by

Resam Ulen Pasa

Keberni Gayo – Acara Keberni Gayo yang ditayangkan secara live di Aceh TV kini mendudukiĀ  nominasi acara yang terbanyak penontonnya, demikian berita Pro Haba (salah satu Koran ) yang beredar di Aceh. Pada Jumā€™at (29/07) kemaren Keberni Gayo kembali hadir dengan tema ā€œResam Ulen Pasaā€, dengan narasumber Aska Yunan, S.Ag (Pegawai Kemenag Provinsi Aceh) dan Marah Halim, M.Ag (Pegawai Widya Swara Diklat Provinsi Aceh).

Kedua narasumber memulai paparannya dengan mendefinisikan kata Resam, Ā menurut mereka resam dalam istilah yang berkaitan dengan puasa ramadhan adalah suatu kegiatan spesifik. Diantara kegiatan tersebut adalah membuat makanan lepat, yang bahannya dari tepung ketan, diremas dengan menggunakan gula merah dan selanjutnya dibungkus dengan daun pisang (keken) dengan memasukkan isi kelapa yang digonseng dan ditambah gula.

Pembuatan lepat adalah suatu aktivitas wajib bagi setiap rumah tangga, mereka membuatnya dalam jumlah yang banyak, sampai dengan takaran satu (1) kaleng pulut. PenghalusanĀ  tepung tidak menggunakan alat modern, tetapi dengan memakai lusung ataupun jingki. Lepat yang sudah dibuat, biasanya digantung (runten) di atas perapian guna untuk menjadikan lepat tahan lama.

Karena pentingnya lepat dalam tradisi menyambut bulan ramadhan dalam masyarakat Gayo, bagi mereka yang tidak membuatnya akan dicemoohkan oleh keluarga lain. Keluarga lain akan katakan bahwa isteri/ibu yang tidak membuat lepat Ā sebagai orang yang tidak kreatif, dan ini merupakan ā€˜aib bagi suami atau keluarga pihak suami.

Berbeda dengan Aceh pesisir, di mana ketika meugang merasa malu ketika tidak membeli atau mendapatkan daging. Sehingga kita lihat pada hari meugang, di mana-mana orang berjualan daging dan dipenuhi oleh masyarakat pembeli, walaupun dengan harga yang sangat mahal.

Tradisi membuat lepat sudah mulai memudar dalam masyarakat Gayo, baik bagi mereka yang berada di tanah Gayo terlebih lagi di perantauan. Kita belum temukan tradisi yang menggantikan, kita tidak dengar lagi adanya standar kreatifitas seorang isteri/ibu pada waktu-waktu tertentu untuk menyiapkan hidangan kepada anak-anaknya, sehingga menurut narasumber anak-anak lari kepada makanan-makanan yang menggunakan penyedap dan berakibat tidak bagus terhadap kesehatan.

Persiapan lain yang disiapkan masyarakat Gayo dalam tradisi menyambut ramadhan adalah persiapan fisik, pada hari megang semua orang tidak lagi mengerjakan aktivitas sehari-hari, mereka tidak lagi ke kebun, kesawah, mencari ikan. Bahkan kebanyakan anggota masyarakat berpendapat, hendaknya semua pekerjaan harus disiapkan sebelum menjelang bulan puasa, waktu bulan puasa hanya digunakan untuk berpuasa, shalat tarawih dan ibadah-ibadah sunat lain.

Rutinitas yang dilakukan para orang tua dalam bulan ramadhan, semata dilakukan dalam rangka pendidikan dan bimbingan serta pendampingan bagi anak. Ā Orang tua selalu mengajak anaknya pergi kekebun pada bulan puasa, mereka bekerja di sana dengan tidak memaksa, anak dapat beristirahat kapan ia suka, mereka boleh tidur di bawah pohon kopi atau di tempat manapun yang teduh.

Jam kerja para petani di kampong juga disesuaikan dengan kondisi bulan puasa, mereka berangkat kekebun terkadang jam 9 pagi bahkan lewat, yang terlambat bangun dibiarin, karena kebiasaan sebagian mereka setelah sahur tidur kembali. Dari segi waktu bangun sahur di Gayo memang agak cepat, mereka yang membangunkan sahur pada jam tiga, jam empat mereka sudah makan sahur dan untuk menunggu pagi rasanya terlalu lama, sehingga mereka habis shalat subuh tidur lagi.

Jam pulang kerja mereka juga tidak sama dengan hari-hari diluar bulan ramadhan, kalau biasanya mereka pulang pada jam lima, tapi pada bulan puasa mereka pulang pada jam tiga, disamping karena lelah bekerja sambil berpuasa mereka harus menyiapkan makanan untuk berbuka. Banyak makanan menurut nara sumber seperti halnya lepat yang tidak seenak ketika dimasak selain pada bulan puasa yaitu pecal (pecel), kanji (kanyi), kolak pisang (awal), kolak nangka, kolak ubi (kepile/gadung), gelame dan tidak pernah lupa walaupun sehari yaitu cecah kelat.

Satu jam atau setengah jam sebelum berbuka, anak-anak yang seharusnya bermain tanpa teringat pulang kerumah, tapi pada bulan puasa keluar masuk rumah dan selalu bertanya kepada ibu yang sedang memasak nasi, ā€œibu masih lama waktu berbukaā€Ā  mereka bermain lagi sambil menerima jawaban ā€œtidak lama lagi, pergi main terusā€. Dengan bibir yang kering suara yang parau, tidak lama berselang si anak datang lagi dan bertanya ā€œapa bukaan kita buā€, dan itu berlangsung sampai lima belas menit menjelang berbuka.

Ketika di kebun, kebiasaan si anak sering membawa apa saja yang bisa dimakan. Mereka mengambil buah jeruk, buah jambu (gelime) dan macam-macam buah yang lain. Buah tersebut dikeluarkan ketika lima belas menit sebelum berbuka, dan biasa mereka duduk mengelilingi hidangan yang telah disediakan, mereka berebut buah apa yang pertama dimakan, hidangan apa yang pertama disantap. Ada juga diantara mereka yang menangis karena berebut, si ayah dan di ibu yang juga lapar biasa memarahi anak karena berkelahi.

Seset berbunyi dari kebun-kebun yang berada di sekitar rumah, kejelian seorang bapak mulai teruji dalam melihat sampainya waktu berbuka, dengan melihat redupnya hari sambil melihat bulu yang ada di tangan memberi komando kepada semua anggota keluarga sebagai tanda masuknya waktu berbuka. Suara sendok mulai berbunyi, sebagai tanda mereka selama ini makan tidak pernah menggunakan sendok, bapak dan ibu mengingatkan ā€œkalau makan jangan bersuaraā€.

Shalat maghrib sebagai tanda ronde pertama berbuka selesai, bapak menjadi imam shalat disetiap keluarga. Mereka pada waktu maghrib tidak berjamaah di menasah (mersah), mereka berjamaah di rumah, dengan makmum semua anggota keluarga, mereka tidak pernah shalat maghrib sendiri. Salah satu ciri bapak sebagai kepala keluarga adalah mampu menjadi imem shalat dan dalam adat Gayo itu menjadi syarat bagi seorang bapak, jadi tidak ada kepala keluarga yang tidak mampu memimpin keluarga termasuk shalat.

Makan nasi dilanjutkan setelah shalat maghrib berjamaah, karena dalam masyarakat Gayo belum dianggap makan sebelum makan nasi, kendati ketika berbuka makan selain nasi dalam jumlah yang banyak. (Drs. Jamhuri, MA)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.