by

Hana Gunee Sekulah ike ku Empus Ulake

Oleh: Irwan Putra*

KATA-KATA ini sering sekali kita dengar diucapkan oleh sebahagian orang tua yang pada dasarnya masih belum sepenuhnya mengerti dan memahami arti pendidikan. Kata-kata ini terucap takkala ada seorang anak menyampaikan keinginannya kepada orang tuanya untuk melanjutkan sekolah  atau melanjutkan keperguruan tinggi apalagi ke universitas yang berada diluar daerah selain karena pertimbangan masalah biaya mereka menganggap bahwa sekolah tinggi-tinggi tak terlalu penting dan bahkan tidak berguna sama sekali. Sekolah tinggi-tinggi hanya menghabiskan waktu, uang dan tenaga, malah nantinya sama sekali tidak akan menghasilkan uang.

Terlebih kepada kaum wanita terkadang orang tua lebih keras dalam memaksakan kehendaknya agar kaum hawa ini hanya duduk diam dirumah dan menunggu pria yang akan melamarnya, karena bagi orang tua buat apa kuliah karena kodratnya hanya akan menjadi ibu rumah tangga yang sibuk di dapur dan serta mengurusi anak, oleh karena itu wanita tidak usah sekolah tinggi-tinggi.

Kalau bagi lelaki ketika muncul perkataan orang tua ‘tidak usah bersekolah’ ada beberapa yang memang berniat/bertekat kuat sehingga memaksakan diri untuk sekolah walaupun harus berusaha sekuat tenaga dalam memenuhi dan membiayai kuliahnya sendiri, dan memang terbukti banyak kaum adam yang berhasil menamatkan kuliah dan mendapat gelar, walau tanpa kiriman uang dari kampung, tetapi lain dengan kaum hawa mereka sangat lemah untuk bidang ini mereka cenderung lebih patuh/taat terhadap perintah orang tua mereka, sehingga banyak dari mereka mengurungkan niatnya walau pun mereka memiliki IQ yang tinggi,

Ada anggapan yang melekat pada orang tua jaman dahulu “Tidak usah sekolah tinggi-tinggi ike kahe ku empus we belohe” –Tidak usah sekolah tinggi-tinggi kalau nanti ke kebun juga-. Ini merupakan Strikes At The First Blow langkah awal yang buruk terhadap motivasi dan psikologi sang anak terlebih lagi si anak bermental lemah sehingga sang anak akan terpengaruh oleh pemikiran yang sama dengan orang tua atau sanak familinya, sehingga pemikiran ini turun dan membentuk pemikiran yang sama bagi si anak.

Banyak juga orang tua yang kurang perduli dengan pendidikan anaknya, karena dalam pikiran mereka sekolah hanyalah sebagai ajang pelarian dari pekerjaan dan sekolah tinggi-tinggi hanya menghabiskan uang dan setelah tamat dari perguruan tinggi hanya ‘numpang honor di kantor atau insitusi pemerintah saja.’

Tanggapan ini berkembang karena orang tua mengamati proses yang terjadi di lingkungan mereka, banyak orang yang bersekolah atau berpendidikan hanya ‘numpang honor’ dan ada yang tidak sekolah sampai ke perguruan tinggi malah sama-sama ‘numpang honor’ ditempat yang sama, jadi buat apa kuliah tinggi-tinggi sampai harus keluar daerah jika tetangga samping rumah yang tamat SMA saja bisa pakai baju dinas. Pikiran ini bukan saja berkembang dalam lingkungan keluarga, tetapi di lingkungan masyarakat pemikiran yang sama juga berkembang, malah lebih hebat dari pada di lingkungan keluarga, ini terbukti ketika saya melanjutkan pendidikan ke luar daerah tetangga yang sudah berusia sekitar 60 tahun mengatakan kin sana male kuliah bantu inemu agen ne we untuk apa kuliah bantu ibumu saja.

Pernah juga terlintas dalam pikiran saya perkataan tetangga tadi, sebagai seorang anak saya memang di wajibkan berbakti dan mengabdi kepada kedua orang tua, tetapi di sisi lainnya saya juga berpikir tentang kewajiban seorang muslim dalam menuntut ilmu, maka terkadang-kadang terjadilah pergolakan dalam batin saya mengenai kedua hal ini, tentang apa yang harus saya lakukan.apakah saya harus berbakti atau menuntut ilmu? terlepas dari pikiran jernih saya yang sebagian besar mungkin dipengaruhi oleh ego yang kuat saya memutuskan untuk melanjutkan, karena hemat saya dengan pendidikan/ilmulah nantinya saya bisa berbakti dan membahagiakan kedua orang tua.

Masyarakat pada umumnya ingin melakukan perubahan terhadap status ekonomi, tetapi bagaimana kita bisa melakukan perubahan jika masyarakat sendiri masih belum mengetahui duduk permasalahanya, mengapa sampai saat ini mereka masih hidup pas-pasan? walau anggota keluarga mereka-yang beranggapan sekolah hanya akan menghabiskan uang- banyak yang tidak sekolah, dengan tidak menyekolahkan anakya seharus nya telah banyak penghasilan karena mereka mempunyai banyak waktu untuk membantu pekerjaan orang tua mereka misalnya bercocok tanam, tetapi kehidupan mereka sama saja, tak ada perubahan setelah mempekerjakan anak di kebun dengan maksimal.

Pemikiran yang demikian ini nantinya akan menjadi sebuah ancaman yang nyata bagi generasi kita. Kita bisa melihat suku Aborigin di Australia dan suku Indian di Amerika, mereka tersingkirkan dari moderenisasi Kota hingga Birokrasi, mereka hanya sebagai penonton dan tersudutkan dalam semua bidang karena mereka tidak mempunyai ilmu sebagai landasan tempat berpijak untuk mempertahankan suku mereka di tengah arus Globalisasi yang terus menerus mengingis rasa simpati dan empati terhadap masyarat/suku asli. Kita tak bisa menapik banyak orang yang “sukses” tanpa menempuh pendidikan formal atau sekolah. Namun bukan berarti mereka yang belajar melalui sekolah tidak berhasil sama sekali.

Hasil pengamatan dengan kaca mata awam saja, jika kita bandingkan  jumlah orang yang gagal yang berpendidikan dari sekolah dan yang gagal karena tidak berpendidikan tentu banyak orang yang justru gagal karena tak sempat mengenyam pendidikan. Kesuksesan manusia bukan dari ukuran jabatan yang diraih atau kekayaan yang berhasil dikumpulkan, tetapi apakah individu mampu menjadi diri sendiri, hidup mandiri, tidak memberatkan atau merepotkan apalagi sampai merugikan orang lain.

Namun saya juga membuat perbandingan dengan rekan-rekan yang saya nilai telah ‘sukses’ berkat mengenyam pendidikan diperkuliahan, tak heran jika beberapa dari mereka memilih kembali melanjutkan pendidikan ke tahap yang lebih tinggi. Dan mereka berkeyakinan ilmulah serta kerja keras yang merubah nasib mereka saat ini, walau mereka melakukan pekerjaan yang tak sesuai dengan program yang tertera dalam ijazahnya, malah ada yang bantir stir.

Ketika selembar ijazah tidak lagi mampu mengantarkan seseorang pada pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya, maka hanya faktor keahlian hidup yang bisa menghadapkan seseorang pada sebuah pekerjaan dan keahlian hidup serta pengetahuan bisa lebih banyak di dapat dari bangku sekolah. Saya kira tidak patut kita menyesal telah meneruskan atau menuntaskan sebuah program pendidikan meski dengan biaya yang mahal. Tidak ada istilah menyesal untuk belajar sebuah ilmu, bila itu tujuannya mulia.

Hanya ke depan anak-cucu kita, ada baiknya lebih diarahkan bersekolah mencari ilmu dan juga mengembangkan keterampilan hidup. Syukur-syukur hobi, minat, dan kepintarannya bisa kian terasah karena bersekolah yang sesuai dengan potensi dan bakat dirinya.(irwanputra88[at]gmail.com)

*Mahasiswa asal Bener Kelipah di Bandung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3,627 comments