by

Masyarakat Gayo Kaya Istilah “Tutur”

Redelong| Lintasgayo.com – Orang Gayo memiliki tutur (istilah atau system kekerabatan) yang sangat kaya. Demikian simpulan Yusradi Usman al-Gayoni, narasumber Bincang Budaya “Tutur Gayo” Pusat Kajian Kebudayaan Gayo yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu malam (15/6/2022).

Yusradi mengaku telah meneliti tutur Gayo (2008-2010) untuk keperluan tesis Program Studi Magister Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU) yang kemudian diterbitkan dengan judul “Tutur Gayo” (terbit tahun 2012, cetak kedua tahun 2014) dan “Tutur Gayo Lues” yang terbit tahun 2015.

Banner

“Seperti almarhum Pak AR Hakim Aman Pinan, membagi tutur sebanyak 52, seperti Ama, Ine, Awan, Anan, Datu. Sementara, menurut almarhum Pak Mustafa AK ada 63 macam. Bahkan, alm Pak Mahmud Ibrahim dan Pak AR Hakim Aman Pinan lebih banyak lagi, 161 bentuk tutur. Ini dikaitkan dengan syariat. Di dalamnya, termasuk 140 jenis tutur kekerabatan atau tutur kekeluargaan dan 21 jenis tutur jabatan atau fungsi. Ini luar biasa. Kaya sekali. Itu baru jumlahnya, belum lagi makna, filosofi, dan nilai yang dikandungi tutur tadi,” kata Yusradi Usman al-Gayoni.

Dilanjutkan pemilik channel YouTube Yusradi Usman al-Gayoni tersebut, orang Gayo, khususnya Gayo Lut, yang mendiami Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, mengenal sebelas tingkatan tutur. “Dari yang terendah, mulai dari Piut yang merupakan generasi yang kesebelas. Kemudian, Kumpu, generasi yang kesepuluh. Setelah itu, Anak, yang merupakan generasi yang kesembilan. Lalu, Ama, generasi yang kedelapan,” sebut Yusradi.

Setelah Ama, lanjutnya, Awan yang merupakan generasi yang ketujuh. Generasi kedelapan, Datu. “Empu, generasi kelima. Generasi keempat, Muyang. Generasi ketiga, Entah. Lalu, Rekel, gerenasi kedua. Generasi pertama, paling atas, Titok atau Keleng,” ungkap Yusradi.

Kegiatan Bincang Budaya “Tutur Gayo” Pusat Kajian Kebudayaan Gayo ini dimodetarori Desy Arigawati (Dosen Universitas Panca Sakti Bekasi), Master of Ceremony Husna Mahyana (siswi II SMK Negeri 1 Takengon), dan pembacaan puisi oleh Nadhira Luqyana Hamdani (siswi kelas I SDI Al Azhar Kembangan Jakarta).

Ihfa

Comments

comments