by

“Mengantar Nyawa Ke Pusat Gempa” (IV)

Tim Kecil Yang Solid Membelah Isolasi Gempa

Muhammad Syukr : Asisten pembangunan Pemda Aceh Tengah sekaligus  Pj. Kepala PU Aceh Tengah ( Foto; Bahtiar Gayo)
Muhammad Syukri : Asisten pembangunan Pemda Aceh Tengah sekaligus Pj. Kepala PU Aceh Tengah ( Foto; Bahtiar Gayo)

TANPA Kerja keras dan kerja sama, walau memiliki keahlian, belum tentu  sebuah pekerjaan akan mulus. Namun bila dibaringi dengan niat ihlas, sebuah tim work kecil, yang tidak diperhitungkan, namun meraih kesuksesan. Itulah yang dilakukan pihak DPUK Aceh Tengah, mampu membebaskan kawasan terisolasi gempa dalam hitungan jam.

Muhammad Syukri Pj. Kepala PU, matanya terlihat merah. Kurang tidur. Wajahnya  kusam. Namun pemikirannya tetap jalan. Usai gempa, dia menelpon penulis. “ Aman Iko, entah kita ku Ketol, ibersehi mulo dene ni. Aman Iko, ayo kita ke Ketol, kita bersihi dulu jalan ini, maksudnya jalan menuju gempa- Red”.

Namun permintaan Syukri, tidak mampu Waspada penuhi, karena sedang mengungsikan keluarga yang panik, setelah lantai rumah kediaman Waspada terbelah dihentak gempa. Ahirnya Asisten pembangunan Pemda Aceh Tengah ini, ditemani Rijaluddin, Kepala BKD membelah malam saat amukan gempa masih sahut menyahut.

Akmal,Kepala UPTD workshop PU Aceh Tengah
Akmal,Kepala UPTD workshop PU Aceh Tengah

Disisi lain, Akmal, Kepala UPTD workshop PU Aceh Tengah sedang mempersiapkan alat berat menuju kawasan terparah. “Tidak mungkin dalam situasi seperti ini kita memikirkan pencairan dana. Apapun harus dilakukan. Pekerjaan besar ini harus sukses,” sebut Akmal pada Munadi yang harus mendapatkan minyak.

SPBU tutup, listrik mati, amukan gempa ini, telah melumpuhkan Aceh Tengah. Dalam suasana kalut itu, Akmal berhasil mendapatkan minyak. Mengerahkan dua personil andalannya ke lapangan, menyelamatkan korban dan membebaskan kawasan terisolir akibat amukan gempa.

Saat di Redines, tumpukan Longsor cukup besar menutupi jalan. Bebatuan terus turun ke jalan dan perkebunan kopi. Kayu bertumbangan. Bukan makanan loader, tetapi Akmal memaksa Munadi untuk melaksanakan tugas, sesekali dia melihat ke atas gunung. Bebatuan terus turun.

Karena tidak ada mekanik chain shaw untuk memotong kayu, Akmal, mengambil peran. Walau belum pernah memegang chain shaw, dalam kegelapan malam itu, Kepala UPTD workshop alat berat ini mengadu alat pemotong ini dengan kayu yang bergelimpangan.

“Saat itu hilang rasa takut. Tidak saya pikirkan batu dan tanah yang terus turun. Saya fokus memotong pohon yang rebah di jalan antar tumpukan kayu. Ternyata yang bukan ahlinya berat juga memotong kayu,” sebut Akmal.

Hari pertama dan kedua gempa, memang semuanya serba panik. Tidak ada yang urus makan, warung tidak terbuka. Tetapi lapar dan dahaga tidak membuat tim ini mundur dari pertarungan membebaskan kawasan terisolir.

Bahu membahu, mengkondisikan lapangan, siap dimarah pimpinan, membuat tugas itu sukses. 17 titik longsor yang berat diselesaikan. “Bila kita perhitungkan hanya beko dan loader, tidak mungkin pekerjaan sebesar itu dapat kita lakukan dalam hitungan tiga hari, ruas jalan utama tuntas,” sebut Akmal.

Namun karena panggilan nurani dan tugas kemanusian, para operator alat berat ini tidak kenal lelah. “Kalau diberikan penghargaan, merekalah pahlawan  dalam gempa ini. Menyabung nyawa demi orang lain,” sebut Syukri.

“Sebagai bupati saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tulus dan benar ihlas dalam menangani musibah gempa ini. Dalam hitungan jam, dengan alat minim kawasan gempa sudah bebas dari isolasi,” sebut Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin menjawab Waspada, menanggapi kinerja stafnya di lapangan.

Sebuah tim kecil, bila memiliki tekad yang kuat dan dikoordiner dengan baik, akan menghasilkan karya yang besar. Tim PU Aceh Tengah sudah membuktikan ketika negeri Gayo Lut diamuk gempa. Bila hati tulus dan  ihlas, seberat apapun tantangan itu, akan mampu diselesaikan.  Demi kemanusian  nyawa dipertaruhkan.  Bahtiar Gayo

Comments

comments