by

Puisi Kopi L.K. Ara

Malem Diwa Memetik Kopi

Perlahan ia mengusap mata
Tak percaya apa yang dilihatnya
Malem Diwa memetik kopi
Dan puteri bungsu mendampingi
Ia mengusap mata lagi
Dari atas pesawat terbang
Ia menyidik ke bawah sekian ribu kaki
Ia memandang ke dataran tinggi
Negeri Gayo yang asri
Ke pinggir danau
Ke bukit bukit hijau
Ke ladang ladang kopi
Ke bening air kali

Di lembar awan ia terkesan
Membaca tulisan
Riwayat masa lalu
Dan petuah para datu
Negeri kita negeri kayangan
Kelak jadi rebutan
Jangan sampai berpindah tangan

Bila awan sirna
Dan mata bercahaya
Ia memastikan Malim Diwa
Sedang memetik kopi
Putri bungu mendampingi

Kini ia percaya
Dari atas ketinggian sekian ribu kaki
Dapat ia saksikan
Malim Diwa memetik kopi
Ia percaya
Ia pastikan dengan mata hati

Banda Aceh, 15/10/2012

Mereguk Kopi Di Puncak Gedung DBP*

Mereguk kopi di puncak gedung DBP hari itu
Sambil nonton baca puisi dunia Numera
Alangkah nikmat
Kopi lezat
Baca puisi hidmat
Para penyair datang dari tujuh negara
Semua menampilkan suara
Jerit derita
Dan suka cita
Ditampilkan dalam nyanyian
Dalam hentakan
Dalam senandung
Tentang bumi yang murung
Kadang dalam gelak
Yang menghentak
Dunia yang marak
Berpacu pada kemajuan
Gedung gedung pun beradu tinggi
Ingin menggapai awan

Tiba tiba ingatan
Melayang  ke kampung halaman
Dimana kebun kopi sangatlah luas
Seluas mata memandang
Lembah dan bukit menghijau
Hijau  daun kopi
Lembah dan bukit kemilau
Kemilau  daun kopi
Sinar matahari pun selalu rindu
Rindu sepenuh rindu
Datang setia mencumbu

Hanya aku pun teringat  pula
Pada nasib petani kopi
Masih tersaruk saruk di antara batang kopi
Terbungkuk bungkuk dibawah riap daun kopi
Lelah memetik kopi
Dan tak memetik hasil
Dengan harga yang terpuji

 Kuala Lumpur – Banda Aceh, Okt 2012.

*DBP = (Dewan Bahasa dan Pustaka) Malaysia.

lk ara
L.K. Ara, lahir di Takengon, Aceh, 12 November 1937. Pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar Umum (Medan), Pegawai Sekretariat Negara, terakhir bekerja di Balai Puataka hingga pensiun (1963-1985). Bersama K. Usman, Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali, mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Memperkenalkan penyair Tradisional Gayo, To’et, mentas di kota-kota besar Indonesia. Menulis puisi, cerita anak-anak dan artikel seni dan sastra. Dipublikasikan di Koran dan majalah di Indonesia, Malaysia dan Brunai.

Karyanya yang sudah terbit antara lain: Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969), Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980), Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982), Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984) Catatan Pada Daun (BP, 1986), Dalam Mawar (BP, 1988), Perjalanan Arafah (1994), Si Karmin jadi Ulama , Cerita Rakyat dari Aceh I, (Grasindo, 1995), Cerita Rakyat Aceh II, (Grasindo, 1995), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed. YN, 1995), Belajar Berpuisi (Syaamil Bandung), Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (l997), Aceh Dalam Puisi (ed. Syaamil, 2003), Langit Senja Negeri Timah (YN 2004), Pangkal Pinang Berpantun (ed. DKKP, YN, 2004), Pantun Melayu Bangka Selatan (ed. YN, 2004), Pucuk Pauh (ed YN 2004) Syair Tsunami (Balai Pustaka 2006), Puisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006), Tanoh Gayo Dalam Puisi ( YMA, 2006), Kemilau Bener Meriah (YMA, 2006), Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah (BRR 2006), Sastra Aceh (Pena, 2008), Antologi Syair Gayo (Pena, 2008), Ensiklopedi Aceh I (ed YMAJ, 2008), Malim Dewa dan Cerita Lainnya (ed. YMAJ, 2009), Ensiklopedi Aceh II (ed. YMAJ, 2009).
Puisinya dapat juga ditemukan dalam: Tonggak, (1995), Horison Sastra Indonesia 1 (2002), dan Sajadah Kata (Syaamil, 2003). Menunaikan ibadah haji 1993, mengikuti Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995), Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatera Barat (1997), Pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam, Pangkalpinang, Bangka (2003), Pertemuan Dunia Melayu Islam, Malaka, Malaysia (2004).Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram NTB (2007), Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta (2008), Seminar Perpustakaan di Bandung (2009). Penghargaan: Memperoleh Hadiah Seni dari Pemda Aceh (2009).

Puisi LK. Ara dinyatakan berhak menjadi nominator karya yang akan dimuat dalam Buku Antologi Puisi “Secangkir Kopi” terbitan The Gayo Institute (TGI) dengan kurator Fikar W Eda dan Salman Yoga S.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.