Gusti Lipga : Pemimpin Itu Pelayan Bukan Dilayani

Takengen | Lintas Gayo : Lembaga Ikatan Pemuda Gayo Antara (LSM LIPGA) yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, riset, hutan dan lingkungan menggelar kegiatan pelatihan kepemimpinan dengan mengusung tema “Semiloka Visioner Calon Pemimpin di Sekolah” disejumlah 26 SMP dan SMA di Takengon selama 13 hari berturut – turut.

Tujuan kegiatan ini untuk memotivasi para siswa untuk menjadi seorang pemimpin di sekolah dan menjelaskan tentang tertib administrasi. Kegiatan ini dimulai dari pukul 14.30 hingga pukul 18.00 setiap harinya yang dimulai Sabtu (7/5/2011).

Selama masa kegiatan, setiap harinya LIPGA akan memberikan pelatihan di dua sekolah yang berbeda  namun berdekatan, dengan sistem trainer yang bergantian pada tiap sekolahnya.

Di hari pertama LIPGA memilih SMPN 10 dan SMAN 8 Takengen. Murid SMPN 10 Takengen yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 65 orang bertempat di Mushala sekolah sedangkan SMAN 8 bertempat di ruang kelas berjumlah 17 peserta.

Berbeda dengan SMAN 8, menurut Selamat Efendi sang ketua OSIS, belum pernah mendapatkan pelatihan kepemimpinan selain di sekolah, SMPN 10 telah mendapatkan materi seperti ini di SMAN 4 Takengen, Kantor Polres dan GOS (Gedung Olah Seni) yang diadakan oleh Kapolres.

Interaksi di kedua sekolah berjalan tertib dan komunikatif. Gusti, salah seorang trainer dari LIPGA menyampaikan materi dengan penuh semangat dan mampu menarik perhatian para peserta.

Bahkan Zulkifli, murid SDN 10 Takengen yang datang karena ingin tahu tentang acara ini terlihat betah dan serius memperhatikan penyampaian materi pelatihan kepemimpinan tersebut.

Menurut Gusti dalam penyampaian materinya, pemimpin merupakan pelayan, bukan seseorang yang harus dilayani. Seperti perjuangan Rasulullah yang memimpin Umat Islam, tidak pernah bersedia menerima perlakuan istimewa jika masih ada umatnya yang kesusahan. Rasulullah rela tidur dalam keadaan perut lapar karena menyedekahkan persediaan makanannya kepada umatnya.

Seorang pemimpin itu, menurut Gusti haruslah seseorang yang legowo, bersedia mengundurkan diri jika melihat ada orang yang lebih pantas menyandang predikat pemimpin daripada dirinya, seorang yang ikhlas, sabar, bijaksana dalam bertindak dan berpikir, meminggirkan rasa sakit hati saat bekerja, menerima kritik atau saran serta mampu menyelami pemikiran dari timnya.

Gusti juga mengutip pernyataan Syawqi seorang senior crown ambassador “sang juara sejati adalah mereka yang bersabar dalam ujian dan bersyukur dalam kenikmatan”. (yy/ru)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3,627 comments