by

Pemimpin Yang Disiplin, Jujur Dan Bersih

Mayor H. Abdul Karim Genap atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Cukup, lahir di Blangkejeren pada tanggal 04 Mei 1955. Karim bermakna hamba yang mulia. Ia merupakan putra ketiga dari pasangan Letnan H.Genap Bin Karang dan Hj. Beriah Doyot, yang saat ini masih aktif memimpin sebagai Kakanminvetcaddam (Kepala Kantor Administrasi Veteran Cadangan Komando Angkatan Darat Kodam Iskandar Muda). Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, berwibawa, humoris, rendah hati  dan merakyat.

Bapak dengan tiga anak ini, lulusan dari Tamtama Kodam-I/IM (Iskandar Muda) pada tahun 1977. Tidak bisa dipungkiri, pangkat Mayor yang kini ia sandang merupakan prestasi yang patut diacungi jempol. Mengapa tidak, ia satu-satunya  putra Gayo Lues yang saat ini berpangkat Mayor se-Indonesia. Kepangkatannya tersebut didapat setelah melewati sembilan tingkatan pangkat sebelumnya. Prestasinya ini, mengulang kembali sejarah kehadiran Kolonel Muhammad Dien yang notabene berasal dari Gayo Lues, merupakan satu diantara tujuh panglima yang ada di Indonesia. Ia juga sudah pernah diamanahi 14 (empat belas) jenis jabatan dalam struktural TNI diberbagai tempat mulai dari Banda Aceh, Medan, Kuta Cane dan Blangkejeren dan juga pernah diamanahkan menjadi Wakil Ketua DPRD Gayo Lues pada tahun 2003. Tentu saja, memimpin bukanlah hal yang asing lagi bagi Lelaki yang beristrikan Hj. Nurhayati ini.

Setiap  delapan tahun sekali dalam jajaran TNI akan memberikan penghargaan Setia Lencana Kesetiaan. Dan ternyata selama tiga kali berturut-turut, ayah dengan tiga anak ini mendapatkan Setia Lencana Kesetiaan dari Panglima TNI di Jakarta diantaranya pada tahun 1988 (Setia Lencana ke VII), tahun 1999 (Setia Lencana Kesetiaan (XVI) dan tahun 2009 (Setia Lencana XXVI). Penghargaan tersebut bukanlah mudah untuk mendapatkannya. Sebagai seorang militer, harus melewati berbagai tes yang bisa menunjukkan bahwa ia loyal kepada atasan. Selain itu, diyakini bahwa kecintaanya kepada Negara Kesatuaan Republik Indonesia tidak diragukan lagi, khususnya kepada tanah kelahirannya, Gayo Lues. Bermodalkan loyalitas tersebut, mengantarkannya menjadi Kakanminvetcaddam (Kepala Kantor Administrasi Veteran Cadangan Komando Angkatan Darat Kodam Iskandar Muda) pada tahun 2009.

Sosok yang merakyat ini, pada masa-masa konflik, tidak sedikit membantu para tukang kayu dan pedagang ganja. Mereka tidak langsung ditangkap. Akan tetapi dinasehati terlebih dahulu. Dan tidak jarang, ia memberikan lapangan kerja yang baru untuk mereka sehingga tidak sembarangan lagi menebang hutan. Disamping itu, ia juga berusaha merangkul kembali orang-orang yang terlibat sebagai kelompok separatis. Sehingga mereka kembali ke pelukan ibu pertiwi. Sehingga tidak ada perpecahan, tidak ada intimidasi di dalam kehidupan masyarakat.

Sudah hampir lima tahun, Pilkada tahun 2006 masih menyisakan luka yang cukup berarti di hati rakyat. Masyarakat menjadi terkotak-kotak. Ada kelompok A dan ada B. Ada urang uken dan ada urang toa. Sehingga sesama tetangga sajapun ada yang sampai saat ini bertolak belakang. Bagi Karim Genap sendiri, ini adalah hal yang sangat memilukan. Seorang kepala daerah dipilih bukan untuk menjadi bupati satu kelompok saja, satu kampung saja atau satu kecamatan saja. Akan tetapi untuk menjadi pemimpin satu kabupaten. Apa bila masih terdapat diskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat, maka kesejahteraan dan perdamaian itu sulit untuk tercapai. Oleh karena itu, masyarakat yang masih terpecah-belah harus disatukan, diikat dalam satu cinta, satu visi dan misi untuk membangun Gayo Lues tercinta. Untuk itulah, ia bersama Nurhayati Sahali (Calon Wakil Bupati) mencoba maju menjadi Calon Bupati dan Wakil  Bupati Gayo Lues Periode 2012 – 2017 melalui jalur independen menyandang slogan ”KATI MUSARA” yang bermakna “Agar Bersatu.” Apabila mereka terpilih, tidak boleh ada sekat dan pengotak-ngotakan dalam masyarakat. Tidak boleh ada diskrimnasi dalam pembangunan. Masyarakat akan diajak bahu-membahu, bergotong-royong untuk membangun negeri. Seperti kata pepatah “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.”

Pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Gayo Lues ini, mewarisi karir dari ayahnya Letnan Genap didalam struktur kepangkatan TNI. Pada masanya Letnan Genap merupakan TNI yang sangat merakyat dan membela rakyat khususnya pada masa DI/TII. Ia juga mendulang prestasi yang gemilang. Sehingga untuk mengabadikan jasa-jasanya, maka pemerintah Kabupaten Gayo Lues, menambalkan nama Letnan Genap menjadi salah satu jalan di Kabupaten Gayo Lues. Bukan hanya dari segi kepangkatan, tetapi ia juga mewarisi sifat sang ayah yang penyantun, dermawan, berwibawa dan rela berkorban demi kebenaran. Sebagai wujud kecintaanya kepada para pejuang (veteran), dengan bermodalkan biaya sendiri, ia membangun kantor veteran di belakang SD 4 Blangkejeren. Dengan harapan, para veteran memiliki tepat persinggahan.

Keluarga H. A. Karim Cukup sangat harmonis. Ia memiliki satu istri yakni Hj.Nurhayati, tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan dan tiga orang cucu. Ketiga anaknya tersebut sudah berumah tangga dan hidup mandiri. Nurfita Sri Dewi, Amd.Kep merupakan anak pertamanya, bekerja sebagi perawat (PNS), H. Diliga satu-satunya anak beliau bekerja sebagai wiraswasta, dan Tri Astuti, Amd,Keb anak ketiga beliau sudah PNS juga dan bekerja sebagai Bidan Desa. Secara tanggung jawab, H. A. Karim Cukup sudah menunaikan kewajiban pendidikan untuk anak-anaknya. Hal inilah yang melatarbelakangi pasangan H. A. Karim Cukup – Nurhayati mengambil kontrak politik dengan menginfakkan seluruh gaji untuk kepentingan beasiswa pendidikan anak yatim dan duafa yang khusus pada bulan pertama diinfakkan untuk mesjid Asal Penampaan. (SP/tim.red)

Comments

comments

News