by

Ini Dia, Cara Ali Amran Berkebun Kopi Gayo

Arul Latong | Lintas Gayo : Seorang petani Kopi Gayo varietas Gayo 1 (G1) atau lebih dikenal sebelumnya Timtim, Ali Amran Aman Lahat yang bertempat tinggal di Kampung Arul Latong mengungkapkan sejumlah jurus atau tips bagaimana dia mengelola kebunnya sehingga dipilih oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sebagai salah satu dari tiga kebun bibit kopi di Aceh Tengah. Varietas Gayo 1 (G1) adalah salah satu dari dua varietas yang telah dilepas sebagai salah satu varietas kopi unggulan Nasional yang disahkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Dirjen Perkebunan yang disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3998 dan 3999/ Kpts/ SR.120/12/2010 pada tanggal 29 Desember 2010 lalu.

Kepada Lintas Gayo yang berkunjung ke kediaman Ali Amran, Selasa (5/7) lalu diungkapkan bahwa dirinya mengelola kebun kopi tidak terlalu luas di dekat rumahnya. “Kebun saya luasnya tidak lebih dari 1.5 hektar saja dan saya setiap hari masuk kerja seperti pegawai,” kata Ali Amran didampingi istrinya, Mutiara.

Pengakuan Ali Amran, seumur-umur sebagai petani kopi, dirinya samasekali tidak mengenal nama Sarana Produksi (Saprodi) pertanian buatan pabrik yang banyak dijual dipasar. “Saya tidak pernah memakai pupuk dan obat semprot apapun selama berkebun kopi,” kata Ali Amran sambil meminta Lintas Gayo menanyakannnya kepada warga sekitar jika tidak percaya.

Selain itu, dirinya juga mengaku tidak pernah mendapat petunjuk dari pihak terkait di Pemerintahan seperti  Penyuluh dalam usaha taninya. “Saya tidak pernah mendapat bimbingan cara bertani kopi dari penyuluh pertanian atau belajar dari buku,” tegasnya.

Ali Amran menjelaskan cara kebun kopinya yang disiangi (Gayo : ilelang) 3 bulan sekali yang waktunya bisanya saat awal musim hujan. Dia tidak pernah membasmi rumput dengan menyemprot obat buatan pabrik atau dengan membabatnya (Gayo : i tebes).

Untuk perawatan batang kopi, Ali Amran biasa melakukan 3 jenis pemangkasan yaitu nyeding (mengambil tunas baru yang tumbuh), nyerlak (mengambil cabang yang tidak diperlukan), ngompres (membuang cabang atas) dan Mumangkas (pangkas berat yang biasanya untuk kopi yang sudah tua).

“Saya melakukan itu semua biasanya pada bulan Mulud pertama,” katanya tanpa menjelaskan kenapa dilakukan pada waktu tersebut.

Ayah 6 orang anak ini juga menyarankan agar saat panen jangan mengambil buah hijau atau masih mengkal (belum merah penuh). “Ambil saja yang merah-merah saja, karena akan berpengaruh kepada berat buah kopi saat ditimbang. Kopi merah pasti lebih berat,” imbuh pria yang pendiam namun suka tertawa ini.

Hama penggerek buah dan batang kopi juga sangat jarang dijumpai Ali Amran di kebunnya. “Mungkin karena saya rajin membuang cabang kering sehingga hama tersebut sangat jarang saya jumpai,” katanya

Dia juga menyarankan kepada petani kopi Gayo agar tidak perlu mengelola lahan kopi dengan luas lebih dari 1 hektar jika tidak didukung oleh tenaga kerja mencukupi. “Jika satu keluarga seperti saya ini saya rasa cukup 1 hektar saja yang dikelola dengan sebaik mungkin,” katanya sambil menceritakan ada rekannya yang pernah menjual lahan di Arul Latong kurang dari 1 hektar dan membeli gantinya di tempat lain yang lebih luas dan ternyata kini malah terbengkalai tidak terurus.

Kenapa dia memilih varietas Timtim ?, Ali Amran mengungkapkan karena berbuahnya berangsur-angsur dan panennya sepanjang tahun. “Masa tidak berbuahnya paling lama 2 bulan,” ungkapnya sambil mengatakan dirinya panen 15 hari sekali.

Selanjutnya bagi berminat mengambil bibit dari kebunnya, dia mempersilahkan untuk datang dan mengambil atau memilih sendiri buah kopi merah dari kebunnya dengan harga Rp.350 ribu perkalengnya. “Datang dan petik sendiri buah kopi dari kebun saya. Tapi jangan lupa bayar,” kata Ali Amran sambil tertawa.

Selaku umat Islam, Ali Amran mengaku selalu membayar zakat mal untuk hasil panen kopinya langsung setiap habis panen jika sampai nisabnya. “Saya selalu membayar zakatnya setelah dapat uang dari hasil panen. Saya tidak menunggu atau emngumpulkannya dulu selama setahun untuk membayar zakat,” katanya.

Dalam menjalani kehidupan, Ali Amran paling alergi jika harus bermasalah dengan imam. “Saya tidak peduli siapa sosok iman yang menjadi petugas penerima zakat. Yang penting saya sudah setorkan kewajiban saya,” pungkasnya sambil tersenyum.

Sementara dari penyampaian Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Aceh Tengah, Hermanto kepada Lintas Gayo beberapa waktu lalu ada tiga petani kopi di Aceh Tengah yang kebunnya ditetapkan sebagai kebun bibit kopi varietas G1 (Timtim).

Selain Ali Amran ada Abdullah Aman Senan di Kampung Arul Latong kecamatan Bies dan Taharuddin Aman Ona di Kampung Uning Kecamatan Pegasing dengan luas lahan keseluruhan sekitar 2.5 hektar.

Untuk harga bibit G1 yang sudah di polibag, dikatakan Hermanto, umur 7-8 bulan (7-8 daun) dihargai Rp.3900,- perbatang dan yang berumur 5-6 bulan (5-6 daun) Rp.3000,- perbatangnya.

Tahapan varietas G1 dari bibit hingga berbuah dirincikan Hermanto, Persemaian 2 bulan dan Pembibitan antara 5-8 bulan. Setelah dipindahkan kekebun, maka diumur 2.5 tahun adalah masa belajar berbuah dan dan setelah itu adalah masa produksi dengan hitungan produksi makasimal 1.3-1.6 kilogram perbatang pertahunnya dalam bentuk Green Bean. (Khalis)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.