by

Gayo oh Gayo (bagian-1)

“Ledakan Emosi Yang Maha Dahsyat”

Oleh: Hafizul Furqan*

HARI-HARI yang paling singkat dalam hidup saya, perjalanan seminar International Conference on Linge Gayo Kingdom (ICLGK-I) telah sampai pada puncaknya. Artinya, ilmu, sejarah, cinta dan Malaysia harus berakhir. Saya tidak bersumpah, tapi ada janji pada diri sendiri bahwa apa yang didapat hari ini akan dikabarkan pada semua, bahkan pada dunia jika saya bisa. Bagaimana ilmu, sejarah dan cinta, yang didapat bukan ditanah kelahiran saya.

Ilmu, sejarah dan cinta yang dimaksud akan saya jabarkan satu persatu. Pada awalnya seminar ini tampak membosankan, dengan jumlah peserta yang tidak terlalu banyak dan peserta yang sebagian besar adalah orang-orang muda, membuat saya berfikir ini akan berakhir biasa-biasa saja. Ternyata sebaliknya, semua berakhir luar biasa.

Acara dimulai, Nova Iriyansyah (Anggota DPR RI asal Aceh) muncul sebagai pemateri pertama dan beliau berbicara dalam kapasitasnya, ya tentu saja politik, tapi bukan kampanye. Sebagai anggota DPR RI beliau menceritakan beberapa tokoh Gayo sebelumnya yang bisa menjadi pejabat tingkat provinsi bahkan pusat seperti beliau saat ini, kehebatan Datu Beru sang perempuan Gayo yang pernah mendapat jabatan khusus di pemerintahan Aceh, sehingga kami peserta seminar membusungkan dada yang berarti bangga.

Tapi, seketika saja kebanggaan itu berubah jadi penyesalan, ketika beliau katakan digenerasi kita “Gayo saat ini” hanya mempunyai 1 orang perwakilan untuk tingkat DPR RI, 1 orang DPD RI bahkan di Aceh pun kita yang menjadi penduduk dengan jumlah terbanyak kedua, tidak mempunyai perwakilan dengan jumlah yang sesuai. Hal ini semakin terasa menyesakkan ketika tau bahwa untuk dapat menempatkan perwakilan sangat sulit bagi masyarakat Gayo. Banyak solusi yang beliau tawarkan, tapi untuk menjalankannya tentu harus didukung oleh seluruh masyarakat Gayo.

Belum lagi puas dengan penjelasan Nova, moderator harus memanggil pemateri kedua karena batasan waktu yang tersedia. Tgk. M. Salim Wahab (mantan dosen antropologi dan pelaku sejarah) bercerita tentang adat istiadat dan tatakrama yang dibentuk di tanah Gayo. Beliau membuat suasana menjadi rileks kembali dan pertanyaan muncul bertubi-tubi. Tentang tatakrama, banyak sekali yang sudah terlupa oleh kita orang Gayo, jadi malu rasanya mengaku orang Gayo tapi tidak tau adat istiadatnya.

Pesan yang beliau gambarkan dari hukum adat Gayo adalah kepekaan dan kehormatan dalam diri seseorang. Jika rasa malu sudah hilang maka tidak ada hukuman yang akan membuat dia sadar. Adat Gayo tidak menghukum fisik semata, tapi menghukum harga diri dan harga diri sulit untuk di pulihkan.

Pemateri selanjutnya berbicara tentang hukum, Majda El Muhtaj dan DR. Jum Anggriani. Keduanya adalah sarjana hukum yang bekerja di Medan dan Jakarta. Majda membahas hukum Islam dan kaitannya dengan adat istiadat Gayo. Dari penjelasannya dapat disimpulkan bahwa penerapan hukum Islam di masyarakat Gayo adalah sebuah keniscayaan karena adat Gayo dan Islam adalah sesuatu yang bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan.

Sedangkan DR. Jum menjelaskan tentang perbedaan sistem pemilihan pemimpin di Gayo dan Indonesia. Untuk memilih pemimpin, Gayo mempunyai syarat-syarat khusus begitu juga dalam pemerintahan RI. Hanya saja di Gayo syarat tersebut di tentukan oleh penilaian masyarakat dan di negara kita syarat itu ditentukan oleh surat keterangan dari polisi. Penilaian ala Gayo menurut beliau lebih baik, karena moral seseorang harus dinilai oleh orang-orang yang ada di sekitarnya dan tau tentang dia, bukan oleh secarik kertas yang di keluarkan oleh orang yang bahkan tidak saling mengenal sebelumnya. Kebanggaan kembali muncul dalam diri kami.

Hari berikutnya, pertemuan kembali berlanjut, Fikar W. Eda seorang sastrawan (artis Gayo), yang selama ini hanya saya lihat dari kejauhan yang paling dekat saya lihat lewat vidionya, hari itu tepat di hadapan saya menjadi salah seorang pemateri seminar. Beliau  berbicara masalah seni, menurut beliau dan tentu saja semua orang Gayo sepakat, Gayo memiliki karya seni yang beragam setidaknya ada tiga macam seni yang populer di tanah Gayo.

Siapa yang tidak tau Tari Guel? Tarian bersejarah, adalah tarian yang sering dipentaskan dalam event-event tertentu seperti acara pelantikan, penyambutan tamu dan yang cukup sering adalah pada pesta pernikahan. Tarian ini biasa dilakukan oleh pemuda Gayo Aceh Tengah dan Bener Meriah. Saman, tarian fenomenal yang sudah diakui Unesco, ternyata sebagian besar masyarakat Gayo Lues dan Aceh Tenggara bisa menarikan tarian ini. Yang terakhir adalah Didong, tanyakan pada semua orang Gayo, saya yakin mereka tau apa itu Didong dan saya juga yakin sebagian besar orang Gayo baik Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara bisa ber-Didong. Bahkan mungkin saudara kita Gayo Kalul (di Pulo Tige, Tamiang), (Serbe Jadi, Aceh Timur) dan (Lhok Gayo, Aceh Barat Daya) bisa ber-Didong.

Akan tetapi, karya yang diciptakan sendiri dan dinikmati sendiri sangat tidak baik dalam dunia seni. Kita harus mengenalkannya pada Indonesia, pada dunia sebelum orang lain yang memperkenalkannya dengan nama mereka. Untuk itu seni harus dimengerti oleh penikmatnya, dan Didong mungkin bisa kita kenalkan dengan bahasa yang berbeda (Aceh, Jawa, Indonesia, Inggris) dan bahasa apa saja agar semua bisa menikmatinya.

Semangat saya semakin menggebu untuk memperkenalkan Gayo kepada dunia. Bersambung…(hafizulfurqan35[at]yahoo.com)

*Salah seorang peserta International Confrens Gayo Kingdom (ICGK-I) Kedah Darulaman, 7-9 Oktober 2012

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.