by

Memaknai Peristiwa Nuzulul Qur’an

Oleh : Syarifuddin*

MINGGU ketiga di bulan suci Ramadhan ini, kita akan disapa dan diingatkan oleh sebuah momentum sejarah penting dalam perjalanan umat Islam, yaitu diturunkannya al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) kepada Nabi Muhammad  Saw yang oleh jumhur ulama diyakini pada hari ke 17 dari bulan penuh ampunan ini. Maka sejak saat itulah, Nabi mengajarkan kepada umatnya, agar al-Qur’an tidak hanya dijadikan pedoman, tetapi lebih dari itu, agar menjadi pelipur lara dalam setiap kata dan tindakan sehari-hari.

Peringatan nuzulul Quran harus dimaknai sebagai proses internalisasi nilai-nilai universalitas al-Qur’an kepada hati kita. Bukan lagi dipahami atau diperingati sebagai bukti fisik saat turunnya al-Qur’an seperti 14 abad silam. Sebab, inti peringatan nuzulul Quran tidak pada dimensi eksoteris (bersifat fisikal), tetapi pada dimensi esoteris (substansial) yang lebih mengedepankan internalisasi nilai daripada seremonial yang kerap kehilangan makna.

Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan, bahwa keistimewaan al-Qur’an mengandung gramatikal bahasa yang tak ada satupun makhluk bisa sebanding dengan apa yang diucap oleh al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an adalah kalamullah (sabda Tuhan langsung) yang dianugerahkan kepada umat manusia melalui utusan-Nya dan keberadaanya pula akan senantiasa dijaga oleh Sang Pemiliknya hingga waktu tak terbatas, sebagaimana dijelaskan dalam surat  al-Hajr ayat 9:

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Goethe, seorang sastrawan Jerman pernah berkomentar menarik tentang al-Qur’an. Menurutnya, “this book will go on exercising thought all ages a most potent influence”. Bahwa al-Qur’an akan terus menggugah sepanjang masa dengan pengaruh yang luar biasa. Dengan kata lain, al-Quran dapat dijadikan cahaya hidup yang menerangi kehidupan manusia.

Semoga peringatan nuzulul Quran pada Ramadhan kali ini benar-benar membawa perubahan yang signifikan di tengah-tengah kondisi masyarakat yang sedang mengalami krisis moral. Dengan harapan, al-Qur’an dapat dijadikan cahaya hidup yang menerangi kehidupan manusia. Maka menjadi benar ungkapan Goethe di atas, bahwa al-Qur’an akan terus menggugah sepanjang masa dengan pengaruh yang luar biasa. Inilah arti penting dari nuzulul Quran.

Karena itu, yang pasti, momentum peringatan nuzulul Quran, seyogianya merupakan wahana yang tepat untuk membuat refleksi dan proyeksi diri. Refleksi diri, berarti menengok ke belakang untuk mengevaluasi dan introspeksi (muhasabah) atas pengamalan ajaran al-Qur’an selama ini. Sedangkan membuat proyeksi, berarti meneguhkan cita-cita untuk mengamalkan al-Qur’an lebih baik di masa mendatang.

Apalagi, turunnya kitab suci itu bersamaan dengan momentum bulan suci Ramadhan, yang berarti pula menambah ketajaman bagi umat Islam untuk memperdalam makna al-Qur’an secara keseluruhan. Pelaksanaan ibadah puasa mengantarkan seorang muslim semakin peka terhadap kebenaran, dari mana dan kapan pun datangnya. Tentu saja termasuk yang ada dalam kitab suci al-Qur’an yang kita yakini kebenarannya.

Dalam literatur tafsir, kata nuzul dalam bahasa Arab berarti sebuah proses turunnya sesuatu dari yang metafisik kepada sesuatu yang fisik. Dengan demikian, nuzulul Quran, berarti proses turunnya al-Qur’an dari yang metafisik (Allah) kepada yang fisik (Rasulullah Muhammad ). Sedangkan lawan kata dari kata nuzul adalah mi’raj, yaitu, sebuah proses perjalanan naik dari sesuatu yang fisikal kepada yang metafisik. Contoh yang paling aktual adalah peristiwa isra mikraj Nabi Muhammad .

Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad  sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep-konsep yang dibawa al-Qur’an selalu relevan dengan problema yang dihadapi manusia, karena itu ia turun untuk mengajak manusia berdialog dengan penafsiran sekaligus memberikan solusi terhadap problema tersebut di manapun mereka berada.

KH. A. Mustofa Bisri  seorang kiai kharismatik dan budayawan Indonesia pernah memberikan beberapa gugatan dan pertanyaan kritis soal interaksi manusia dengan al-Qur’an. Sepenting apakah al-Qur’an itu di mata “pengagumnya”? Apakah mereka menganggap al-Qur’an itu sebagai “hanya” bacaan mulia, sebagai pusaka keramat, semacam kitab fiqh atau buku kumpulan peraturan, atau seperti yang sering kita dengar dari kaum muslimin: merupakan pedoman hidup umat Islam.

Apabila al-Qur’an dipandang sebagai pedoman atau panduan hidup umat Islam, pertanyaannya adalah apakah umat Islam, termasuk ustad dan mubalig yang sering mengisi acara uraian hikmah Nuzulul Qur’an itu, sudah bisa membacanya? Bila sudah, seberapa jauh mereka memahaminya dan sejauh manakah pemahaman mereka itu telah melandasi atau mewarnai amaliyah mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi logis muncul, melihat fenomena kehidupan dan perilaku umat Islam saat ini. Bahkan pertanyaan selanjutnya yang juga muncul adalah:  benarkah mereka yang mengorupsi uang negara itu berpedoman pada al-Qur’an? Benarkah mereka yang merampas hak rakyat itu berpedoman pada al-Qur’an? Benarkah mereka yang mengabaikan atau mengkhianati amanat yang mereka terima itu berpedoman pada al-Qur’an? Benarkah mereka yang mengotori busana Nabi Muhammad r dan menodai bulan suci dengan tindakan brutal itu berpedoman pada al-Qur’an? Benarkah mereka yang menganggap diri paling benar sendiri itu berpedoman pada Quran? Benarkah mereka yang nyrimpung saudara sendiri itu berpedoman pada al-Qur’an? Kalau mau, Anda bisa memperpanjang daftar pertanyaan ini.

Momentum Nuzulul Quran ini sejatinya juga dapat dijadikan sebuah gugatan terhadap prilaku dan keyakinan yang belum selalu berdampingan dengan al-Quran bahkan menyatu dengannya. Al-Qur’an sebagai risalah terakhir yang sempurna dan universal bagi seluruh ummat manusia dengan konsep tanzil-turun, membawa atau menurunkan banyak pesan yang harus direpresentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya media seruan yang dimunculkan dalam ayat al-Quran, baik yang diseru “Wahai manusia”, “Bani Adam”, “Orang-orang beriman dan kafir” ataupun Ahli Kitab. Wallah hu a’lam bissawaf.(syarifudin_ac@yahoo.com)

*Ketua umum Taman Pelajar aceh ( TPA ) Yogyakarta/Mahasiswa Gayo Yogyakarta.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.