by

“Perempuan Kopi” Raih Penghargaan Film Terbaik ADC 2013

Iwan Bahagia SP didampingi ketua prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gajah Putih saat menerima pernghargaan dari Velix V Wanggai, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah, Velix V Wanggai. (Foto: Miko Munthe)
Gambar: Sutradara film dokumenter “Perempuan Kopi” Iwan Bahagia SP (Tengah) didampingi ketua prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gajah Putih, Awaluddin (kanan) saat menerima pernghargaan Film Terbaik ADC 2013, dari Velix V Wanggai (Kiri), Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah. Acara Awards Night ADC tersebut berlangsung Senin malam, (30/9). (Foto: Miko Munthe)

Banda Aceh | Lintas Gayo – Film dokumenter yang mengisahkan tentang para penyortir kopi didataran tinggi Gayo, mendapatkankan penghargaan sebagai film terbaik Aceh Documentary Competition (ADC 2013). Film yang disutradarai Iwan Bahagia SP dan Edi Santosa dari Takengon tersebut berjudul “Perempuan Kopi”.

Film ini berhasil mencuri perhatian para dewan juri, sehingga kedua sutradara tersebut berhak mendapatkan pernghargaan untuk nominasi film terbaik pada Awards Night ADC 2013, yang digelar di Aula Balai Kota Banda Aceh pada Senin Malam (30/9).

Penghargaan dan hadiah saat itu diserahkan langsung oleh Velix V Wanggai, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah kepada Iwan Bahagia SP yang saat itu tidak didampingi rekannya Edi Santosa karena berhalangan hadir. Selain perempuan kopi yang mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik, film dari Pulo Aceh, Aceh Besar, yang berjudul “Mableuen” atau dukun beranak, berhasil menyabet dua penghargaan, yaitu penghargaan rekomendasi juri dan favorit penonton.

Ketua panitia Awards Night, Azhari mengatakan malam penganugerahan dimaksudkan untuk apresiasi kami pada sutradara, sponsor dan para pihak yang telah membantu ADC 2013. Dikatakan Azhari, ADC Award Night digelar setelah pihaknya melakukan pemutaran film dengan bentuk bioskop mini pada awal september lalu.

Pihak ADC kemudian melaksanakan kegiatan ADC Awards untuk 10 sutradara dari 5 film terbaik. Dimana pada film tersebut para sutradara telah menyampaikan pesan kekuatan kelompok dan individu di Aceh berbasis kearifan lokal. Disaksikan ratusan tamu undangan, ADC Awards Night malam itu juga turut dihadiri Assisten II pemerintah Kota Banda Aceh, sejumlah seniman dan Sineas Aceh, para sponsor dan sejumlah tamu khusus serta para wartawan.

Lima produk film dokumenter dan 10 Sutradara terbaik setelah melalui proses present forum beberapa waktu lalu adalah :

1. “Mableun” karya Samsul Kamal dan Faisal, mengangkat peran seorang nenek yang membantu masyarakat dalam proses persalinan ditengah ketidakhadiran Bidan Puskesmas di Pulo Aceh, Aceh Besar.

2. “Pakaianku Tinggal Kenangan” karya Maria Ulva dan M.Rizki , dari kabupaten Pidie: yang mengangkat seorang pemuda yang selalu menggunakan pakaian Aceh dalam kehidupan sehari-hari, walaupun kadang-kadang di anggap seperti orang gila.

3. “Khabar Baik di Dhapu Adee” karya Nuzul Fajri dan Rifqi Saputra : cerita dibalik kesuksesan kue Adee menjadi Ikon khas Pidie jaya, banyak anak-anak mereka yang sudah menjadi orang-orang sukses dengan tampa memonopoli sesama mereka.

4. “Meretas Asa di Kaki Gunong Goh” karya Novianti Maulida Rahma dan Rizki Fajar: kisah perjuangan sekelompok masyarakat di desa Salah Sirong Kabupaten Bireuen, yang bertahan hidup dari serangan gajah dengan mengajarkan kepada anak-anak mereka melalui pendidikan Paud yang dibangun dengan swadaya masyarakat.

5. “Perempuan Kopi” karya Iwan Bahagia dan Edi Santosa; kisah perjuangan perempuan-perempuan penyortir kopi ditengah mendunianya kopi Gayo yang berada di tengah-tengah Aceh. Para penyortir yang notabenenya adalah para Janda, Korban Konflik, dan para perempuan yang memiliki masalah dibidang ekonomi itu, bekerja sebagai buruh kasar dengan upah dibawah UMR dan tanpa jaminan kesehatan dan bentuk tunjangan lainnya. Kisah ini diangkat dari sebuah perusahaan kopi didataran tinggi Gayo, Aceh tengah. (Tenemata)

Comments

comments