by

Fitnah

Oleh: Marah Halim*

 

Dua buah ayat al-Qur’an dalam surat yang sama, surat al-Baqarah ayat 191 dan 217, membicarakan tentang suatu perbuatan yang sangat keji dan sangat besar bahayanya bagi korbannya. Perbuatan dimaksud adalah fitnah. Dalam ayat pertama disebutkan “al-fitnatu asyaddu min al-qatl”, fitnah lebih kejam dari pembunuhan, dan dalam ayat kedua dikatakan “al-fitnatu akbaru min al-qatl”.

Berulangnya penyebutan ini menandakan bahwa fitnah memang perbuatan yang sangat berbahaya. Apalagi fitnah itu dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan yang besar atau fitnah penguasa demi kepentingannya. Fitnah akan merusak citra dan nama baik seseorang di mata masyarakat luas. Korbannya akan mengalami kerugian materil dan spirituil, mengalami tekanan psikologis yang hebat, dan  bila tidak kuat iman, bisa-bisa committing suicide, bunuh diri.

Fitnah yang keji dialami oleh almarhum Buya Hamka ketika ia difitnah oleh rezim orde lama dengan berbagai tuduhan yang menyesatkan. Mengalami tekanan jiwa yang berat, saat itu Hamka hampir saja menyambar pisau silet, yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada di selnya. Bayangkan seorang ulama besar seperti Hamka saja hampir rubuh keimanannya menghadapi beratnya fitnah.

Fitnah pernah juga dialami tokoh-tokoh politik Islam seperti Muhammad Natsir, ketika ia sempat mendukung perjuangan PRRI di Sumatra Selatan sebagai akibat dari pertentangan pendapatnya dengan penguasa orde lama. Tapi yang amat disayangkan, ketika ia telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi, namanya tidak pernah direhabilitasi, rezim penguasa telah terlalu membesar-besarkan kesalahannya yang hanya sekedar ingin meluruskan cita-cita perjuangan negara. Orde Baru ikut-ikutan pula menelantarkan dia. Agaknya tokoh ini terlalu berbahaya bagi mereka. Sampai sekarang Natsir, mantan Perdana Menteri, belum diakui sebagai pahlawan nasional.

Fitnah sepertinya telah menjadi tradisi penguasa yang mati-matian ingin mempertahankan kekuasaannya. Berapa banyak penguasa yang memperoleh kekuasaan dengan menari-nari di atas kehancuran nama baik lawan politiknya. Karena itu tidak salah jika Qur’an mengatakan bahwa fitnah lebih besar, lebih sadis daripada pembunuhan meski keduanya adalah perbuatan yang keji. Orang yang dibunuh mungkin akan merasakan sakitnya dalam beberapa saat saja, tetapi orang yang difitnah akan merasakan sakit, mungkin, sepanjang hayatnya.

Dari sekian korban fitnahan penguasa di zamannya, sedikit dari mereka akhirnya bisa menduduki posisi orang yang memfitnahnya. Nelson Mandela di Afrika Selatan figur yang layak dijadikan teladan para pemimpin sekarang. Tatkala mereka berhasil menjadi  penguasa, sedikitpun mereka tidak tertarik untuk melakukan hal serupa padahal mereka bisa, mereka lebih memilih menyantuni ‘musuh’-nya dari pada membuatnya merana. Nelson Mandela tidak pernah berniat memberangus tokoh-tokoh penguasa rasial yang telah memenjarakannya bertahun-tahun.

Mandela bukanlah pemeluk Islam, tapi dia telah mengamalkan banyak sekali prinsip-prinsip yang sesuai dengan ajaran Islam. Amat berbanding terbalik dengan para sebagian pemimpin yang nota bene Islam. Gamal Abdul Nasser, betapapun besar namanya, tapi ia tidak boleh lupa pada Ikhwan al-Muslimin yang membesarkannya. Tapi ternyata ia bukanlah kader yang tahu berterima kasih. Dengan tujuan mengekalkan kekuasaan dan mencari muka, dia sanggup memberangus Ikhwan sampai ke akarnya-akarnya. Namun, perlu disadari, sejarah tidak pernah mencatat kebahagiaan hidup dari seorang pemimpin yang suka memfitnah, dia akan menghadapi kehinaan yang lebih hina dari orang yang pernah dihinanya, contoh-contohnya mungkin tidak perlu disebutkan lagi.

Saat ini genderang pilkada (ada yang menyebutnya dengan pemilukada) telah pun ditabuh; dan yang kita khawatirkan adalah fitnah. Jangan sampai ada calon-calon yang menggunakan pendekatan ini untuk menang. Ibarat beberu, jika ingin menjadi perhatian bebujang maka berdandanlah yang anggun, bertutur katalah yang lemah lembut tapi bukan cerel, bekerjalah dengan mutentu bukan sekedar kincel-kincel. Jika ini yang berusaha ditunjukkan para calon pasti akan mampu menarik perhatian konstituen. Tidak usah minta minyak pelet dan memasang doa pemanis agar konstituen memilih anda, sebab jika pengaruh doa tersebut telah hilang mereka berbalik membenci anda, dan itu sangat fatal akibatnya.

*Pengkaji Tata Negara dan Tata Pemerintahan, tinggal di Banda Aceh.

Comments

comments