by

Raihan Iskandar; Hasil Uji Kompetensi Guru Provinsi Aceh Memprihatinkan

 

Jakarta | Lintas Gayo – Anggota Komisi X FPKS DPR-RI asal Aceh, H. Raihan Iskandar, Lc.MM prihatin atas hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) Provinsi Aceh tahun 2012 ini sangat memprihatinkan. Dari hasil UKG, baik Uji Kompetensi Awal (UKA) guru sebelum sertifikasi, maupun hasil UKG setelah melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) beberapa waktu lalu, menunjukkan bahwa nilai rata-rata UKG Provinsi Aceh jauh di bawah nilai rata-rata nasional, yaitu 36,1 pada UKA.

Sementara, nilai rata-rata nasional adalah 42,55. Nilai UKG akhir Aceh pun sangat rendah, yaitu 37,62.  Sementara, nilai rata-rata nasional adalah 43,84. Dengan nilai tersebut, Aceh hanya menempati peringkat 28 pada UKA, dan peringkatnya melorot menjadi 32 pada UKG.

Ironisnya, sebut Raihan Iskandar dalam rilisnya yang diterima Lintas Gayo, Kamis 9 Agustus 2012, capaian UKG Aceh ini, masih di bawah capaian Provinsi Papua yang menempati peringkat 9 pada UKA, dengan rerata 41,1. Dan, Papua pun masih berada di atas Aceh pada UKG  yang berada di peringkat 12 dengan rerata 43,84.

“Hasil yang dicapai Aceh pun masih kalah dibandingkan NTT pada UKA yang menempati peringkat 17 dengan rerata 38,8. NTT pun mengalahkan Aceh pada UKG yang menempati peringkat 30 dengan rerata 39,86,” banding Raihan.

Padahal, jika melihat jumlah guru berdasarkan kualifikasinya, data Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010 menyebutkan bahwa Aceh memiliki 28,956 jumlah guru berkualifikasi S1 ke atas dari total 76,471 guru. Sementara, Papua memiliki sekitar 17,386 guru berkualifikasi S1 ke atas dari 64,074 guru. NTT, yang selama ini, prestasi pendidikannya di bawah Aceh, hanya memiliki 8,374 guru berkualifikasi S1 ke atas.

Lebih ironis lagi jika kita membandingkan alokasi dana otsus untuk Aceh lebih besar daripada Papua, dimana sekitar 30% dialokasikan untuk pendidikan. Tahun 2011, dana otsus Aceh sebesar 4,05 triliun, lebih besar daripada Papua yang mencapai 3,10 triliun.

Jika hasil UKA dan UKG ini dijadikan acuan, hal ini menjadi gambaran rendahnya mutu pendidikan di Aceh, terutama kualitas gurunya. Padahal, guru menjadi factor yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan untuk menghasilkan peserta didik yang bermutu. Jika ini terjadi, output peserta didik yang akan dihasilkannya pun akan sangat memprihatinkan.

Oleh karenanya, hasil UKA dan UKG Aceh ini, ditegaskan Raihan Iskandar seharusnya menjadi “warning” bagi Pemerintah Daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota di Aceh untuk segera melakukan evaluasi kebijakan pendidikan, terutama dalam hal peningkatan kualitas guru di Aceh.

“Pemerintah Daerah harus segera berbenah diri meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah Daerah perlu membuat manajemen pengelolaan guru yang berorientasi pada peningkatan kinerja mutu guru dan harus benar-benar menjadikannya sebagai tenaga professional,” demikian Raihan Iskandar. (SP/red.03)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3,627 comments

  1. jadikanlah kegagalan sebagai awal untuk melangkah lebih baik, dengan jalan salah satunya kita harus segera mengevaluasi akibat terpuruknya hasil UKG ini, apa penyebab, kenapa dan bagaimana langkah kedepan yang harus ditempuh agar menjadi lebih baik, banyak yang meneliti tentang hal ini, tapi kebanyakan penelitian yang dilakukan hy sebatas untuk menyelesaikan sebuah tugas, sebaik-baik orang adalah orang yang bisa belajar dari pengalamannya, semoga ada pihak yang bener-bener meneliti bukan hy sebatas untuk menyelesaikan tugasnya, tapi bener-bener sesuai dengan realita yang terjadi,,

  2. dari hasil UKG yang telah diperoleh guru aceh sangatlah pantas karena aceh baru bangkit dari trauma komplik yang sangat panjang jadi perlu dikoreksi kembali oleh pejabat pemerintah cara penyembuhan dari trauma komplik tersebut..

  3. Kondisi pendidikan di Aceh memang sgt meprihatikan. Byk para guru di Aceh memiliki ijazah sarjana, tp tdk memiliki komtensi dasar sekalipun. Perlu dilakukan peneltian apakah ijazah yg mereka miliki berkorelasi dgn kemapuan penguasaan ilmunya. Bila jawabannya tdk, patut diduga ijazahnya aspal (asli tp palsu)

  4. Kalau begitu keadaannya, maka guru guru di Aceh Perlu diadakan pendidikan Dan pelatihan sesering mungkin guna menunjang kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah, disamping itu guru di Aceh harus rajin membaca baik menyangkut disiplin ilmu mereka maupun diluar disiplin ilmu mereka sehingga wawasannya Terus meningkat… Ayo guru-guru di Aceh tetap semangat !!!!!