by

Rahasia Pacu Kude Takengon Tetap Menawan

Tradisi pacu kude (lomba berpacu kuda) di Takengon, Aceh Tengah hingga kini masih hidup dan terus dilakoni masyarakatnya dari generasi ke generasi selama hampir 2 abad. Rahasianya, kecintaan masyarakatnya yang mendarah daging dan ketersediaan sarana pacuan kuda berpanorama indah.

Minggu siang itu (29/4/2012), beberapa kuda pacu tengah adu cepat lari atau pacu di lintasan pacuan kuda di Takengon yang berlangit mendung. Jokinya 5 bocah laki-laki berusia di bawah 10 tahun. Uniknya, mereka berpacu kuda tanpa pelana.

Itulah salah satu rahasia keunikan pacu kude di Takengon yang membedakannya dengan pacu kuda di daerah lain. Sekaligus menjadi pemandangan tak biasa dan membersitkan kekaguman tersendiri, terutama buat orang yang baru kali pertama melihatnya.

Sejak pagi, puluhan warga mulai dari anak-anak hingga orangtua menyaksikan pacu kude dari pagar pembatas di bagain atas lapangan. Beberapa penonton lainnya menonton dari tribun khusus penonton yang kondisinya sampai sekarang belum rampung 100 persen.

Tak banyak orang yang datang menyaksikan pacu kude, karena hari itu bukan ajang lomba melainkan latihan yang kerap dilakukan para joki setempat saban Minggu pagi hingga jelang sore.

Dari sejumlah penonton itu, ada rombongan peserta lomba rally foto bertema “Gayo Cultural Heritage” yang diselenggarakan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai tradisional (BPSNT) Banda Aceh di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah selama dua hari, Sabtu-Minggu (28-29/4/2012). Tujuan utama rombongan para fotografer dari Banda Aceh, Kabupaten Aceh Tengah, Bireuen, Bandung, dan Jakarta ini untuk mengabadikan akitivitas pacu kude dan suasana sekitarnya.

Tapi kalau sedang lomba yang biasanya diadakan pada bulan Agustus bertepatan dengan perayaan kemerdekaan RI, dipastikan penontonnya melimpah ruah. Sampai jalan menuju ke arena pacuan kuda ini macet.

Lomba pacu kude selalu dinanti-nanti masyarakat Takengon dan sekitarnya, termasuk para joki yang menjadikan ajang ini sebagai pembuktian ketangkasan memacu kuda pacu secepat mungkin.

Salah satunya Rijal Pahlevi (19), joki muda yang pernah empat kali menjadi juara lomba pacu kude di arena ini.

Pemilik 4 kuda pacu bernama Grico, Ciung Wanara, Gunter, dan Rintes ini tengah bersantai dengan Grico, kuda pacunya yang tadi diajaknya latihan di rerumputan dekat arena pacuan.

Menurutnya selain latihan, perawatan kuda pacu juga beda dengan kuda biasa atau kuda ternak. “Kuda pacuku setiap hari dikasih makan empat telor dan dedak selain rerumputan. Mendekati lomba, sehari dikasih 5 telur dan lainnnya,” jelasnya membuka rahasiakesuksesannnya sebagai juara.

Seperti Rijal, rupanya para joki bocah di Takengon mengikuti jejak ayahnya. Rijal sendiri mengaku belajar jadi joki dari ayahnya yang pejoki kuda pacu andal. “Aku belajar berkuda dari ayah dan aku memang bercita-cita menadi joki profesional,” akunya.

Saking cintanya berpacu kuda, remaja bertubuh mungil ini sampai tidak mau melanjutkan sekolah ke SMA. Kakak lelakinya justru memilih sekolah dan kini sudah kuliah semester dua. “Aku cuma lulusan SMP, aku lebih memilih berlatih jadi joki, kalau sekolah bikin aku pusing,” ungkapnya.

Pilihan Rijal itu semula disayangkan oleh orangtuanya.Tapi setelah dia membuktikan diri berhasil menjadi juara lomba pacu kude sebanyak 4 kali, orangtuanya pun kini mendukung kegiatannya.

Besar uang yang didapat nya sebagai juara pertama lomba pacu kude cuma Rp 5juta. Jumlah tersebut, menurutnya tidak menutupi untuk biaya perawatan dan makan kuda sehari-hari. Kendati begitu, Rijal tetap bangga melakoninya.

Kebanggan Rijal sebagai joki kuda pacu itu juga dirasakan para joki bocah lainnya. Kecintaan terhadap tradisi pendahulunya itulah yang membuat pacu kude Takengon terus hidup dan berkembang.

Kebanggaan berpacu kuda pada masyarakat Gayo di Takengon sudah ada sejak lama. Dulu, saat masyarakat menanti panen padi, mereka biasanya mengisi waktu luangya dengan berbagai kegiatan pilihan seperi begule (menangkap ikan) di Danau Laut Tawar, mungaro (berburu) di hutan, uwer (berternak), dan sebagian lagi yang hobi berpacu kuda merawat kuda pacunya.

Selepas luwes belang atau pascapanen padi, mereka mengadakan lomba pacu kude sebagai hiburan. Biasanya pada bulan Agustus, saat musim kemarau. Itu terjadi sebelum Belanda menginjakkan kaki di Bumi Gayo.

Dalam buku Pacu Kude: Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo, yang ditulis Piet Rusdi, tenaga peneliti BPSNT Banda Aceh disebutkan awalnya pacu kude di Takengon ini tumbuh pada pertengahan abad ke-19, sekitar tahun 1850, sebelum Belanda masuk ke Takengon. Lokasinya di Kampung Bintang, Kecamatan Bintang, tepatnya di pinggiran Danau Laut Tawar sebelah Timur.

Ketika itu masyarakat Takengon berpacu kuda di lapangan yang rutenya memanjang dari Wakep ke Menye sepanjang lebih kurang 1,5 Km, di tepi pantai yang berpasir sehingga kemudian lokasinya disebut Pasir Bintang.

Pemenangnya ketika itu hanya mendapat “Gah” atau marwah yang diperebutkan secara bergantian. Lalu dilanjutkan dengan acara syukuran dengan sistem berpegenapen atau saling sumbang untuk biaya perayaan kemenangan itu.

Melihat pacu kude semakin semarak, pemerintah Kolonial Belanda memindahkan arena pacuan kude ke Blang Kolak yang sekarang bernama Lapangan Musara Alun dengan tujuan menyatukan rakyat dan tentu mengambil hati rakyat.

Lomba pacu kude era penjajahan Belanda itu diselenggarakan sekaligus untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina secara meriah. Hadiahnya pun bermacam antara lain biaya makan kuda dan piagam.

Pada tahun 1956 bersamaan dengan terbentuknya Kabupaten Aceh Tengah, pacuan kuda ini diambilalih Pemkab Aceh Tengah.

Untuk meningkatkan kualitas kuda pacu, Bupati Aceh Tengah ketika itu Buchari Ishaq mendatangkan kuda pacu dari Australia untuk dikawinsilangkan dengan kuda asal Gayo sekitar tahun 1995. Hasil persilangannya disebut Kuda Astaga atau Australia Gayo yang berpostur lebih besar dan larinya lebih cepat dibanding kuda lokal.

Kuda pacu indo itu membutuhkan lapangan pacu yang memadai. Karenanya saat Aceh Tengah dipimpin Bupati Mustafa M. Tammy dengan persetujuan warga, lapangannya dipindahkan dari Musara Alun ke Blang Bebangka pada tahun 2002 hingga sekarang.

Kebersihan dan Variasi Kegiatan

Arena pacuan kuda di Blang Bebangka, Takengon punya kelebihan tersendiri dibanding arena pacuan kuda lain di Indonesia. Arena ini terletak di tengah lembah di Dataran Tinggi Gayo yang dikelilingi perbukitan. Udaranya pun sejuk. Siapapun betah berlama-lama, asal tidak hujan.

Hamparan rerumputan mengelilingi lembah yang dialiri sebuah sungai berair jernih dan deras. Sungainya menjadi lokasi mandi kuda pacu usai mengikuti lomba atapun latihan.

Sayangnya, kondisi sekitar arena pacuan kuda ini tidak dipelihara dengan baik oleh pengelolanya. Terutama soal kebersihan. Sampah plastik berupa gelas air mineral, kemasan makanan kecil, kantung kresek dan lainnya berserakan dimana-mana bahkan sampai di arena lintasan. Itu amat mengganggu pemandangan.

Salah satu penyebabnya, selain tingkat kesadaran kebersihan masyarakatnya dalam hal ini penontonnya amat rendah, juga karena sarana tempat sampah hampir tidak ada.

Bayangkan setiap ada lomba pacu kude yang ditonton ratusan bahkan ribuan orang, sementara tempat sampah tidak ada. Mereka otomatis membuang sampahnya di jalan menuju lokasi, areal sekitar lapangan dan juga di lintasan.

Bila kondisi ini didiamkan, bisa jadi bumerang. Wisatawan yang datang jauh-jauh untuk menyaksikan pacu kude di sini menjadi risih, lalu menceritakan kejorokan itu ke orang lain di daerah atau di negaranya.

Oleh karena itu perlu dilakukan penyadaran kebersihan terus menerus kepada masyarakat dan pengelola pacauan kuda, agar mereka tahu bahwa kebersihan sebuah arena olahraga, memberi nilai lebih di mata penonton terlebih wisatawan. Jika pacuan kuda di Takengon bersih dan rapih, jelas akan semakin dilirik wisatawan.

Disamping itu, harus memperbanyak kegiatan di pacuan kuda ini untuk menghindari kebosanan pengunjung, sekaligus untuk menjaring wisatawan baru. Jadi tidak cukup hanya lomba pacu kude yang digelar setahun sekali.

Caranya dengan terus menambah kegiatan baru agar lebih bervariasi, misalnya lomba hias kuda pacu, festival kuda gayo, paket melihat proses perawatan dan pemandian kuda pacu, pemilihan duta joki Takengon, dan sebagainya yang dirangkai dengan pesta budaya berupa pementasan Tari Saman, Didong, hiburan musik tradisional, dan pameran industri kreatif setempat berupa aneka kerajinan dari Kerawang Gayo, olahan kopi, sayur-mayur, dan buah-buahan.

Bila kedua hal itu (kebersihan dan variasi kegiatan) diindahkan, termasuk di dalamnya keamanan, ketertiban, dan keramahan masyarakatnya terhadap pengunjung, dipastikan pacu kude di Takengon bukan lagi sekadar hidup dan menawan, pun mendatangkan berbagai keuntungan ekonomi dari kunjungan wisatawan baik lokal, Nusantara maupun mancanegara. Pun tak menutup kemungkinan investor akan tertarik menanamkan modalnya dalam bentuk sarana dan fasilitas wisata, seperti rumah makan, penginapan dan lainnya. (Adji Kurniawan, adji_travelplus@yahoo.com, Sumber : travelplusindonesia.blogspot.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.