by

Menjadi Komunitas Kompetitif

Oleh Johansyah*

 

Di antara sisi kelemahan orang Gayo menurut penulis adalah rendahnya semangat bersaing atau tidak kompetitif terutama dalam dunia bisnis dan dagang. Bukti paling akurat untuk membela persepsi ini adalah semakin langkanya pedagang atau pebisnis orang Gayo yang mendiami pusat-pusat perbelanjaan dan perdagangan di Aceh Tengah maupun Bener Meriah. Barangkali kajian pernah diangkat dalam diskusi Keberni Gayo di Aceh TV yang dipandu oleh Abang Drs. Jamhuri, MA dan pembicara Drs. Mahdi Batera, M.Si beberapa bulan lalu.

Ditinjau dari aspek sosio-kultural, masyarakat Gayo memang bukanlah tipe komunitas yang mau bersaing terutama dalam wilayah persaingan dagang dan bisnis. Sampai-sampai sebuah lagu Gayo mendeskripsikan kondisi ini dengan nada sindiran ‘urang Gayo galip putetebang, beluh mumancang, urang aceh simunewei simpang’.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar orang Gayo kurang tertarik dengan profesi berdagang. Bahkan jika mereka memiliki area tanah strategis di pinggir jalan, yang terpikirkan hanya menjualnya dengan harga yang tinggi dan mencari gantinya ke wilayah-wilayah marjinal, di samping harganya murah murah dan tentu ukurannya lebih luas.

Secara kasat mata, kita dapat melihat jelas pusat-pusat perdagangan di wilayah Aceh Tengah maupun Bener Meriah yang secara umum didominasi oleh suku-suku non Gayo yang begitu gigih dan bersemangat dalam melakukan kegiatan perdagangan. Sementara jarang sekali orang Gayo kita temukan di sana. Bukan berarti kita iri kepada mereka, akan tetapi mengapa kita tidak mau seperti mereka?.

Sekiranya merujuk kepada pola pendidikan keluarga, kita juga melihat sebagian besar dari orang tua tidak begitu peduli untuk mengajarkan anak mereka berbisnis atau berdagang secara mandiri. Bahkan mental gengsi dan malu tertanam dalam jiwa sebagian besar anak Gayo. Mereka merasa malu dan mungkin merasa hina ketika harus berjualan di simpang lima atau jualan buah di pinggir jalan, menjajakan Koran atau menjual rokok. Bandingkan dengan suku perdatang, terutama Aceh dan Padang yang tidak pernah sungkan melakukan usaha apa saja asal memperoleh pendapatan.

Pengaruh Geografis

Jika ditinjau dari aspek sosiologis, kondisi rendahnya kemauan masyarakat Gayo berkiprah dalam dunia dagang dan bisnis dipengaruhi oleh kondisi geografis yang begitu subur. Artinya dengan kondisi tanah yang begitu baik dan ketika semua kebutuhan masyarakat terpenuhi, mereka tidak tertantang dan sibuk mencari penghasilan ke wilayah luar Gayo, karena semua mudah diperoleh dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga filosofinya pun masih hidup untuk makan.

Selain itu kurangnya pembauran masyarakat Gayo ke perantauan atau wilayah lain yang berbeda kultur juga berpengaruh terhadap rendahnya elan masyarakat Gayo dalam mengembangkan bisnis dan perdagangan. Seperti yang kita tau bahwa secara umum masyarakat Gayo bukanlah karakter masyarakat perantau melainkan tipe masyarakat yang betah di wilayahnya sendiri (meran mujegei sunut).

Kondisi ini barangkali dapat kita koralasikan dengan sejarah masa lalu masyarakat Gayo yang dalam catatan sejarah dikatakan sebagai suku pertama yang mendiami Aceh, tapi mengapa mereka sampai menyisihkan diri jauh ke pedalaman. Barangkali hal ini disebabkan oleh tipe atau karakter masyarakat Gayo di atas yang memang tidak mau dan tidak suka bersaing.

Sekarang ini, peta pergeseran masyarakat Gayo dari pusat kota ke wilayah pedesaan semakin kelihatan sekaligus menyadarkan kita bahwa roda perdagangan dan aktifitas bisnis di Aceh Tengah maupun Bener Meriah saat ini digerakkan oleh komunitas-komunitas perantau dari berbagai wilayah Indonesia. Sedikit sekali ruko-ruko yang berjejeran di perkotaan dihuni oleh komunitas Gayo. Bahkan kebanyakan (selain mereka yang berprofesi sebagai pegawai negeri) hijrah ke kaki gunung untuk membuka lahan baru pertanian dan perkebunan.

Sadar Tapi Belum Berbuat

Sebenarnya kondisi rendahnya semangat kompetitif ini sudah kita sadari, namun sayang kesadaran tersebut belum diikuti dengan perubahan cara berpikir dan aksi nyata. Untuk orang Gayo yang pernah merantau barangkali agak lebih agresif melakoni perubahan ini.

Yang harus disadari oleh masyarakat kita adalah bahwa lahan perkebunan dan pertanian kian hari terus berkurang seiring dengan pertambahan penduduk yang datang dari berbagai suku dan belahan dunia. Maka ketika lahan pertanian sudah sulit ke mana lagi masyarakat mencarinya?. Sementara para pendatang dengan modal keterbatasan terus berusaha keras untuk dapat memperoleh tempat di pusat-pusat kota agar mereka dapat memanfaatkannya untuk berdagang dalam mencari nafkah keluarganya. Satu hal yang kita harus akui dari komunitas Aceh (terutama Pidie), mereka akan bertahan walau di tanah dengan ukuran 2 meter persegi, asalkan letaknya di pinggir jalan. Berbeda dengan kita yang berusaha mencari tanah luas dengan tujuan untuk santai.

Dulu para orang tua kita mungkin masih memperoleh warisan tanah, sawah dan kebun yang luas dari kakek kita. Tapi jangan harap generasi selanjutnya juga mengalami kondisi yang sama sebagaimana orang tua kita dulu, sebab areal tanah terus berkurang, sawah-sawah akan terus dipenuhi oleh rumah penduduk dan itu tidak akan berhenti lagi. Lalu jika kita tidak berpikir untuk masa depan anak-anak, mau jadi apa dan di mana mereka nanti?.

Lihatlah Kala Mampak (wilayah Kebayakan) sekarang , lalu bandingkan dengan lima tahun yang lampau. Tentu kondisinya jauh berbeda, dulu Kala Mampak adalah hamparan sawah, ada pemandangan pinggir laut yang dipenuhi dengan tanaman Pelu. Tapi sekarang semua telah berubah, satu per satu bangunan kelihatan bermunculan dan kawasan persawahan lambat laun menyempit dan akhirnya menghilang, lalemi kite.

Untuk itu, warisan yang pantas kita berikan pada mereka adalah warisan kemandirian, keterampilan serta mau bersaing, tidak seperti generasi sebelumnya. Mustahil memang semua orang Gayo Jadi pedagang, namun setidaknya kuantitas orang Gayo dalam dunia bisnis dan dagang bisa bertambah.

Analoginya mungkin begini; orang baru sadar akan kesalahannya, baru shalat, tidak mau berbuat maksiat ketika dia ditimpa musibah atau bahkan nyaris menemui maut. Artinya jangan tunggu kondisi kita terjepit dahulu baru ada inisiatif untuk berbuat. Kata pepatah “sedia payung sebelum hujan”. Pepatah gayo juga mengingatkan “inget-inget sebelum kona, hemat jimet wan tengah ara”. Sebagai orang Gayo, kita jangan sekedar pandai berpendapat tapi pandai mencari pendapatan, atau kaya pendapat dan juga pendapatan.

*Penulis adalah Pemerhati Masalah Gayo

Comments

comments