Takengon | Lintas Gayo – Produk unggulan dataran tinggi Gayo, kopi Arabika menuju pasar dunia secara lebih luas, cepat dan mudah akan mulai menerapkan prinsip-prinsip E-commerce.
Electronic commerce transactions atau e-commerce, yaitu proses transaksi di mana pertukaran barang dan jasa dilakukan dengan menggunakan internet dan media digital lainnya. Dengan e-commerce ini, masyarakat dapat dengan mudah melakukan jual-beli global dengan masyarakat di belahan dunia lain.
Melalui e-commerce produk dapat dipasarkan di dunia maya melalui jaringan internet berupa pemasangan iklan hingga pengelolaan website guna melayani jual beli produk kopi.
“Artinya, kita seperti membuat papan iklan dan membuka toko didunia maya, serta melakukan transaksi tanpa harus menghadirkan fisik”, ungkap Asisten Ekonomi Pembangunan Setdakab Aceh Tengah, Drs. Muhammad Syukri, MPd, Senin (17/12) disela-sela seremoni pembukaan pelatihan e-commerce bagi komunitas kopi setempat yang disupport langsung oleh Tim dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi.
Kegiatan ini berlangsung di aula Universitas Gajah Putih, Pegasing. Kegiatan ini turu dihadiri Wakil Ketua DPRK Aceh Tengah, M. Nazar, Ketua Forum Kopi Aceh, Drs. H.Mustafa Ali, dan sejumlah pimpinan SKPK terkait.
Dalam kapasitasnya mewakili Pj. Bupati Aceh Tengah, Muhammad Syukri mengatakan penggunaan teknologi informasi dapat memberi kemudahan bagi pemasaran kopi bila dibandingkan dengan proses perdagangan kopi kovensional seperti yang selama ini dilakukan.
“Buyer-buyer diluar negeri tidak perlu datang secara langsung bila ingin membeli kopi, cukup dengan melakukan transaksi elektronik”, katanya.
Pelatihan e-commerce kopi menurut Deputi bidang pendayagunaan Iptek Kemenristek, Idwan Suhardi merupakan follow up dari kunjungan Menristek, Gusti Muhammad Hatta 22 September 2012 lalu.
Idwan Suhardi, meyakini melalui program ini nantinya akan menambah alternatif bagi komunitas kopi Aceh Tengah untuk memasarkan produk kopi gayo secara lebih luas.
“Praktek jual beli yang selama ini terjadi dianggap masih belum relatif menguntungkan petani, karena keuntungan dari hasil produksi dan penjualan sebahagian besar masih dinikmati pedagang akibat keterbatasan pengetahuan dan informasi bagi petani”, katanya.
Idwan melanjutkan, melalui pelatihan e-commerce kopi diharapkan petani kopi gayo dan roaster memiliki dasar pengetahuan mengenai pemasaran kopi secara elektronik serta dapat membuat para petani lebih update terhadap informasi terkini mengenai komoditas kopi.
Kegiatan pelatihan e-commerce kopi oleh kemenristek di Aceh Tengah sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) melalui penguatan pendayagunaan Iptek guna mendukung pengembangan komoditas unggulan berbasis kebutuhan teknologi daerah.
Karena itu dalam pelaksanaannya, kata Idwan melibatkan universitas Gajah Putih Takengon, melalui Fakultas Teknik Informatika yang diharapkan dapat mendampingi keberlanjutan program e-commerce kopi di Aceh Tengah.
“Potensi kopi gayo sangat besar, dengan penerapan teknologi informasi diharapkan semakin meningkatkan kesejahteraan hidup para petani kopi”, pungkasnya
Sementara itu, Kadis Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan ESDM Aceh Tengah, Munzir, SE, MM ditempat terpisah mengatakan pihaknya selaku leading sektor utama dalam pemberdayaan ekonomi petani kopi akan terus konsen melakukan upaya-upaya kontruktif guna meningkatkan nilai tambah produksi kopi.
Munzir mengharapkan kerjasama dengan pihak kemenristek dalam hal transfer teknologi lainnya yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyaraat, khusunya kesejahteraan petani kopi.
“Sebagai komoditi utama daerah dan agar dapat bersaing dalam pemasaran global, pengelolaan kopi gayo membutuhkan penyesuaian dengan teknologi yang memungkinkan dapat memberikan nilai tambah bagi petani,” jelas Munzir. (SP/Red.03)