by

Senja Terakhir di Tanah Tercinta

Oleh Iqho Nie Faundra Gayo

Gunung yang menjulang dengan angkuhnya, udara dingin yang mendesir hingga terkadang tertusuk hingga ke tulang, danau indah penuh legenda, pohon tinggi yang menjulang yang menjadi tempat singgahan para hewan, keanggunan sunrise dan sunset, pucuk-pucuk kehidupan yang turut bernapas, kehidupan yang komunal, kehidupan yang senjang, dan sekian banyak hal lain yang tak tersebutkan tentang tanah ulayatku, tentang sejarah bangsaku, Gayo. Dan aku berdiri disini, mengenang masa laluku, dan menyaksikan diriku yang justru akan meninggalkan tanah ini. Miris, amat miris.

Kini aku berdiri menatap gunung yang menjulang itu, menyaksikan bagaimana waktu menyeret ku hingga menembus ruang waktu dan mencampakkan ku disini, berdiri dihadapan kawah sejarah yang telah aku lewati. Sedih dan bahagia, sakit dan sehat, tawa dan tangis, jatuh dan bangun, kecewa dan bangga, semuanya berada di kawah ini, berada di tanah ini, berada di tempat ini. Rahangku mengeras ketika aku mengingat masa-masa ketika aku masih menutup mata akan kerasnya dunia ini. Ketika aku mulai mencoba untuk mengenali dirku sendiri, tersesat akibat ketergilaanku sendiri mencari dua kata yang sering dianggap sakral, ‘jati diri’, dan berjalan terseok-seok menentukan arah angin perjalanan yang akan kutempuh, dan terdampar di ruang waktu ini, disini, merefleksikan semua yang aku kenali dari diriku.

Aku berdiri menahan gempuran udara dingin yang membelai lembut tubuhku, yang menusukku dari seluruh penjuru angin. Aku belum kemana-mana, tapi aku sudah merindukan semuanya. Udara dingin ini terus menggerus keenggananku untuk menangis, namun udara dingin inilah yang kelak akan kurindukan, udara yang meliuk-liuk anggun ini telah melelehkan air mataku, mengalahkanku yang beberapa saat lalu mencoba tegar, betapa aku akan merindukan semuanya, keluarga, sahabat, serta segalanya, segalanya.

Aku bertanya kepada pohon-pohon yang menjulangkan dahannya menunjuk langit yang luas namun kuat mencengkeram tanah. Sekalipun tak lagi diselimuti oleh dahannya yang rindang. Walau tak lapuk dimakan waktu, namun takluk diluruh keserakahan manusia yang menindasnya tanpa ampun. Aku bertanya tentang apa yang ia lihat, tentang apa yang ia ketahui tentang aku, tentang aku. Rahangku mengeras menahan sedih ketika pohon itu hanya diam, hanya diam. Pohon itu telah mati. Seiring dengan hilangnya secara perlahan bukti sejarah negeri ini akibat semakin panasnya suhu kepala manusia untuk bersaing dalam keserakahan, yang terkadang tanpa ampun tak menyisakan apapun lagi kisah sejarah bahwa tanah ini adalah warisan dari leluhur mereka yang di manatkan untuk diwariskan kembali untuk penerus mereka. Miris sekali.

Aku beranjak pulang ketika kusaksikan sang surya behenti menerangi Tanoh Gayoku, seiring adzan magrib yang mendayu penuh. Ditemani hujan yang jatuh rintik-rintik. Kaku dan kelam seperti yang kurasakan. Senja ini, seakan merenggutku dari tanah ini, menjanjikan masa depan semu yang harus kuciptakan sendiri. Merenggut masa kecilku bahkan dari diriku sendiri. Hanya menyisakan jalan lengang yang panjang dan sunyi harus kulalui, sepahit apapun itu. Hujan menutupi aliran air mataku, sendu. Berat kulangkahkan kakiku beranjak menuju rumah.

Dirumah, kudapati sebuah buku usang yang telah ku isi dengan ilmu pengetahuan, namun di setiap kata-kata yang tertera dalam buku itu menyimpan sejarah yang tak kasat mata tentang kisahku di sekolah, tentang kenakalanku, tentang sahabatku, tentang apa yang ku alami, tentang keberhasilanku, tentang segalanya. Namun yang paling penting, di buku itu tertulis sesuatu yang tak pernah ku tulis dan tak pernah ku kisahkan, yaitu tentang sejarah, dan tentang kebanggaanku yang telah terlahir sebagai bagian dari sebuah suku -sekaligus pernyataan yang tak terbantahkan dari kekayaan tuhan yang menciptakan makhluknya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa- Gayo. Yang telah memantik cita-cita sederhanaku untuk bisa sekedar berguna bagi tanah ulayah ku ini. Yang turut membuat bara yang telah aku sumpahkan, bahwa kemanapun aku pergi, kemanapun aku melangkahkan kaki, aku adalah bagian yang takkan pernah terpisahkan dari bangsa yang telah mendiami tanah ini sejak ribuan tahun yang lalu. Bahwa aku juga adalah seonggok sejarah yang kini masih sepi dari bangsa ini yang komunal. Sunyi sepi.

Fajar menjelang. Seirama dengan dendang subuh di hatiku yang keruh. Memanggil umat untuk bangkit dari buaian mimpi. Usai shalat aku merenung, betapa tanah ini amat sulit kutinggalkan. Semuanya, semuanya berada disini. Dan semua akan aku tinggalkan. Kureguk habis semua doa-doa, namun tak juga menenangkan hatiku, pilu.

Tak terasa surya sudah duduk di atas kepala. Matahari mulai merekah ketika aku beranjak bangkit. Memberi warna di kehidupan. Derap kaki kecil anak-anak yang melintas di hadapan mataku mengingatkanku pada kecilku ketika aku masih seperti mereka, kenangan itu menari-nari di depan mataku. Mengisahkan cerita lama yang aku alami dahulu. Seolah aku yang berada di tempat anak-anak itu. Berlari pacu dengan angin yang berhembus, ringan melangkahkan kaki menatap masa depan yang sunyi. Tanpa dipedulikan oleh orang lain. Tanpa beban, penuh harapan.

Aku mengunjungi puncak gunung, menyambangi kawan lama yang terkubur dan hanya terlihat dari sana, dan duduk termenung menyaksikan kotaku nan indah, menyaksikan bagaimana waktu merubah wajah kotaku ini, menyaksikan ketenangan danau kami, menyaksikan kehidupan yang komunal, dan menciptakan sebuah pentas monolog kosong antara aku, gunung, pohon dan angin yang berhembus. Menimbulkan kesan yang sangat dalam, bahwa aku tak peduli apapun yang terjadi di luar sana. Tapi disini, aku hanya bisa berdiri menatap senja yang turun perlahan mengganti siang yang tadinya perkasa. Menanti pesan-pesan terakhir yang disampaikan alam untukku.

Malam ini, langit bertaburan bintang, indah tak terperi, memancarkan sinar teduh, ditemani dingin yang menyentuh tulang. Namun, suasana malam itu berbeda dengan apa yang kurasa. Hatiku bergemuruh, esok aku akan pergi meninggalkan tanahku ini, pergi keluar membentangkan langkah kakiku, meninggalkan kisah-kisahku, keluargaku, sahabatku, leluhurku dan tanahku, tanah yang amat kucintai, tanah yang menyimpan kenangan yang takkan pernah dapat kulupakan. Dinginnya udara meluruhkan air mataku. Rahangku mengeras mengingat bagaimana aku bisa sampai pada titik ini, sampai pada kesimpulan bahwa apapun yang kurasakan, aku harus siap. Daun-daun bergoyang mengikuti irama alam. Perlahan, waktu berjalan menutup semua yang aku saksikan.

Senja ini, senja yang teramat dingin, sekaligus senja yang teramat pahit. Hujan rintik menetes jatuh dari langit. Selaras dengan hatiku yang beku, membiru berbekas mengisi relung-relung hatiku yang tersisa mengenang semuanya. Mendung yang tadinya membumbung kini hilang, rintikpun usai. Perlahan dari langit terlukis pelangi yang indah, sangat indah. Disaat terakhir langit memberi semangat bagiku.

Pesawat perlahan mulai mengangkat badannya terbang meninggalkan tanahku ini. Sebersit rindu tumbuh dihatiku, betapa aku mencintai semua yang ada di negeri ini. Dari langit,kuperhatikan tanahku, hijau kemayu. Dipenuhi oleh batanng pinus dan kopi. Ditanah itulah aku mulai mengenal dunia, mengetahui semua. Disana bersemayam tubuh lemah para legenda tanah ini. Terkubur beserta kisah kepahlawanan yang mulai luntur. Sebuah harga mahal dari kesan pembangunan yang digaungkan pemerintah.

Langit terang perlahan berubah kelabu. Dari langit kusaksikan keindahan panorama sore Tanoh Gayo ini. Perlahan, air mataku mengalir, sendu sekali. Aku akan merindukan segalanya, keluarga, sahabat, rekan. Dan semua yang pernah berinteraksi denganku. Aku rindu, rindu pada saat-saat aku berlari menerabas mimpi. Dan kini, aku telah berada di kaki impi itu, mengejar semuanya. Aku telah beranjak pergi, dari langit kusaksikan tanahku yang masih hijau, dan terdapat cekungan besar berisi ribuan ton air.

Disanalah segala yang aku miliki berada, keluarga, sahabat, masa kecil, jati diri, cinta, kenangan, dan segalanya. Lambaian pucuk pepohonan damar seolah mengayun memberi salam terakhirnya untukku. Dalam hati aku bertanya, kapan kita bertemu lagi Gayo? Limbung sejarahku semakin jelas, sendu. Perlahan waktu menggelapkan semuanya, tapi tidak untuk kenanganku.

***
Senja ini, hujan rintik turun satu persatu. Melepiskan panas yang seharian menguasai. Dadaku bergemuruh, senja ini, aku tak lagi berada di tanahku tercinta.

Takengon, Maret 2009.

Comments

comments