by

Puisi “Cermin Bersemuka Rindu” Febri Mira Rizki

Cermin Bersemuka Rindu

Febri Mira Rizki

Entah dasar apa aku membukukan rasa;
menyusup relung kosong di labirin cinta,
meski luka menganga baluri dusta lampau;
dulu sekali, waktu senja merayap perlahan setubuhi gulita.
sematan tatap yang kau lempar dipandang kita,
tak dapat menggubris hatiku yang ragu.
sejak air mata mewakili bisikan kalbu
dan nanar memecah bulir di aliran pipiku.
adakah cermin membodohiku?
dengan puji yang nyatanya tipuan palsu.
: Kejam, kau siksa aku dalam diam!
kini kujejaki tapak yang retak atas pongahmu.
: Lupakan aku dalam tunggu tak berpintu!

Ranah Kompak, 27 Mei 2012

Kubesuk Kesunyian Malam

Febri Mira Rizki

Apa yang kusangkut di petang tadi,
tidak berselip pesan dan janji
: Sebab dalam diam kurajut asa
yang menjalar lewat kata-kata.

Tuhan, ini resah menyelinap sebongkah kisah
Apakah pendar yang Kau titip telah pecah?

Aku mencari jejak-jejak di jalan setapak
agar mencumbu kening yang kian hening;
Biarlah rasa menyeringai digelagat hari
mencari seluk-beluk mimpi meski tak pasti.

: Kelak, kuteguk bukti yang hakiki
pada maā€™rifat yang disunting mati.

Ranah Kompak, 27 Mei 2012

Alamku Bungkam Dijajah Hujan

Febri Mira Rizki

Dua puluh dua tahun yang tertenun,
berkali-kali tingkah musim bertukar.
Kini menyulap sejuk di tiap waktu
lewat undangan alam menjemput langit berkabung,
selaksa hitam berpayung di lekung awan membumbung.

Kepada musim yang dijajah hujan.
Aku telah menunggumu di telapak-telapak beku
sebelum jejak menyeretku jauh terjerembab
dan diluluhlantahkan bencana yang menganga;

: Sebundar mata gunduku tertambat
dijerat gemericik air yang berkecipak.

Pada rerumputan yang disapa embun semalam.
Aku benam rindu ini dalam-dalam
biar bisik menggelitik pun bungkam;
Jika hening ini mengunci kata tanpa nada
maka canda kita terajut tanpa makna
: Enyahlah, sebelum alamku bercerita
dan menyuguhkanmu air mata!

Ranah Kompak, 27 Mei 2012

Si [Cantik] Pemintal Dosa

Febri Mira Rizki

Pada gejolak manifestasi, mewabah janji berbungkus mimpi.
kau sulap Negeri selaksa permainan, setiap diri menjadi lakon sejati.
mendendangkan harmoni rasa lewat alibi menganak ilusi,
pun menyusup abdi yang pecah dan berserak
sebelum sempat tertata rapi di pagar pertiwi.
Bukankah mentari tidak akan melampaui batas?
sebab peri-peri penebas dendam, pelaksana keadilan, dan pengusung kebajikan
akan memergoki dan mendepaknya ke jeruji abadi.
Padahal bila tidak ada mentari, kau dapat melihat bintang-bintang petang
yang muncul berbondong-bondong menutup ego
saat licik menjejak dan menjajah hari-hari di kolong langit tak bertali.
: Ratu kecantikan agaknya lebih bangga menjadi ratu kebohongan
mungkin gelar itu lebih membuatnya terkenal
meski kerap air mata terajut berbuntal-buntal.
Ditetesnya ada virus kental memintal dosa
tentang tirakat yang berkarat
dan hartalah menjadi tanggungan di akhirat.

Ranah Kompak, 27 Mei 2012

BIODATA :
Febri Mira Rizki. Lahir di Lhokseumawe, 09 Februari 1990. Mahasiswi UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia. Karyanya pernah terbit di Tabloid Gaul, Medan Bisnis, Waspada, Mimbar Umum, Orbit, Jurnal Medan dan Media On-line.Ā  Bergiat di Komunitas Penulis Anak Kampus.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.