by

Mungengkun

Oleh Marah Halim*

Mungengkun adalah kata kerja dalam bahasa Gayo yang khusus untuk menunjuk kegiatan menjaga anak kecil (bawah lima tahun). Pola pikir lama menganggap bahwa  mungengkun identiik dengan urusan kaum ibu, meskipun tidak ada ayat atau hadits yang menyatakan seperti itu. Dewasa ini, kaum bapak baru kena batunya; saat para istri sibuk berkarir, mungengkun akhirnya harus dilakoni juga. Enggan mungengkun siap-siaplah merogoh kocek untuk membayar iuran play group atau PAUD yang tak kalah mahal dibandingkan dengan tagihan listrik dan air. Ya, di kota besar mungengkun sudah dijadikan profesi tersendiri.

Mudahkah mungengkun? Jika yang menjawab kaum ibu mungkin akan mengatakan iya, tetapi penulis ragu jika yang menjawabnya adalah kaum bapak. Rata-rata kaum bapak bukanlah pengengkun yang baik. Kalaupun ia melakukannya dengan baik kalau sudah terpaksa, itupun hanya untuk beberapa jam. Sanggup mungengkun lima jam saja sudah lumayan. Tapi itu baru ukuran kuantitatif, belum lagi kualitatifnya. Selama lima jam itu apakah dijamin anak tidak jatuh, terpeleset, salah telan makanan, salah minum air kotor, salah aduk susu, dan sederet kesalahan lainnya akibat kelalaian. Juga, selama mungengkun apakah tidak marah, jengkel, mengkel di hati, jijik, gregetan, dan luapan emosi lainnya. Kuantitas mungkin boleh sama dengan kaum ibu, tetapi secara kualitas jelas tidak sama.

Mungengkun memang tidak melelahkan secara fisik, tetapi melelahkan secara mental. Mengapa rata-rata kaum bapak merasa berat untuk mungengkun? Hal itu tak lain karena mungengkun butuh ketelatenan, kelembutan, kesabaran, ketenangan, ketelitian, kecermatan, dan berbagai sifat yang merupakan gambaran fitrah kaum ibu. Kaum bapak jiwanya kasar dan keras karena itu sulit jika berlama-lama hendak bersikap lembut, telaten, dan seterusnya.

Untuk bisa mungengkun perlu latihan mental atau olah mental yang cukup. Seorang ibu muda yang baru melahirkan saja perlu waktu lebih kurang setahun untuk bisa menerapkan sifat-sifat di atas. Jika dilakukan oleh orang yang tepat, mungengkun akan menjadi seni tersendiri, tetapi jika dilakukan oleh orang yang terpaksa maka akan menjadi siksaan tersendiri juga.

Mungengkun adalah kemampuan mental untuk melayani dengan prima, prima dalam arti cepat, tepat, dan memuaskan. Mungengkun juga berarti memberi tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan dari orang yang dikengkun. Mungengkun juga bermakna membimbing dan mengarahkan agar yang dikengkun tidak salah dan melakukan kefatalan. Mungengkun juga bermakna mendidik dan memberi teladan, karena pengengkun dengan sendirinya menjadi guru untuk yang dikengkun. Jadi, bagi penulis mungengkun sama dengan memimpin. Banyak istilah modern yang digunakan untuk menunjuk kepada pemimpin, ada yang menyebut kepala, ketua, manajer, bupati, walikota, dan sebagainya. Dalam bahasa Gayo yang paling halus, semua predikat itu sesungguhnya adalah pengengkun.

Adakah beda antara mungengkun dengan memimpin suatu masyarakat? Hampir tidak ada bedanya. Memimpin masyarakat adalah memimpin organisasi yang lebih besar; sama saja sesungguhnya dengan memimpin atau mungengkun keluarga sebagai organisasi yang paling kecil dalam masyarakat. Karena itulah banyak orang mengatakan bahwa seseorang yang sukses mengengkun atau mengurus keluarganya biasanya akan sukses mengurus organisasi yang lebih besar, apakah setingkat kampung, kota, kabupaten, provinsi, bahkan negara sekalipun. Ini karena organisasi keluarga dengan segala dinamika yang yang ada di dalamnya adalah simulasi dari organisasi yang lebih besar.

Pengengkun selalu dihadapkan pada masalah yang semuanya harus diselesaikan. Bukan sekedar selesai secara kuantitas tetapi juga berkualitas. Menjadi pengengkun harus siap menghadapi tuntutan masyarakat yang kadangkala sulit dimengerti. Persis anak kecil yang merengek minta kue, begitu dikasih belum tentu itu yang dia mau. Pengengkun yang tidak sabar biasanya akan naik darah dan langsung mendikte ”ini kue yang enak, jangan banyak tingkah”. Yang dikengkun mungkin akan terima juga tetapi dengan perasaan berat. Ini bukan menyelesaikan masalah tapi menambah masalah.

Berani mengajukan diri menjadi calon bupati/wabup artinya berani menjadi pengengkun yang akan melayani, memberi, mengarahkan, membimbing, mendidik, dan sekaligus memimpin orang yang dikengkun. Yang perlu diingat adalah bahwa mungengkun adalah pekerjaan mental yang dilakukan dengan mental yang terlatih. Butuh jam terbang yang tinggi dan sertifikat dari lembaga yang berlesensi untuk menjadi pengengkun yang baik. Jam terbang dan sertifikat untuk menjadi pemimpin sekelas bupati/wabup ada dalam catatan batin masyarakat yang hendak dikengkun.

Peri peradaban masyarakat Gayo masih seumur balita jika dibandingkan dengan peradaban-peradaban maju di luar Gayo. Karena itulah Gayo perlu pengengkun yang telaten, cepat, cermat, cerdas dan cergas. Selain itu dia juga harus sabar, tenang, teliti, tegas. Dia juga harus kreatif, inovatif, inventif, improvitatif agar masyarakat yang dia kengkun bergerak menuju kedewasaan peradaban. Kita masyarakat Gayo sudah lelah dan letih bahkan stress karena dikengkun terus oleh orang yang seharusnya juga masih dikengkun. Bukannya memberi malah berebut nasi dengan yang dikengkun.  Na’uzubillah min zalik.

*Pemerhati pemerintahan, tinggal di Banda Aceh.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.