by

Diskursus Ilmu Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal:Reformulasi dan Reaktualisasi Pendidikan Berwawasan Kontekstual

Al Musanna*

Abstrak

Ilmu pendidikan telah menarik perhatian berbagai kalangan dalam beberapa dekade terakhir. Berkembangnya pendekatan interdisipliner yang lebih holistik dalam mengkaji berbagai dimensi kehidupan menyebabkan berkembangnya perspektif yang lebih integratif dalam ilmu pendidikan.  Tantangan kehidupan yang semakin kompleks dan rumit menuntut dikembangkannya strategi dan model-model pendidikan yang lebih sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Persoalan-persoalan unik yang muncul dan  tumbuh dalam sebuah masyarakat menuntut adanya gagasan dan praktik pendidikan yang relevan dalam menyahutinya. Tidak mungkin diperoleh jawaban yang tepat dan tuntas apabila mengandalkan jawaban dan pengalaman yang diadopsi dari konteks yang berbeda tanpa penyesuaian. Mustahil mengharapkan solusi yang tepat sasaran apabila pendidikan yang dikembangkan dari tempat lain dipaksakan menjawab persoalan yang secara substansial berbeda.

Kata Kunci: Ilmu, Pendidikan, Disiplin Ilmu, kearifan lokal

I.     Pendahuluan

Pendidikan merupakan sebuah topik universal. Dalam sejarah bangsa manapun, pendidikan selalu menjadi salah satu isu yang menarik perhatian banyak kalangan. Diyakini hanya melalui pendidikan sebuah masyarakat atau suatu bangsa dapat mewariskan, mengembangkan dan mempertahankan capaian yang diperolehnya menghadapi perubahan zaman. Melalui pendidikan pula sebuah bangsa menyemai harapan-harapan masa depan yang lebih baik. Pendidikan mencakup pembahasan yang bersentuhan langsung dengan keberadaan manusia mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya. Ilmu pendidikan telah melalui serangkaian pergulatan dan perdebatan yang panjang. Spesialisasi yang menjadi salah satu karakteristik yang melekat pada era modern pada satu sisi telah membantu memperdalam kajian, tetapi fenomena ini juga menyebabkan terjadinya penyempitan pemahaman. Ketika seorang pakar mencoba menelaah pendidikan terkadang melupakannya bahwa pendidikan tidak mungkin dipisahkan relasi atau keterkaitan dengan dimensi poli tik, ekonomi, budaya, agama dan lain-lain. Padahal bagaimana mungkin membahas pendidikan dengan mengabaikan sisi budaya yang merupakan fondasi tegaknya pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu perwujudan dari budaya sesuatu kelompok, etnis atau komunitas. Isi atau materi dari proses pendidikan tidak lain merupakan pemilahan unsur-unsur budaya yang dipandang penting dipertahankan dan ditransmisikan.

Dengan keterbatasan ruang dan waktu yang tersedia uraian mengenai ilmu pendidikan secara komprehensif tidak mungkin dapat dikemukakan secara tuntas. Pembahasan hanya difokuskan pada tiga hal: pertama, hakikat dan ruang lingkup ilmu pendidikan, Kedua, relasi atau keterkaitan antara ilmu pendidikan dan disiplin ilmu lainnya, dan ketiga, pentingnya mengembangkan gagasan dan praktik ilmu pendidikan yang berakar pada konteks lokalitas dimana pendidikan berlangsung atau dengan kata lain pentingnya mengadaptasi kearifan lokal setempat dalam mengembangkan teori dan praktik ilmu pendidikan. Dengan kompleksitas persoalan yang dalam ketiga hal tersebut, tulisan singkat ini tidak berpretensi menyajikan kesimpulan menyeluruh, tetapi diharapkan dapat menjadi pengantar mendorong curah gagasan lebih mendalam pada masa-masa mendatang.

II. Pembahasan

A.  Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Pendidikan

Dalam menjelaskan ilmu pendidikan, para pakar telah memberi perhatian mengenai perumusan definisi. Meskipun demikian, upaya merumuskan konsensus definisi ilmu pendidikan tidak mudah dilakukan sebab perbedaan latar belakang dan sudut pandang yang digunakan. Muculnya keragaman pandangan dalam memaknai ilmu pendidikan terkait dengan pendefinisian tiga istilah berikut: ilmu, pendidikan, dan ilmu pendidikan.

Ilmu berasal dari bahasa Arab dari kata ‘ilm, yang biasa dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ilmu atau pengetahuan. Tafsir (2005: 14) dalam Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam mengemukakan bahwa ilmu atau sains (dari kata science dalam bahasa Inggris) adalah sejenis pengetahuan manusia yang diperoleh dengan riset atau penelitian terhadap objek-objek empiris. Benar-tidaknya suatu teori sains (ilmu) ditentukan logis-tidaknya dan ada-tidaknya bukti empiris. Bila teori itu logis dan ada bukti empiris, maka teori sains itu benar. Apabila hanya logis, ia adalah pengetahuan filsafat. Apabila tidak logis, tetapi terdapat bukti empiris namanya pengetahuan khayal atau mitos. Terdapat berbagai cara yang ditempuh manusia dalam memperoleh ilmu atau pengetahuan, misalnya melalui mitos, filsafat dan sains. Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan keterbatasan menjelaskan fenomena, termasuk ketika membahas pendidikan.

Dalam tinjauan filsafat ilmu terdapat beragam atau corak ilmu; baik ditinjau dari sumber atau jenisnya. Para pakar kesarjanaan Islam mengelompokkan ilmu menjadi dua: ilmu yang bersumber dari wahyu atau juga sering disebut ilmu-ilmu naqliyah dan ilmu yang diperoleh (acquired sciences) yang bersumber dari daya upaya manusia memahami dan mendalami gejala alam dan sosial yang melahirkan berbagai disiplin ilmu (misalnya filsafat, sosiologi, antropologi, biologi, fisika, kosmologi, ekonomi, pendidikan, politik, dan lain-lain). Perlu ditegaskan bahwa klasifikasi ilmu tidak menempatkan kedua corak pengetahuan berada dalam posisi bertentangan. Ilmu-ilmu naqliyah harus menjadi landasan yang menyinari pengembangan ilmu-ilmu aqliyah, dan sebaliknya pengembangan ilmu-ilmu aqliyah diorientasikan menambah wawasan dan sikap yang  lebih positif terhadap ilmu-ilmu naqliyah atau ilmu agama. Pengembangan ilmu-ilmu perolehan (acquired knowledge) seyogianya didedikasikan untuk memakmurkan alam sebagai pembuktian kekhalifahan manusia (khalifah fi al-ardh).

Pendidikan merupakan padanan kata dari education dalam bahasa Inggris. Istilah education berasal dari bahasa Latin dari kata educare, yang berarti menarik keluar atau menampakkan sesuatu yang tersembunyi (Harefa, 2000). Menurut Drost (2006: 54) pendidikan atau mendidik berasal dari kata e-ducare yang berarti menggiring ke luar. Educare dapat dimaknai sebagai upaya pemuliaan, pemuliaan manusia atau pembentukan manusia. Melalui aktivitas pendidikan potensi yang dimiliki seseorang diupayakan tumbuh dan berkembang melalui fasilitasi atau penyediaan sarana dan lingkungan yang kondusif. Dalam penelusuran Tilaar (2002: 18) terdapat dua pendekatan memaknai pendidikan: pendekatan reduksionis  yang memaknai pendidikan secara sempit berdasarkan tinjauan sudut pandang keilmuan tertentu dan pendekatan holistik-integratif yang berupaya menggunakan pendekatan interdisipliner melalui pemaduan berbagai sudut pandang memaknai pendidikan. Melalui pendekatan reduksionis misalnya dapat ditemukan definisi pendidikan menurut perspektif filsafat, sosiologis, religius, psikologis, negativis, dan lain-lain. Dalam pendekatan psikologis misalnya, pendidikan direduksi atau terbatas sebagai ilmu proses belajar dan mengajar. Pengajaran mengisyaratkan adanya faktor luar yang mendorong dan memfasilitasi seseorang untuk belajar, sedangkan pembelajaran melibatkan unsur internal dalam diri peserta didik yang memungkinkannya melakukan refleksi terhadap materi atau bahan yang disampaikan pendidik (Drost, 2006: 56).

Menurut perspektif holistik-integratif, pendidikan dimaknai sebagai “proses menumbuh-kembangkan eksistensi peserta-didik yang memasyarakat dan membudaya dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global” (Tilaar, 2002: 28). Dalam makna ini pendidikan mencakup rentang kegiatan yang sangat luas dan tidak terbatas pada aktifitas pendidikan yang berlangsung di lembaga pendidikan formal, apalagi menyempitkan maknanya pada proses yang terjadi di sekolah semata. Benar bahwa sekolah berperan sebagai institusi penting dalam proses pendidikan, tetapi membatasi pendidikan sebatas sekolah tidak dapat diterima. Pendidikan berlangsung dalam keluarga, masyarakat, dan bahkan melalui pergulatan individu yang berlangsung sepanjang hidup.

Dalam diskusi di kalangan para pakar pendidikan di Indonesia terdapat dua istilah yang berkaitan dengan pencarian makna ilmu pendidikan: istilah pedagogy dan education. Konsep pedagogik berasal dari tradisi pendidikan Eropa yang menekankan upaya mempelajari cara-cara mengasuh anak untuk mencapai status manusia dewasa. Ukuran dewasa terletak pada kemampuan mengambil keputusan  atau bertanggungjawab kepada diri sendiri dan masyarakatnya. Sedangkan konsep education (berakar dari konsep Amerika) mempunyai makna sangat luas, dan pada saat bersamaan juga sangat sempit tergantung sudut pandang yang digunakan. Ditinjau dari sumber keilmuannya, konsep education menampung sekaligus berbagai jenis pengetahuan yang berasal dari disiplin ilmu pendidikan, psikologi, didaktik-metodik, sosiologi dan antropologi. Sifat sangat sempit karena materi yang yang dibahas menurut konsep education sebagian terbesarnya adalah materi yang berhubungan dengan proses pendidikan di sekolah semata (Salim, Ed., 2007:  35).

Sederhananya ilmu pendidikan adalah ilmu mengenai pendidikan. Tafsir (2006: 12) mendefinisikan ilmu pendidikan sebagai ilmu tentang teori-teori pendidikan. Dalam penjelasan lanjutannya, Tafsir (2006: 13) menyatakan bahwa ilmu pendidikan dalam membahas mengenai teori merangkum rincian mengenai tiga hal berikut: teori; penjelasan tentang teori; dan data yang mendukung penjelasan tersebut. Gabungan dari ketiga hal tersebut menjadi batang tubuh yang ilmu pendidikan.

Pendidikan mencakup upaya mengembangkan seluruh potensi manusia, baik berkaitan dengan dimensi intelektual, emosional, spiritual dan phisiknya. Natawidjaya (dalam Natawidjaya, et al., Ed., 2007: 1) merumuskan bahwa ilmu pendidikan adalah “ilmu pengetahuan yang dikembangkan melalui perenungan dan penelitian dengan menggunakan metode verstehen yang bersifat kualitatif dan metode ilmiah lainnya yang bersifat kuantitatif untuk melahirkan ilmu pendidikan sistematis, teoritis dan historis, serta menjadikan hakekat dan aktivitas manusia yang berdimensi filosofis, psikologis, sosiologis, antropologis, dan religius sebagai subjek kajian utamanya.” Rumusan tersebut tentu tidak terlalu mudah untuk diingat, tetapi paling tidak memberi gambaran cukup memadai mengenai dimensi atau cakupan ilmu pendidikan.

Ilmu pendidikan menempatkan teori dan praktik mengenai pendidikan sebagai bahasan utamanya. Secara teoritis, cakupan ilmu pendidikan merentang dari pembicaraan hakikat manusia, potensi manusia memperoleh pendidikan, dan landasan-landasan yang menjadi fondasi pendidikan sampai pada pembahasan mengenai tujuan dan orientasi pendidikan. Menurut Sukmadinata (2006: 42) pendidikan teoritis mencakup pembahasan mengenai: kajian filosofi pendidikan (misalnya mengenai idealisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme, dan lain-lain); pendidikan dalam orientasinya (transmisi, transaksi dan transformasi); dan konsep-konsep pendidikan (perenialisme, esensialisme, romantisme, teknologi pendidikan, progresivisme, rekonstruksionisme, dan pendidikan humanistik, dan lain-lain). Dalam “Pohon Ilmu Pendidikan” Natawidjaya (dalam Natawidjaya, et al., Ed., 2007: 2) mengemukakan bahwa ilmu pendidikan teoritis dibangun berdasar integrasi disiplin ilmu pendidikan dan disiplin ilmu dasar lainnya (psikologi, sosiologi dan antropologi). Ilmu pendidikan teoritis menjadi landasan dalam praksis (teori dan praktik) pendidikan. Aplikasi pendidikan di lapangan berupaya mewujudkan atau mengaktualisasikan rumusan yang terdapat dalam ilmu pendidikan teoritis.

Pembahasan ilmu pendidikan praktis atau terapan berkaitan dengan aplikasi pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (Sudjana dalam Natawidjaya, et al., Ed., 2007: 10). Pembahasan ilmu pendidikan praktis merentang dari aplikasi teori pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan dan bidang studi, misalnya mengenai bagaimana pendidikan dalam keluarga, masyarakat dan di institusi pendidikan formal dengan berbagai jenis dan jenjangnya. Pada tataran aplikasi juga dibahas manajemen guru, pemanfaatan sarana dan prasarana, evaluasi pendidikan dan relasi berbagai pihak dalam pelaksanaan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjangnya. Dalam pendidikan praktis juga dibahas mengenai pendidikan dalam keluarga, pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan sekolah dan luar sekolah, pendidikan orang dewasa dan usia lanjut, dan lain-lain. Rentang cakupan pendidikan praktis akan semakin luas apabila masing-masing topik tersebut diperinci berdasar bidang studi, misalnya pendidikan agama untuk anak usia dini, pendidikan karakter di sekolah dasar, menengah dan topik-topik lain yang semakin memperkaya praksis ilmu pendidikan.

B.   Relasi Ilmu Pendidikan dengan Ilmu-ilmu Lain

Ilmu pendidikan sebagai disiplin ilmu tidak berdiri sendiri. Tinjauan terhadap perkembangan sejarah disiplin ilmu ini dengan jelas menunjukkan bahwa terdapat sumbangsih be rbagai ilmu lainnya dalam mematangkan dan membentuk karakter ilmu pendidikan sebagai displin ilmu. Dalam tinjauan berikut, dikemukakan beberapa disiplin ilmu yang telah memberi kontribusi dan mewarnai ilmu pendidikan dalam beberapa dekade terakhir.

  1. Filsafat. Filsafat dikenal dengan induk segala ilmu. Filsafat berasal dari kata philo dan sophia,  sederhananya dapat dimaknai kecintaan pada kebijaksanaan. Filosuf adalah seseorang yang menempatkan kecintaannya pada pencarian kebijaksanaan, sehingga mendorongnya senantiasa berupaya mengasah kemampuannya melakukan perenungan dan refleksi terhadap berbagai gejala alam dan sosial yang terjadi disekelilingnya. Tidak berhenti pada realitas yang kasat mata, filsafat menelisik secara lebih mendalam untuk menemukan hakikat segala yang ada. Melalui filsafat manusia melangkah melampaui keberadaannya sebagai makhluk fisik semata. Kontribusi filsafat terhadap ilmu pendidikan tidak mungkin dinafikan. Seorang filosuf pendidikan kontemporer, Brameld (1955: v ) dalam Philosophies of Education in Cultural Perspective menyatakan bahwa filsafat menjelajahi akar segala sesuatu. Filsafat berupaya menemukan sumber dasar dan tujuan esensial kehidupan, yang mempertanyakan dan mengajukan jawaban mengenai permasalahan terdalam yang dapat ditanyakan dan dijawab manusia.
  2. Sosiologi.  Sejak lama diakui bahwa manusia adalah makhluk komunal yang memerlukan kelompok untuk mempertahankan dan mengembangkan kualitas hidupnya. Dalam proses ini terjadi interaksi yang menuntutnya memberi dan mengambil (give and take bukan take and give sebagaimana sering dipergunakan selama ini) dari kelompok. Melalui keterlibatan dalam kelompok, terjadi sosialisasi dan enkulturisasi atau pembudayaan sehingga seseorang menyerap nilai-nilai yang berlaku dalam kelompoknya untuk menjamin harmonisasi dan pengelolaan konflik. Dalam sosiologi dibahas mengenai lingkungan sosial, perubahan sosial, strata sosial, dan pola interaksi yang berlangsung pada sebuah komunitas serta upaya-upaya yang dapat ditempuh untuk mengembangkan rekayasa sosial untuk pencapaian tujuan tertentu. Melalui kajian sosiologi, ilmu pendidikan diperkaya mengenai bagaimana upaya transmisi dan transformasi pengetahuan dapat dilakukan secara lebih efektif di tengah-tengah perubahan yang berlangsung dengan sangat cepat.
  3. Ilmu Ekonomi. Dalam perkembangan kontemporer, seiring menguatnya peran ekonomi dalam percaturan global pengaruh ilmu ekonomi sudah menghunjam demikian kuat terhadap pendidikan. Ilmu ekonomi berfokus pada kajian mengenai bagaimana pengelolaan sumber daya yang terbatas untuk pencapaian kesejahteraan manusia. Efesiensi dan efektifitas merupakan dua di antara prinsif dasar dalam disiplin ilmu ekonomi.  Dari disiplin ilmu ekonomi, ilmu pendidikan berkembang untuk menemukan pendekatan, strategi dan metode yang lebih tepat sehingga dapat menghasilkan dampak yang lebih besar dalam pelaksanaannya. Diterapkannya prinsip-prinsip manajemen kualitas dalam pendidikan, pengukuran efektifitas pembelajaran, konsep pemangku kepentingan atau stakeholders yang demikian populer dalam diskursus pendidikan kontemporer merupakan sedikit bukti mengenai kontribusi ilmu ekonomi terhadap ilmu pendidikan.
  4. Ilmu Politik. Politik sering diidentikkan dengan pengelolaan kekuasaan. Ilmu politik mengkonsentrasikan perhatiannya mengenai pemerolehan dan pemanfaatan kekuasan dalam pencapaian tujuan. Dalam konteks Indonesia berkembang stigmatisasi atau pelabelan negatif terhadap relasi politik dan pendidikan. Dalam pandangan banyak pihak, pendidikan tidak semestinya dikaitkan dengan politik, sebab politik dinilai sebagai sesuatu yang kotor, licik dan tidak bermoral. Pandangan ini tidak terlepas dari realitas politik di tanah air yang telah tercerabut dari nilai-nilai luhur yang semestinya dijadikan pemandu pengelolaan kekuasaan. Dalam tinjauan historisnya, politik dan pendidikan merupakan dua sisi yang saling berkaitan. Sirozi (2005) dalam Politik Pendidikan: Dinamika Hubungan antara Kepentingan Kekuasaan dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan dengan jelas mengungkap interdependensi pendidikan dan politik. Institusi pendidikan merupakan instrumen penting pembentukan karakter anak bangsa dan pada saat bersamaan melalui campur tangan kekuasaan pengelolaan pendidikan secara massif dalam sebuah negara dapat berjalan untuk mencapai tujuan nasional. Lebih lanjut Sirozi (2005: 1) menyatakan, “lembaga-lembaga dan proses pendidikan berperan penting dalam membentuk prilaku politik masyarakat di negara tersebut. Begitu juga sebaliknya, lembaga-lembaga dan proses politik di suatu negara membawa dampak besar pada karakteristik pendidikan di negara tersebut.”
  5. Psikologi. William James dalam bukunya The Principles of Psychology yang diterbitkan pertama kali tahun 1890 dapat dipandang sebagai salah seorang peletak dasar ilmu psikologi yang kemudian diikuti dengan percobaan-percobaan ilmiah yang dilakukan pada penghujung abad ke-19 dan mencapai perkembangan sangat pesat pada pertengahan abad  XX (Zimmerman dan Schunk, Ed., 2003). Psikologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang mempengaruhi perkembangan ilmu pendidikan dalam beberapa dekade terakhir. Teori belajar dengan berbagai variannya (behavioris, kognitivis, konstruktivis, dan lain-lain) mempengaruhi pengembangan model-model pendidikan di berbagai negara. Dalam perkembangan pendidikan di Indonesia  beberapa tahun terakhir misalnya, mencuatnya gagasan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), pembelajaran autentik (authentic learning), pembelajaran bermakna (meaningful learning), pembelajaran tuntas (mastery learning), pembelajaran transformatif (transformative learning), dan lain-lain merupakan di antara bukti mengenai dominasi psikologi, khususnya psikologi pendidikan dalam pengembangan ilmu pendidikan. Tidak dapat dipungkiri dalam upaya
  6. Antropologi. Antropologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia dan cara hidupnya termasuk bentuk-bentuk bahasa yang digunakan. Dinamika sistem nilai dalam berbagai bidang kehidupan yang berlaku untuk kurun waktu yang cukup lama serta pengaruh lingkungan fisik terhadap sistem dan prilaku manusia, termasuk di antara telaah antropologi (Dahlan dalam Natawidjaya, Ed., 2007: 93). Pada masa lalu, antropologi difokuskan untuk mengkaji kebudayaan masyarakat terbelakang atau primitif, tetapi seiring perubahan waktu  kajian antropologi saat ini sudah berkurang tendensi merendahkan tersebut.  Antropologi memberikan kontribusi kepada ilmu pendidikan tentang berbagai metode pendidikan di berbagai tempat. Para pendidik dapat belajar dari pengalaman dan metode pendidikan yang berlaku di berbagai tempat yang dikembangkan sejalan tuntutan kenyataan lokal. Reagen (2005) dalam Non-Western Educational Tradition: Indigenous Approaches to Educational Thought and Practices menyajikan contoh menarik mengenai bagaimana tradisi pendidikan yang berlaku di kalangan masyarakat tertentu yang menunjukkan keunikan dan karakteristik berbeda dengan tradisi pendidikan yang mendominasi praksis pendidikan moderen yang diimpor dari Barat.

C.  Urgensi Pengembangan Ilmu Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Dalam pengamatan sejumlah kritikus pendidikan di tanah air, salah satu kelemahan pendidikan di Indonesia karena para pengambil kebijakan pendidikan kurang memahami dan memberi kesempatan kepada para akademisi dan peneliti untuk menggali kekayaan budaya yang terdapat di daerah dalam membangun teori dan praktik pendidikan (Rasyidin dalam Natawidjaya, et al., Ed. 2007: 27; Tilaar, 2005; 2003; Salim, 2007). Sikap silau dan terlalu mengagungkan teori pendidikan dari Barat dan perasaan rendah diri terhadap khazanah budaya lokal menyebabkan model pendidikan yang dikembangkan di Indonesia tidak lebih dari penjiplakan dan copy paste model pendidikan negara lain. Trend atau kecenderungan pendidikan yang dikembangkan di negara-negara maju tanpa melalui analisis seksama atau adaptasi yang diperlukan dengan begitu mudah dialihkan untuk diterapkan di Indonesia, akibatnya guru dan para pelaksana pendidikan di tingkat lokal sering dibingungkan dengan pemberlakuan kebijakan baru. Pakar pendidikan, Winarno Surakhmad dalam Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi mengemukakan:

 “Ukuran keberhasilan pendidikan di Indonesia ialah sejauhmana pendidikan nasional merupakan usaha yang relevan ditinjau dari amanah konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejauhmana pendidikan mendatangkan kesejahteraan pada bangsa ini. Sejauhmana pendidikan berhasil membangun sebuah bangsa yang bermartabat, kokoh dan maju. Selama semua itu tidak tercapai, pendidikan nasional tidak bermakna apa-apa dan tidak patut dibanggakan, di peringkat manapun letaknya dalam perbandingan dengan negara manapun di dunia ini. Inilah kecenderungan yang sering menjebak para birokrat pendidikan ketika mereka bertekad memperbaiki pendidikan di Indonesia. Kecenderungannya segera menerapkan ukuran atau konvensi yang sempat dicontohkan dari luar negeri.”

Pendidikan merupakan fenomena universal, tetapi dalam pelaksanaannya senantiasa melibatkan pergulatan dengan konteks lokalnya. Ketika berbicara mengenai pendidikan berkualitas misalnya,  setiap bangsa dan komunitas perlu merumuskan indikator yang berpijak pada karakteristik lokalnya. Peniruan tanpa kajian sungguh-sungguh hanya membawa kegagalan. Contoh terbaru misalnya dapat dilihat pada eksperimentasi sekolah bertaraf internasional yang saat ini mulai kehilangan momentumnya, setelah tiga tahun sebelumnya begitu diagung-agungkan sebagai terobosan membenahi pendidikan nasional terbukti hanya menghasilkan perubahan artifisial dan menghabiskan biaya besar dan mengorbankan anak didik sebagai kelinci percobaan.

Pengembangan ilmu pendidikan tidak sepatutnya terisolasi dari dinamika keilmuan di luarnya. Belajar dari perkembangan sosiologi, antropologi dan bahkan teknologi yang saat ini memberi perhatian lebih besar untuk mengintegrasikan dimensi lokal dalam pengembangannya, ilmu pendidikan juga perlu memberi atensi menggali berbagai kearifan lokal masyarakat untuk memperkaya perspektifnya. Dalam konteks pendidikan masyarakat di Aceh, ketika pemerintah menggulirkan dan mendengungkan pentingnya pendidikan karakter, salah satu upaya yang harusnya mendapat perhatian dari kalangan akademisi di perguruan tinggi adalah bagaimana menggali dan merevitalisasi kearifan lokal masyarakat Aceh sebagai landasan pendidikan karakter. Mengacu pada nilai-nilai yang berlaku tersebut akan lebih menghemat waktu, tenaga dan sekaligus dapat meningkatkan partisipasi dan rasa tanggungjawab berbagai komponen masyarakat melestarikan dan mengembangkan relevansi kearifan lokal masyarakat Aceh yang semakin tergerus tantangan dan pengaruh globalisasi.

Penutup

Ilmu pendidikan telah menjadi salah satu disiplin ilmu yang masih bertumbuh. Perkembangannya yang sudah melampaui perjalanan yang panjang masih menyisakan banyak persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih seksama. Perubahan tantangan kehidupan yang semakin kompleks berpengaruh langsung terhadap berbagai aspek-aspek yang perlu ditanggapi oleh ilmu pendidikan, baik dalam tataran teoritis maupun praktisnya. Mencukupkan diri pada khazanah ilmu pendidikan yang telah dibukukan tidak lagi memadai menjawab tantangan yang menghadang. Mengutip sebuah ungkapan Khalifah Ali bin Abu Thalib, yang menyatakan bahwa setiap generasi perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu dan pemahaman baru, karena setiap generasi mempunyai tanggungjawab mendidik generasi berikutnya yang mempunyai karakteristik dan tantangan yang tidak selalu sama dengan para pendahulunya.

Ilmu pendidikan di Indonesian yang masih berkiblat pada pendekatan dan model ilmu pendidikan yang diimpor dari luar, sudah waktunya memberi ruang lebih serius untuk menggali khazanah tradisi pendidikan yang telah berkembang dan memberi kontribusi dalam praktik pendidikan di tanah air selama berabad-abad lamanya. Upaya ini tentu tidak mudah, tetapi bukankah lebih baik bersusah payah saat ini daripada kemorosotan jatidiri dan karakter bangsa pembeo yang saat ini dilekatkan pada bangsa ini terus berlanjut. Martabat sebuah bangsa akan sangat ditentukan kemampuan bangsa tersebut mengaktualisasikan karakter unggulnya dan mentransformasikannya melalui teori dan praktik pendidikan. Pengalaman Jepang melakukan restorasi pendidikan terbukti memberikan hasil yang mencengangkan. Nilai rendah hati, malu melangggar aturan, penghormatan terhadap leluhur, serta sederhana dalam bertindak merupakan sebagian di antara kearifan lokal masyarakat Jepang yang berhasil diintegrasikan melalui ilmu pendidikan dan diaplikasikan dalam teori dan praktik pendidikan di negari matahari terbit tersebut.

 

Referensi

Brameld, Theodore (1955). Philosophies of Education in Cultural Perspectives. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Dahlan, Ahmad Djawad. (2007). “Landasan Antropologi” dalam Natawidjaya, Rochman., et al., Ed. Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia .

Drost, D.J. (2006). Dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) sampai MBS (Manajemen Berbasis Sekolah: Esai-Esai Pendidikan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Harefa, Andreas (2000). Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Gramedia

Natawidjaya, Rochman., et al., Ed. (2007). Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Press.

Rasidin, Wayni. (2007). “Pendidikan Sebagai Ilmu” dalam Natawidjaya, Rochman., et al., Ed. Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Press.

Reagen, Timothy (2005). Non-Western Educational Tradition: Indigenous Approaches to Educational Thought and Practices. 3rd Edition. New Jersey: Lawrence Erlbaum

Salim, Agus. Ed. (2007). Indonesia Belajarlah!: membangun Pendidikan Indonesia. Yogyakarta: Tiara Wacana

Sirozi, M. (2005). Politik Pendidikan: Dinamika Hubungan antara Kepentingan Kekuasaan dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Rajawali

Sudjana, Djudju. (2007). “Perkembangan Ilmu Pendidikan dan Keterkaitannya dengan Ilmu-ilmu Lain” dalam Natawidjaya, Rochman., et al., Ed. Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Press.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Surakhmad, Winarno. (2009). Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi. Jakarta: Penerbit Kompas.

Tafsir, Ahmad. (2005). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya

Tilaar, H.A.R. (2002). Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia: Strategi Reformasi Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tilaar, H.A.R. (2002). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Zimmerman,  Barry J., Schunk, Dale H. Ed., (2003). Educational Psychology: A Century of Contributions. New Jersey: Lawrence Erlbaum

*Al Musanna, M.Ag. Dosen Pengembangan Kurikulum pada STAIN Gajah Putih Takengon.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.