Kehidupan masyarakat kampong di Gayo pada tahun 1970-an mungkin tidak jauh berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah lain, kehidupan perekonmian yang hanya tertumpu pada pertanian (bersawah dan berkebun) ditambah dengan kehidupan berternak secara tradisional. Pengelolaan pertanian sawah sudah terstruktur secara sistematis sehingga pada akhirnya melahirkan istilah resam.
Pada tahun itu juga dan sebelumnya kehidupan seorang sebagai penggarap kebun belum menjanjikan, tanaman kopi sebagai barang ekport belum dikenal. Sehingga banyak masyarakat yang menumpukan hidupnya pada penanaman tebu. Kendati sebagaimana sejarahnya bahwa kopi telah ada sejak masa Belanda tapi jumlah kebun kopi sangan terbatas, mungkin ini disesuaikan dengan kebutuhan hidup masyarakat pada saat itu. Kebutuhan masyarakat pada saat itu terfokus pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti beras, garam dan gula. Sedang untuk kebutuhan pakaian belum dijadikan sebagai prioritas oleh masyarakat, sehingga tidak sedikit orang hanya memiliki satu pakaian yang melekat di badan dan satu lagi sebagai pakaian pengganti.
Sejarah kehidupan masyarakat Gayo dalam bidang perkebunan merupakan focus kajian dalam tulisan ini, dengan tidak menafikan bahwa kehidupan yang dideskripsikan ini masih dilakukan pada saat ini di daerah tertentu di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah dan juga pada saat ini pemerintah sedang mengundang investor menanamkan modal untuk penanaman tebu sebagai alternatif perekonimian rakyat. Pemaparan sejarah hidup pribadi dan masyarakat di sekitar penulis masih tetap digunakan sebagai alat untuk menggali informasi, sasaran dari mengetahui sejarah pola hidup masyarakat adalah supaya semua orang mengenal sejarah kehidupan masyarakat pada masa silam. Sedang tujuannya adalah melahirkan sebuah pengetahuan mendalam tentang kehidupan masyarakat Gayo.
Kebun tebu yang dimiliki masyarakat tidak seluas kebun tebu yang dimiliki masyarakat Blang Mancung pada saat ini, karena pada tahun 1970-an pengolahan masih sangat tradisonal dan hasil yang akan dijual juga sangat jauh bila diukur dengan berjalan kaki. Jadi kebun tebu masyarakat pada saat itu paling banyak setengah hektar bahkan tidak sampai.
Tanah yang lebih kurang setengah hektar ditanami dengan berbagai jenis tebu, diantaranya tebu hitam (tau item), tebu untuk gula (tau sakar) dan tebu Bogor (tau bogor). Tebu hitam batangnya tidak begitu panjang dan isi dan kulitnya agak lembut sehingga tebu ini sering dikunyah (ungus) dengan tidak menggunakan parang atau pisau, tebu gula batangnya tinggi isi dan kulitnya keras dan tidak sanggup digigit, tebu ini hanya cocok untuk di buat gula. Tebu bogor batangnya tidak begitu panjang tetapi lebih besar dari tebu hitam dan tebu gula, tebu ini isi dan kulitnya tidak sekaras tebu gula dan tidak selembut tebu hitam, sehingga ketika orang mau makan tebu mereka memilih antara tebu hitam dan tebu bogor. Nama-nama ketiga tebu ini tidak dikenal lagi dikalangan masyarakat penanam tebu, kalaupun ada hanya tebu hitam yang digunakan untuk dimakan, sekarang nama-nama tebu yang populer adalah tebu lokal (air atau perasnya) sering dijual dipinggir jalan dan kalau bulan puasa tebu ini banyak dikonsumsi, tebu lainnya adalah tebu teri dan tebu Surabaya.
Cara perawatan tebu tidak serumit merawat tanaman kopi, tebu lebih mudah tumbuh dan yang ditanam adalah batang yang bagian paling ujung dan boleh juga dengan memotong-motong batangnya untuk ditancapkan ketanah selanjutnya memunculkan tunas. Perawatan dari rumput dengan menggunakan cangkul cukup sekali saja selanjutnya dapat dilakukan dengan membersihkannya dengan parang sambil membersihkan batangnya dari pelepah yang sudah tua (serlak).
Ketika tebu sudah berusia satu tahun dapat dipanen, petani mempersiapkan rumah untuk memasak tebu dengan nama genuren, alat untuk memeras air tebu wingen. Genuren dibuat persis sama dengan rumah berlantaikan tanah yang tiga sudutnya diberi dinding untuk menahan angin ketika memasak, di dalam genuren tersebut terdapat tungku (keliliken) yang diatasnya dipasang kuwali besar (belanga kul) serta dipanaskan dengan memakai kayu bakar (utem). Wingen dibuat dari dua buah potongan kayu besar (balohen) yang sudah dibuat roda gigi yang berfungsi memutar balohen yang lain. Ukuran besarnya balohen sama, tapi satu lebih tinggi (balohen rawan) yang di kepalanya dipasang kayu sepanjang lebih kurang empat meter sebagai alat pemutar, satu lagi lebih rendah (balohen banan) kedua kayu besar ini didudukkan secara merapat.
Aktivitas petani tebu untuk mengahasilkan gula, dimulai dari mencari kayu bakar (utem) dalam jumlah yang banyak dan dapat digunakan untuk beberapa hari, selepas shalat zhuhur tebu di tebang dan dikumpulkan dekat dengan wingen untuk selanjutnya dibersihkan dari kulit dan tunas (sesik) yang ada di batangnya biar air tebu (peras) yang dihasilkan tidak kotor. Keesokan harinya pemerasan air tebu di mulai sejak selesai shalat subuh dan biasa baru selesai sekitar jam sepuluh.
Air tebu yang diperas menggunakan wingen diputar dengan memakai tenaga kuda atau kerbau, dan dua tenaga manusia. Satu orang untuk memasukkan tebu satu orang lagi menyambutnya, air tebu mengalir mengikuti badan baluhen turun kebawah selanjutnya ditampung dan setelah banyak dimasukkan kedalam kuwali besar untuk dimasak.
Proses memasaknya memakan waktu lebih kurang dua setengah jam, namun sebelum air tebu menjadi gula, sudah menjadi tradisi dikalangan pemasak air tebu memasukkan labu tanah (petukel), ubi kayu (gadung) atau ubi jalar (kepile) ke dalamnya untuk direbus sesudah masak menghasilkan rasa yang manis (suwel)
Gula yang dihasilkan dijual kepasar pasar terdekat, penjualan dilakukan dengan takaran liter (bambu atau are), dengan harga perhitungan pada saat itu tidak cukup untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Lalu pertanyaan dibenak kita muncul, kalaulah tidak cukup untuk kebutuhan pada saat itu, kenapa harus menanam tebu ? jawaban yang dapat diproleh ketika saya tanyakan kepada orang tua (ibu) saya, dia jawab itulah yang paling memungkinkan (paling maju) pada saat itu, sedangkan tanaman kopi belum semaju sekarang. (Drs. Jamhuri, MA)