by

Keep Smile Michiel..

“Keep smile Michiel Tieleman”, kataku pada sahabat baruku dari Belanda. “Tahukah kamu Win, senyum terkadang demikian sulit….”, kata Michiel sambil menyalami aku dan menaiki L300 menuju Belang  Kejeren di pagi  Senin , pukul 9.45 menit.

Michielpun pergi, mengembara. Dari satu kota ke Kota lainnya. Bukan saja di Sumatera, tapi juga ke bagian lain dunia, membawa diri dan kisahnya…

….

Satu hari satu malam bersama Michiel bagiku merupakan seperti menambah ilmu. Banyak hal yang aku tidak tahu kehidupan di Belanda sana, tergambar jelas dari apa yang diungkapkan lelaki jangkung bujangan ini. Bagiku setiap cerita dan kisah hidupnya menjadi referensiku. Sangat berarti tentang kisah hidup dari ras dan geographis yang berbeda. Tentang cara hidup, berpikir dan bertindak.

Susah dan kerasnya mencari pekerjaan yang baik dengan gaji yang lumayan, tentu menjadi harapan banyak orang. Tak terkecuali Michiel. Berbagai jenis pekerjaan dilakoninya di Belanda. Dari supir Truk hingga desain graphis dan mengantar paket kiriman.

Michiel mengumpulkan dan menyimpan sebagian uangnya. Setelah hampir sepuluh tahun menabung, Michiel  mulai pengembaraannya. Srilangka, kemudian Indonesia dijambanginya. Mencari hal baru dan keluar dari rutinitas yang membuat suntuk.

Di Srilangka, Michiel mengaku sangat menyukai teh asal srilangka yang dinilainya merupakan teh terbaik yang pernah diminumnya. Teh di Srilangka ditanam pada Dataran Tinggi yang berkabut dan memiliki kualitas terbaik.

Selepas Srilangka, Michiel, berwisata diseputaran Danau Toba. Kemudian menjajal lokasi wisata Sabang. Di Sabang Michiel bertahan lama. Tiga bulan. Lantas hal apa yang membuatnya betah?. Di Sabang Michiel belajar menyelam.

“Selama tiga bulan belajar menyelam, saya sudah mengantongi predikat sebagai Master Selam. Tinggal satu tingkat lagi saya bisa menjadi instruktur”, kata Michiel. Menyelam menjadi hobi baru lelaki Belanda ini.

Selam menjadi obsesi dan harapan baru Michiel. Tiada hari tanpa menyelam hingga dia bisa mencatat rekor  waktu 122 jam penyelaman.  Pengalaman menyelam di Sabang menjadikan Michiele sempat menjadi guide bagi penyelam-penyelam yang datang ke Sabang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.

—–

Jum’at sore (25/11) Ria Devitariska, seorang anggota CS, sebuah komunitas atau jejaring sosial bagi traveling mengontakku. Ria yang tamatan Planologi Unisba yang kini bekerja di Banda Aceh, juga bekerja sebagai wartawan berita online LG menyatakan seorang wisatawan asal Belanda akan berkunjung ke Takengon.

Ria bertemu Michiel di Banda Aceh setelah mengontak Ria melalui website CS. “Apakah abang bisa menemani atau tinggal dirumah selama Michiel berada di Takengon?”, kata Ria. Aku menyanggupinya setelah pakat dengan istriku.

Karena saat Michiel berada di rumahku, tentu yang menjadi ratunya adalah istriku. Istri yang telah memberiku empat anak dari rahimnya. Istri yang setia menemaniku dari jaman susah dahulu hingga susah sekarang.

Sering saat dirumah atau ketika tidur , aku aku mencuri pandang padanya. Akh betapa cantiknya istriku….gumanku didalam hati dan berucap syukur pada Allah yang telah memberiku seorang istri demikian hebat.

Ternyata istriku setuju Michiel menginap. Dirumah kecilku , ada ruang kosong tempat kami biasa kumpul. Dalam bahasa gayo disebut “Dapur”.

Dapur ini adalah lantai yang diberi papan setinggi lebih kurang satu jengkal dari lantai. Tempat ini biasanya dipakai sebagai tempat anak-anak belajar, mengaji, shalat dan bahkan makan. Ada satu kasur lipat tipis yang diberikan panitia Porda X di Takengon lalu.

Kasur ini diperuntukkan bagi atlit yang ikut Porda di Takengon untuk alas tidur. Di kasur busa tipis ini pula, pernah tidur beberapa wisatawan asing yang berkunjung ke Takengon, seperti dari Ukraina, Itali, Belgia, Jerman, Australia, Afrika Selatan. Switzerland dan Finlandia.

—–

Sabtu sore (26/11/11) Michiel mengontakku setelah mendapat nomor hp dari Ria. Menggunakan bahasa Inggris yang kental dialek England, Michiel menyampaikan maksudnya akan ke Takengon dan meminta alamatku.

Tak semua yang disampaikan Michiel bisa kupahami. Karena bahasa Inggrisku hanya “seridhonya”.  Itupun kudapat saat bersekolah di Madrasah Tsanwiyah Negeri BOOM Takengon, Bapakku memerintahkanku kursus belajar  Bahasa  asing ini di luar jam sekolah.Aku masih ingat gurunya, Pak Abdul Wahid yang kini sudah almarhum.

Menurut Pak Wahid kala itu, bahasa Inggris itu harus sering diucapkan dan menjadi komunikasi diantara teman-teman. Pak Wahid yang tidak memiliki keturunan ini suka anak-anak. “Tidak boleh gengsi berbahasa Inggris. Harus sering diucapkan. Biar dianggap orang gila ngak apa-apa”, kata Pak Wahid, sangat tegas.

Sebagai anak-anak kala itu, tentu saran pak Wahid tak pernah kuikuti. Sepertinya malu atau gengsi harus berbahasa Ingris. Rasa malu lebih besar daripada rasa ingin maju. Belajar bahasa Inggris hanya untuk keperluan ujian sekolah atau memenuhi keinginan orang tua.

Tapi aku masih ingat sebuah tulisan di papan tulis tempat pak Wahid mengajar kursus di Bale Atu. Kira-kira seperti ini. “Non Scholae sedvitac discimus”, artinya, “Belajar bukan untuk sekolah tapi untuk Hidup”.Kata-kata itu masih tersimpan di memoriku hingga kini. “Yaa Allah, muliakanlah pak Wahid yang telah memberi ilmu yang begitu bermanfaat bagiku. Tempatkanlah lelaki hebat dan mulia ini ditempat orang-orang yang Engkau kasihi. Tempat Istimewa”.

 Aku kemudian mengirimkan alamat tempatku bekerja sebagai pelayan kepada Michiel. Alamat ini mudah diakses karena berada dipinggir bibir jalan negara Takengon-Bireuen. Tapi aku lupa menyebutkan dalam sms itu bahwa alamat yang kuberikan adalah tempatku bekerja. Bukan rumah tinggalku. Tapi terlanjur sms itu sudah terkirim.

Sementara kalau aku mengirim alamatku, aku kuatir susah bagi Michiel mencarinya karena berada di Kampung, dengan kondisi jalan yang rusak parah.  Meski tidak jauh dari tempatku bekerja. Jalan menuju ke rumahku, bisa melewati sebuah baliho bergambar bupati inkamben dengan jalan yang mulus, hot mix tanpa cela, seperti jalan di Negara maju yang ngak ada korupsinya.

Jalan yang bergambar inkamben itu tidak jelas siapa yang bertanggungjawab terhadap promo itu. Jalan tersebut dimana dan dari program apa. Tanpa alamat pemasang, tanpa institusi atau tim sukses.Tidak jelas. Abstrak seperti jumlah penduduk Aceh Tengah yang dipersoalkan hingga pengadilan. Jalan yang bergambar inkamben itu, menurutku seperti sebuah jalan di “Negeri Mimpi”.

—-

Minggu pagi (27/11/11) sekitar pukul 06.00Wib, kakak Iparku menelpon nomor istriku. Karena hpku kumatikan. Kakak Iparku mengatakan ada bule yang menunggu di kantin BK dan tak bisa berbahasa Indonesia.

Aku yang biasa tidur selepas shalat subuh, dibangunkan istriku.”Bang, tamu yang dari Belanda sudah sampai di kantin”, kata istriku menyentuh tubuhku dengan lembut. Aku bergegas. Cuci muka dan menghidupkan kenderaan roda dua menuju kantin.

Michiel kudapati sedang duduk di kursi kantin sambil menikmati makanan ringan. Dia tampak lelah. Michiel  kusalami. Dia menghentikan makan. Michiel mewakili karakter Erofa. Berkulit pucat, tinggi hampir dua meter, rambut pirang dengan mata biru.

Backpackernya berat bukan main, lebih dari 40 kg. Ditambah tas rangsel ukuran kecil. Michiel kubawa kerumah mengenderai roda dua. Honda, sebutan kami untuk kenderaan roda dua bermotor, tampak bergerak lambat dengan deru mesin yang kencang menahan beratnya beban penumpang. Setelah kukenalkan pada keluargaku, kami  bercerita singkat hingga Michiel tertidur sangking lelahnya di dapur.

Sekitar pukul 9.30.00 Wib, Michiel bangun. Lelaki Belanda sedikit lebih kalem dari tamu-tamu asingku. Sebagai penyelam, Michiel mengajakku menyelam ke Danau. Aku mengontak Munawardi, seorang  penyelam dari Gayo Diving Club (GDC).

Michiel mengambil alat selam dari tas besarnya. Munawardi kebetulan sedang berada di pinggir Danau Luttawar. Di Kala Pasir, memindahkan keramba apung yang dibangun beberapa waktu lalu dari sebuah proyek.

MIchiel kutinggalkan bersama Munawardi alias Aman Mayak yang bekerja di Dinas Perikanan. Aman Mayak Muna memiliki seabrek aktipitas sosial. Seperti Fotograpi, menyelam, sepeda gunung hingga menjadi anggota tim SAR. Karakter Muna mirip Michiel. Tak banyak bicara, lebih banyak kerja.

Sore Minggu, Michiel diantar ke kantin. Menurut Michiel, tak banyak yang bisa dilihat di Danau. Karena air Danau sedang keruh . “Kondisi perairan di laut bebas dan danau sangat berbeda jauh. Suhu di danau jauh lebih dingin dan gelap”, papar Michiel.

Menjelajah bagian dunia, menurut pendapat Michiel sangat berarti  untuknya. Hidup menjadi lebih baik dan indah dan bisa melihat kebudayaan yang berbeda. Rutinitas bekerja diimbangi dengan bertualang  sehingga suasana baru tercipta dan menambah gairah kerja kembali, begitu kata lelaki Belanda bermata biru ini.

Aku jadi ingat bahwa negara Belanda adalah negara yang berada dibawah permukaan laut. Saat itu kutanyakan, Michiel membenarkannya. Pemisah kota dengan laut dibangun tembok-tembok berlapis. “Jika tembok pertama jebol, ada penyangga di tembok kedua, begitu seterusnya. Hidup dengan kekuatiran”, ungkap Michiel.

“Takengon merupakan kota yang indah, sangat indah”, ungkap Michiel kepadaku. Aku membenarkannya. Karena banyak foto yang kudapat mendukung pernyataannya. Misalnya foto yang kuambil disuatu pagi disuatu hari, Takengon diselimuti awan. Bukit-bukit seputaran Danau dipenuhi awan putih  seolah enggan berpisah dengan gunung tempatnya merekat.

Belum lagi sapaan mentari di pagi hari pada penghuni negeri Antara yang memberi sinar berkilau emas, ditemani suara ayam jantan dan sapaan burung. Belum lagi saat berada di danau, suara desir daun pinus yang berdesir. Seperti jarum-jarum yang melekat pada ranting yang berjumlah ribuan hingga jutaan.

Belum lagi saat nelayan memukulkan bamboo di bibir perahu hingga memercikkan air yang bergetar agar ikan –ikan terjerat jarring…Aku bersyukur pada Allah pada karunia yang besar…tinggal di negeri  kepingan tanah surga yang terlempar ke dunia. Negeri di Awan.

Kerap kudengar Michiel mengucap beautiful. Untuk menulis kisah petualangannya, Michiel  menulisnya dalam webnya, http://thelowlander.wordpress.com, dan http://thelowlander.org  . Didalam blog ini, Michiel yang ahli desain graphis 3 D juga menampilkan karyanya.

Selama tinggal bersamaku, Michiel tidak kuberi  menu istimewa. Apa yang kami makan, itulah yang kami beri pada Michiel. Agak lucu saat melihat Michiel  makan menggunakan tangannya. Selama ini, dia biasa menggunakan sendok dan garpu. Tapi saat berkunjung ke Asia, kebiasaan itu berubah total.

Meski terlihat kaku dan lucu, tapi Michiel tetap menggunakan kebiasaan barunya, makan pakai tangan. Aku kembali mengajarinya makan pakai tangan agar lebih mudah dan cepat. “Awalnya sulit menggunakan tangan. Nasi yang kumakan berjatuhan. Kini tidak lagi”, ujar Michiel tersenyum.

Aku ingat kisah Maja Sontag, tamuku dari Polandia. Maja suatu saat pernah dipukul ibunya dibagian tangan karena makan menggunakan tangan. Bagi kebanyakan orang Barat, menggunakan tangan dianggap tidak steril dan diluar kebiasaan

Tapi saat berada di Indonesia, banyak bule yang kemudian memakai tangannya untuk makan. Bahkan menjilati tangannya saat nasi sudah habis sehingga tangannya terlihat bersih. Sebuah kebiasaan baru yang mengasyikkan bagi mereka.

Saat makan, Michiel tidak memilih-milih menu. Ikan asin juga masuk. Hanya saat makan sambel terasi yang dicampur cabe hijau, Michiel tidak tahan dengan pedasnya. Hingga mulutnya bersuara menahan pedes….

Sore Minggu, aku bersama Michiel menuju terminal berkenderaan roda dua guna memboking tiket menuju Tenggara Aceh. Di loket Bus Argalus, Michiel sempat ragu apakah langsung ke Ketambe atau mampir dulu ke Gayo Lues.

Akhirnya Michiel  memilih singgah dulu di Gayo Lues melihat-lihat pemandangan yang ada. Kembali ke Kantin, kami bercerita panjang. Meski tak semua yang dikatakan Michiel kupahami. Dihari Minggu itu, tak banyak tamu yang minum kopi hingga aku agak bebas bercerita.

“Sampai kapan akan bertualang?”. Kataku pada Michiel. “Saya belum tahu sampai kapan”, katanya. Yang pasti katanya, dia masih memiliki agenda mengunjungi beberapa Kabupaten di  Aceh. Kemudian ke Siantar kembali bertemu dengan seorang teman wanitanya.

Senin pagi, aku memboyong Michiel ke Kantin dari rumah. Michiel tampak kesusahan menggendong backpackernya yang berat dan berusaha tetap stabil diatas kenderaan. Kamipun sampai. Di kantin, Michiel sempat membuka laptopnya. Lelaki kekar yang jago bela diri ini sesekali tersenyum melihat laptopnya.

Selama mengembara, Michiel membiarkan rambutnya memanjang. Tak lama, L300 jurusan Gayo Lues datang menjemput. Kami bersalaman, “Thank You very much for everything”, ucap Michiel. Aku mengangguk dan memegang erat tangannya.

“Keep smile”, kataku lagi. “You know Win, some times to hard to smile”, balas Michiel. Diapun pergi meneruskan kembaranya entah sampai kapan. Mungkin sampai dia bosan atau menemukan apa yang dicarinya. Aku berharap bisa bertemu lagi. Entah di Belanda atau disini. Karena sebagai sesama anggota CS, aku merasakan arti persahabatan lintas batas tanpa Sara. Persahabatan yang universal yang tidak mengenal kasta. Apalagi beberapa sahabat yang pernah berkunjung ke Takengon, menyatakan pintu rumah mereka terbuka menunggu kehadiranku.

Satu yang kuingat dari kisah para bule yang pernah kujamu. Jika mereka sudah meyakini sesuatu hal untuk dikerjakan, mereka akan konsisten melakukannya. Sepenuh jiwa dan kemampuan. Aku teringat seorang warga Switzerland yang berwisata ke Takengon dan Kota-lain di Sumatera dengan bersepeda. Tak ada rasa takut. Just Do It, kata sebuah iklan.

Padahal kala itu, Aceh baru melakukan MoU setelah berperang sesama bangsa yang menimbulkan derita bagi rakyat yang tidak peranh ikut konplik tapi menerima akibat paling parah. Dibayar darah dan nyawa. Jangan tanya soal air mata.Meski hingga kini Aceh masih “digenggam” politikus Aceh yang demikian piawai memainkan setiap Scene politik yang mereka atur.

Menganggap diri dan partai begitu berkuasa dan elegan atas nama rakyat. Walau ditingkat akar rumput, nama “politik” begitu berbau amis nanah dan bangkai konplik yang menimbulkan rasa mual, meski belum sampai muntah.

Bule Switzerland Gilles B, membawa keperluan hidupnya disepeda. Dimana bertemu malam, disitu dia menancapkan kemah. Begitu seterusnya berkeliling dunia. Demikian halnya Bertuzzi Simone dari Italia. Beli kenderaan roda dua kemudian mengelilingi dunia. “Saya percaya semua orang adalah baik”, kata Bertuzzi kepadaku saat kutanyakan kenekatannya bersepeda motor keliling Sumatera. Atau Alexey Krivopustov yang menikmati pengembaraan dunianya berjalan kaki.

Aku berharap, suatu waktu berkeliling dunia, bersama istriku. Walau entah kapan. Aku ingin membahagiakannya…..(Win Ruhdi Bathin)

Comments

comments