sejenak. Selepas kaca cermin itu tidak lagi.  Kami mencoba naik kereta luncur dalam gedung yang gelap gulita. Mengerikan dan menyenangkan. Sebab, ketika meluncur tajam, kereta berbelok nyaris melemparkan penumpangnya. Tak sempat bersiap-siap, karena suasana yang gelap gulita.

Rasanya, beberapa hari di Jepang telah membuat kami benar-benar di alam mimpi. Belum puas kalau hanya satu dua hari. Akhirnya kami perpanjang sampai satu minggu dengan tanggungan sendiri. Kami terpaksa berpindah hotel dan membatalkan bookingan pesawat. Mundur dari tanggal semula untuk beberapa hari, karena kami menunda kepulangan. Hanya karena ingin berlama-lama di kota Tokyo. Siapa tahu tidak ada lagi kesempatan semacam ini. Menelusuri beberapa kampus, perpustakaan, toko buku, pertokoan bawah tanah, sub way dan pasar Tanah Abangnya Tokyo. Asyik juga, ternyata.

Kami terpaksa bermalam di hotel paling murah. Kalau tadinya membuka pintu kamar dengan kartu electrik, kini dengan kunci biasa. Suatu kali saya perhatikan si pemilik hotel sarapan pagi. Ia pasti petinggi penting di kota ini. Dengan pakaian lengkap, didampingi isteri yang memangku si kecil, mereka sarapan di restoran mini hotel itu.

Isterinya membubuhkan nasi panas ke dalam mangkuk. Lalu memecah telor dan ditumpahkan ke nasi panas itu. Diaduk sedemikian rupa dengan sumpit, sementara sang suami membereskan jasnya. Barulah makanan diberikan kepada suaminya. Ia menunggu sampai suami selesai makan. Kemudian ia bangun dan membawakan tas suami sampai ke depan halaman. Luar biasa mesra dan setianya.

Keluarga kecil ini, menjadikan rumah besarnya untuk hotel dengan beberapa kamar di bagian atas. Menjadikan separuh garasinya untuk restoran mini, khusus untuk tamu hotel. “Maaf, saya tidak lancar berbahasa Inggris. Kami tidak suka belajar bahasa Inggris, dan, di hotel ini kebanyakan domestik yang kemalaman pulang ke rumah mereka,” kata si isteri pemilik hotel itu kepada kami dengan penuh sopan dan ramah, tentang usahanya ini.

Terus terang, selama di Jepang, hampir tidak pernah menginjak tanah. Semua jalan beraspal, meski kadang-kadang bosan dengan taksi. Kami juga mencoba bis kota, tapi lebih sering berjalan kaki. Rumah penduduk kecil-kecil, mereka memelihara tanaman di lantai dua. Ketika berjalan itulah, saya dikejar oleh seorang ibu. “Indonesia?”, katanya. Rupanya ia mencium rokok bercengkeh khas Indonesia. Lalu dia minta satu batang.

Suatu pagi kami menuju Tanah Abangnya Tokyo. Sebuah gerobak mie rebus tengah diantri calon pembelinya. Aneh, para pengantri ada yang membawa kursi lipat. Duduk sambil membaca, menunggu giliran. Sebagian besar makan mie sambil berdiri, berbaris mengelilingi si tukang mie rebus. Kami ikut berdiri, antri.

Ketika kami ke airport, sudah sedikit lincah. Saya menuruni bandara Narita sampai lantai dasar sekedar ingin tahu. Alamak, rupanya enam lantai. Saya tidak menjumpai kuli pengangkut barang. Tidak ada calo. Semua tertib dan penuh kesopanan khas Jepang. Salam dengan membungkukkan badan, meskipun sesama mereka. Mereka benar-benar hidup secara Islami, meski agamanya bukan Islam. Selamat tinggal Tokyo.

Beda dengan Tokyo. Jakarta yang panas, Airport yang penuh calo menawarkan jasa angkat barang dan taksi gelap. Rasanya seperti terbangun dari mimpi yang indah. Mimpi yang tak terulang dua kali.. Rasa syukur tidak putus-putusnya kepada Allah, karena telah memberi kesempatan kepada saya melihat dunia lain. ”Ya Allah, Kau tunjukkan kebesaranMU. Aku tidak tahu kapan lagi akan berangkat ke sana.” Ah, asyiknya jadi wartawan….

—-

*Wartawan asal Gayo, tinggal di Jakarta

Comments

comments