by

Suatu Hari di Timor Timur (2)

Oleh Luqman Hakim Gayo*

Kami berjalan-jalan ke komplek ini dan berkenalan dengan penghuni. Hanya sebuah kampung biasa, dengan bangunan rumah yang tidak seragam. Ada sekolah, ada masjid yang sedang direnovasi. Lalu kami berkenalan dengan sejumlah warga Komplek An-Nur, termasuk beberapa pemuda yang sering menjadi saksi mata atas kekejaman penduduk di luar komplek kepada umat Islam.

Demi menjaga nama baik sponsor, kedatangan serombongan wartawan  dari Jakarta harus dirahasiakan. Karena kebencian kaum tertentu, jangan sampai si pengundang dimutasikan gara-gara ini. Kami juga tahu diri. Tidak terlalu menonjolkan kepada khalayak luas di kota Dili. Hanya sekedar berputar-putar, kemudian kembali ke markas di komplek perumahan itu.

Dari ustadz-uztadz yang datang, kami semakin mendapat informasi yang jelas. Tetapi, terus terang kami tidak ingin mereka semakin terjepit gara-gara kami. Provinsi ini disiapkan untuk agama tertentu di Indonesia. Sebuah patung besar di pantai Dili, menunjukkan ambisi itu. Itu salah satu sebab, mengapa dakwah Islam sering mengalami gangguan.

Perkelahian antara juru dakwah Islam dengan pemuda-pemuda dari agama tertentu sering terjadi. Akibatnya, dakwah Islam secara terbuka masih sulit dilakukan. Pemerintah sendiri tidak bisa diharapkan. Kanwil Departemen Agama memang ada, tetapi lebih berpihak kepada kelompok non Islam. Meskipun Kepala Kanwilnya orang Islam.

Ada ustadz berasal dari Jawa Tengah, dicincang oleh pemuda Timtim. Ada madrasah yang dibakar  penduduk. Ada pengurus masjid yang ditangkap Kodim gara-gara azan yang terlalu keras. Ada muallaf yang ditahan kemudian disiksa. Tetapi, dibalik kesulitan-kesulitan itu, ada juga yang menggembirakan dan perlu dicatat. Ustadz itu berhasil menikahi gadis Timtim yang berambut pirang dan bermata biru.

Mulai keliling Timtim

Perjalanan dimulai, sebuah mobil kijang keluar dari Dili membawa kami. Selain rombongan Jakarta, ada seorang pengacara muda berasal dari NTB. Ada dua orang PNS yang berasal  dari Palembang dan Banten. Selain sebagai penunjuk jalan, juga banyak memberi informasi dimana saja daerah-daerah rawan, bukan hanya karena anti kepada Islam tetapi sering terjadi kekacauan dan gangguan keamanan.

Berkat kordinasi yang rapi, perjalanan kami nyaris tidak mendapat gangguan. Sejumlah TNI yang berada di pos-pos jaga di jalan yang akan dilewati, sudah siap siaga. Luar biasa, areal hutan yang sering menjadi ajang kontak senjata dengan para gerilyawan sudah dalam pengawasan. Ketika kami melintas di hutan itu, para TNI yang masih muda-muda keluar dari hutan. Kami menyempatkan diri berramah-tamah sambil berfoto-foto ria¬† Kemudian ia memberikan informasi ke pos selanjutnya, ‚Äúada tamu dari Jakarta akan lewat. Harap siaga‚ÄĚ. Waah‚Ķ

Kami bermalam di Baucau, kota kedua besar sesudah Dili. Kota kecil ini lumayan cantik. Bangunan perhotelan yang mungil di perbukitan, berarsitektur Portugis. Bangunan pertokoan berjajar rapi. Tidak heran, kalau para pejabat Timtim sering beristirahat di kota ini. Karena hawanya yang segar dan nyaman. Layanan di penginapan juga memadai, apalagi di hotel-hotel, meski tidak berkelas.

Disini, baru saja terjadi kebakaran yang menghanguskan pasar besar di jalan utama kota. Gara-garanya, beberapa pedagang berasal dari Minang menjadikan sebuah kios kecil diantara kios-kios itu sebagai mushala untuk sholat lima waktu. Rupanya sebagian besar penduduk tidak senang. Lalu terjadilah kebakaran itu. Memang daerah ini bukan daerah Islam. Baucau lebih berbau Portugis dari pada Indonesia.

Melanjutkan perjalanan ke Viqueque. Kami tidak lama-lama di kota ini, karena kami ingin bermalam di kota Same. Barangkali inilah kota yang paling dingin, karena berada di ketinggian. Lebih sengsara, prasarana penginapan sangat menyedihkan. Hanya sebuah penginapan kecil yang tidak menyediakan apa-apa kecuali tempat tidur. Untuk makanan, terpaksa mencari keluar penginapan. Listrik jalan juga hanya remang-remang. Susah mencari rumah makan. Ada kesan, desa ini dipaksakan menjadi sebuah kota kabupaten. Yang ada baru sebuah pendopo dan beberapa kantor dinas.

Disini ada sebuah bangunan masjid besar yang baru selesai 30 persen, sudah terbengkalai. Kodim setempat baru saja menangkap pengurus masjid dan menggebuk mereka, gara-gara azan di masjid ini terlalu keras. Pernah dipaksakan sebuah madrasah disamping masjid. Tetapi, karena murid-muridnya sering disiksa, akhirnya kini tinggal tiga orang. Sejumlah guru dan sisa murid itu memilih tinggal di masjid dari pada pulang ke rumah mereka..

Perjalanan kami teruskan sampai ke Aenaro, sambil membelah hutan di jalan-jalan yang rusak. Kesibukan PNS hanya ada di Dili. Tetapi di daerah-daerah, lebih banyak berleha-leha. Seperti yang kami lihat di Same, para pegawai negeri lebih banyak berkumpul-kumpul di penginapan sambil menghitung gaji dan lembur yang akan datang. Sejumlah berita duka menjadi catatan kami.

Kami singgah di sejumlah komplek pensiunan ABRI. Selain sebuah rumah, mereka juga mendapat lahan disamping rumah-rumah mereka. Atas kerja sama warga, mereka membuat masjid darurat untuk sarana ibadah. Kedatangan kami, membuat mereka bergembira, seperti kedatangan tamu besar. Menyempatkan diri berkumpul dan mengadakan pengajian mendadak. Para ibu membuat masakan terburu-buru untuk menjamu tamu dari Jakarta. Kekompakan yang luar biasa dari para perantau dan purnawirawan itu, sangat mengharukan kami.

Di daerah lain, ada sebuah yayasan yang khusus menangani yatim piatu dan muallaf. Yayasan ini sepenuhnya dibiayai oleh para pengusaha Arab Hadramaut yang membangun komplek An-Nur di Dili. Disini mereka sudah membangun asrama pelajar dan pesantren, sebuah perpustakaan dan masjid.  Sayang, dari aktifitas itu tiba-tiba harus terhenti. Tangan-tangan jahil membakar asrama dan pesantren, sementara para santrinya disiksa dan lari kucar-kacir.

Kepulangan kami ke Jakarta, membuat duka yang dalam di sebagian umat Islam Dili dan penduduk komplek An-Nur. Tapi, apa boleh buat. Meski berpisah jauh, sama dalam perjuangan di medan masing-masing. Beberapa tahun kemudian, mencuat berita, sejumlah umat Islam di usir dari Timtim. Entah bagaimana lagi nasib mereka. Bahkan kemudian, Timtim lepas menjadi “luar negeri’ seperti asal usulnya. Tapi nasib umat Islam disana seperti apa, komplek An-Nur seperti apa sekarang? Hanya Allah swt yang mengaturNYA.

*Wartawan asal Gayo, tinggal di Jakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.