by

Ada 80 Pahlawan dan Orang Berjasa dimakamkan di TMP Reje Bukit

Takengon | Lintas Gayo : Sebanyak 42 pahlawan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dan 38 orang berjasa dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Reje Bukit Takengon Kabupaten Aceh Tengah yang berlokasi di jalan Lebe Kader Kecamatan Bebesen.

Data ini diperoleh Lintas Gayo dari Dinas Sosial Kabupaten Aceh Tengah melalui mantan penjaga makam tersebut ditahun 1977-2008, Thamrin Usman, Selasa (9/8) saat melakukan ziarah ke komplek makam tersebut.

 “Dulu TMP ini dibagi dua. Makam Pahlawan dibawah tanggung jawab Departemen Sosial Pusat, dan Makam Bahagia oleh Pemda Aceh Tengah. Namun kemudian pengelolaannya disatukan dan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Sosial,” ungkap Thamrin seraya menyatakan pekerjaannya sebagai penjaga TMP adalah meneruskan ayahnya setelah pensiun.

Perbedaan Makam Pahlawan dan Makam Bahagia, dijelaskan Thamrin bahwa Makam Pahlawan adalah untuk pejuang kemerdekaan atau mempertahankan kemerdekaan RI dan Makam Bahagia adalah untuk orang-orang yang dianggap berjasa untuk daerah.

Dijelaskan Thamrin, yang mengaku dirinya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena bersedia menjadi penjaga TMP tersebut dengan golongan I (satu), semula TMP Takengon berlokasi di tempat bangunan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah sekarang. Sekitar tahun 1960an, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mengambil kebijakan memindahkan TMP ke Reje Bukit.

Selain itu, dibeberkan Thamrin, seharusnya tugu Aman Dimot yang berdiri di lapangan Setdakab Aceh Tengah juga dibangun dalam lokasi TMP Reje Bukit.

“Masa Gubernur Aceh dijabat Abdullah Puteh sudah dilakukan peletakan batu pertama tugu Aman Dimot disini. Namun kemudian terjadi tolak tarik antara pengurus Veteran Aceh Tengah dengan Pemda dan entah mengapa lokasi tugu tersebut berpindah ke lokasi sekarang,” kata Thamrin.

Dari data yang ditunjukkan, pahlawan yang gugur pertama dan dikebumikan di TMP tersebut adalah pada tahun 1954 atas nama RA Mukmin, M Daudi M, Surip dan E Tingoalu. Dan paling baru atas nama Letkol Purn H Akhmad Hanafiah (1993), Lettu Mustafa Bin Yasin (1994) dan Kapten Purn Said Usman.

“Dari keseluruhan yang dimakamkan disini, tidak semua beragama Islam dan tidak semua bersuku Gayo,” kata Thamrin.

Selanjutnya untuk Taman Bahagia, tokoh yang berjasa paling pertama dikebumikan di TMP Reje Bukit adalah T Pasaribu (1959), Kopka Ahmad GS (1964),  di tahun 1965 ada M Yunus dan Basyah Puteh.

“Saya juga tidak banyak mengenal bagaimana figure para pahlawan dan tokoh yang dimakamkan di TMP ini dan tugas kalian yang muda-muda untuk mencari data-data tersebut,” pinta Thamrin seraya menyebutkan sejumlah pahlawan berdarah Gayo juga dikebumikan di Binjai Sumatera Utara selain di Tiga Binanga Kabanjahe tempat dimana Aman Dimot dimakamkan.

Selain makam-makam para pahlawan dan tokoh berjasa tersebut, dilokasi TMP ini juga ada sebuah makam dengan batu nisan kuno seperti yang banyak dijumpai di pesisir Aceh.

Thamrin mengaku tidak tau makam siapa dan bagaimana sejarahnya bisa berada di tempat tersebut. “Kakek saya yang penduduk asli Reje Bukit ini juga tidak bisa menjelaskan makam siapa yang berbatu nisa kuno tersebut,” tutur Thamrin seraya menyatakan tidak pernah ada kejadian aneh-aneh selama menjaga TMP tersebut.

Bersyukur Sebagai Penjaga TMP

Thamrin mengaku mendapat rahmat dari Yang Maha Kuasa sejak menjadi penjaga TMP tersebut. Dengan gaji yang seberapa dia ternyata mampu menyekolahkan 9 orang anaknya hingga menyelesaikan jenjang S1 dan bahkan 1 orang sudah S2.

“Tidak ada uang masuk dari pengelolaan TMP, tapi entah mengapa disaat-saat sulit selalu ada rezeki yang tak terduga,” ujar Thamrin yang mengaku masih dimintai tenaganya sebagai tenaga honorer oleh Dinas Sosial Provinsi Aceh membantu mengurusi TMP tersebut.

Menurut Thamrin, beberapa tahun lalu sering anak-anak muda yang terhimpun dalam organisasi tertentu berziarah ke TMP ini, saat Tagore Abubakar menjadi tokoh Pemuda di Aceh Tengah. “Sekarang tidak pernah lagi ada ziarah selain oleh instansi dan hari-hari tertentu,” ujar Thamrin bernada miris.

Terakhir Thamrin berharap ada gerakan dari yang generasi muda Gayo untuk menggali dan mengkaji kembali sejarah Gayo karena menurutnya kepedulian dan pengetahuan generasi muda sekarang sangat kurang terhadap orang-orang yang berjasa terdahulu. (Khalis)

Comments

comments