by

Sekolah Menulis itu Bernama ‘Lintas Gayo’

Catatan: Iranda Novandi*

pasfotoPADA suatu malam, persisnya saya tidak tahu, tapi pastinya di tahun 2011. Saya diperkenalkan kepada seseorang oleh Pak Muhammad Syukri, orang pemerintahan di Kabupaten Aceh Tengah yang pada hari itu menjadi juara I lomba menulis yang diselenggarakan Walhi Aceh.

Disebuah restoran berlebel Amerika Serikat dikawasan Simpang Limong Banda Aceh, sambil menikmati jus segar, mengawali perkenalan saya dengan seseorang yang bernama Khalisuddin. Sosok sederhana dimata saya, meskipun ia menjabat posisi penting di sebuah media (komunitas) online di dataran tinggi Gayo, yang diberi nama LintasGayo.com.

Dari cerita malam yang juga dihadiri seorang seniman yang duluan saya kenal dengan panggilan Joe Samalanga. Cerita malam itu mengalir menyejukan bagaikan, aliran sungai Peusangan yang mengairi lima kabupaten/kota di Aceh.

Berbagai cerita, ide, harapan terbangun dalam percakapan kami ber-empat. Intinya bagaimana bisa memberi pencerahan dan pencerdasan kepada masyarakat Gayo secara luas, baik di Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara, juga terhadap masyarakat Gayo perantauan dimanapun berada dibelahan bumi ini.

Selepas pertemuan tersebut. Mulai malam itu, salah satu situs yang selalu saya buka setiap harinya adalah LintasGayo.com, disamping web atau situs lain yang saya gunakan untuk memperkuat referensi saya sebagai seorang wartawan.

Meskipun hanya sebentar, setiap hari selalu saja saya lirik apa yang disajikan oleh tim kreatif LintasGayo. Kondisi ini terus berulang setiap harinya. Hingga suatu saat tanpa sebab, tiba-tiba LintasGayo tidak bisa di akses. Error tersebut sampai berapa hari terjadi. Anehnya, saya merasa kehilangan, seakan ada yang kurang, saat saya berhadapan dengan monitor Laptop.

Rasa rindu yang mendalam itu sirna, saat LintasGayo kembali online dan bisa di akses. Sejak saat itu, saya intens mengikuti perkembangan LintasGayo, baik sekedar ingin mengetahui apa yang terjadi dikampung halaman, atau apa saja aktivitas masyarakat Gayo dibelahan dunia ini.

Hingga suatu hari, sayapun merasa ingin ikut berbagi di LintasGayo ini. Hal itu saya lakukan lewat diskusi via HP, chat facebook, atau kopi darat sama teman Khalisuddin saat ia ke Banda Aceh dan kedekatan saya dengan tim kreatif LintasGayo semakin terasa, saat mereka datang ke Banda Aceh untuk mengisi sebuah acara di Aceh TV dalam acara Keberni Gayo yang di asuh seorang tokoh Gayo di Banda Aceh Jamhuri.

Hubungan yang intens tersebut terus terbangun, bukan saja dengan Khalisuddin, namun juga dengan yang lainnya seperti Darmawan Masri. Salah satu tulisan lelaki lajang ini membuat saya terpincut yakni tentang Matematika (maaf saya tak ingin persis judulnya), lalu ada juga Win Ruhdi Bathin, yang lebih dahulu saya kenal lewat tulisan dan foto-fotonya, baru orangnya. Ada juga penulis perempuan yang bernama Ria Devitariska. Tulisan cewek satu ini, saya sukai, karena cara penyajiannya yang bertutur atau cerita yang mengalir, ringan dan mudah dipahami.

Kian lama, makin banyak yang saya kenal, secara karakter skillnya. Sebut saja, Salman Yoga, yang kerab saya kenal puisinya di harian Analisa tempat saya berkeja. Sedangkan oranya baru saya kenal, sejak mengenal LintasGayo. Begitu juga anak muda jenius dimata saya yakni Salihin, ahli IT, yang juga web master dari LintasGayo ini. Kenapa jenius, karena ide-ide segarnya kerab muncul untuk memperkenalkan Gayo kepada dunia lewat dunia maya.

Terakhir saya berbincang dengannya saat usai pendaftaran Fauzan A Zima sebagai calon Dewan Perwakilan Daerah, April lalu. Satu ide briliain yang saya tangkap, ia ingin ada atau membuat pustaka online tentang Gayo dan satu lagi membuat GPS atau Gayo Map. Sehingga siapa saja yang datang ke Gayo bisa dibantu dengan GPS atau Gayo Map itu.

Selain tim kreatif LintasGayo, saya juga mulai mengenal satu per satu mahasiswa, guru, dosen, masyarakat, tokoh Gayo yang cerdas, pintar dan mempunyai cita-cita luhur untuk mencerdaskan masyarakat Gayo. Mereka itu saya kenal lewat tulisan-tulisan mereka yang senantiasa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Gayo lewat ide-ide segarnya lewat tulisan yang selalu di muat di LintasGayo.com.

Tanpa sadar, saya berpikir bahwa LintasGayo ini adalah sekolah menulis bagi masyarakat Gayo, bahkan bagi masyarakat Indonesia. Sebab, bukan saja urang Gayo, namun banyak juga penulis dari berbagai daerah di Indonesia ikut menulis di media ini, meski tanpa ada honor, layaknya sebuah media massa umum lainnnya.

Bagai ruang terbuka, LintasGayo membuka lebar kesempatan untuk siapa saja untuk mau menulis di media ini, tanpa mengenal dari mana  (belah: Gayo-pen), suku apa, bahkan tingkat atau status sosial dari penulis tersebut. Kesempatan menulis yang terbuka lebar ini, saya pikir tidak pernah akan ada di media manapun.

Sungguh beruntung rasanya urang Gayo, jika mampu memanfaatkan media ini sebagai batu loncatan menuju jenjang menulis professional, tidak mesti jadi wartawan yang sesunggunya. Sederhanya, berapa biaya yang harus dikeluarkan, jika ingin mengikuti sekolah khusus menulis? Tentu sulit untuk bisa menjawabnya dengan angka pasti.

Maknya, saat beberapa hari lalu, LintasGayo kembali error, hati saya kembali menangis. Sebab, betapa banyak urang Gayo diberbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri ingin berbagi informasi lewat tulisan terhenti semangatnya.

Terakhir, marilah kita terus berbagi lewat tulisan, jadikan LintasGayo ini jadi sekolah sekaligus guru “spiritual” untuk awal menulis. Memang, tidaklah sesempurna layaknya sebuah universitas atau Perguruan Tinggi atau sekolah jurnalitik/menulis yang memang sudah professional. Namun, apa yang dilakukan LintasGayo ini  sudah teramat besar.

Terimakasih LintasGayo…(iranda_novandi[at]yahoo.com)

*Wartawan Harian Analisa di Banda Aceh/Direktur Diklat PWI Aceh Priode 2010-2015

Comments

comments