by

Rapiah

Oleh : Vera Hastuti, M.Pd

Rumah itu  terletak tepat di tepi sebelah Barat Danau Laut Tawar. Atapnya terbuat dari daun rumbiah yang ditempeli plastik meteran, guna menghidari bocor jika musim hujan tiba. Dindingnya dibuat dari anyaman bambu yang  nampak telah rapuh termakan usia. Tak ada listrik di rumah itu, hanya ada sebuah lampu teplok  untuk menerangi  kala malam tiba.

Di rumah itu, tinggalah Rapiah seorang diri, keriput di keningnya menandakan bahwa usianya tak lagi muda, rambut yang mulai memutih juga kian tampak kentara. Orang-orang  kampung sering memanggil nya  mak  Yah. Pekerjaaannya sehari – hari adalah menanam sawi  di paya-paya tepian Danau Laut Tawar. Dari hasil menanam sawilah  Rapiah  menggantungkan seluruh kebutuhan hidupnya.

Hari ini Rapiah merasa sangat lelah, hama ulat yang sebulan ini merusak banyak tanaman sawi yang ditanamnya sebulan lalu   membuat Rapiah  sangat  risau. Ditambah lagi,  Rapiah juga harus berkerja ekstra untuk  mengangkat air  sejauh 15 meter  dari danau guna  menyirami sawinya yang kering karena musim kemarau.

 Sembari membaringkan tubuhnya yang mulai renta di ranjang,  mata Rapiah tak sengaja berpapasan dengan  bingkai  foto  yang melekat di sudut kanan rumahnya. Bingkai foto itu telah tebal diselimuti debu. Perlahan Rapiah  mengambil bingkai tua itu, menyapu debu yang melekat dengan hati – hati menggunakan selendang lusuh yang tengah ia gunakan. Sesaat dengan teliti diamatinya  orang-orang di dalam foto itu satu per satu.

 Bulir air mata satu persatu menggenangi pipi Rapiah. Di foto itu,  tampak Subhan, suaminya dengan senyum riang tengah menggendong bangga Genali  yang tengah memegang mobil mainan  di pundaknya, dan juga Rapiah, yang kala itu  tengah berbadan dua, merangkul Subhan dengan penuh mesra.

Lima Belas  Tahun Yang Lalu…

Mereka menikah karena saling mencintai.  Subhan , suami Rapiah kesehariannya  bekerja sebagai petani kopi di kebun peninggalan orang tuanya. Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi dengan penuh kebahagiaan. Tak sedikitpun Subhan  membiarkan Rapiah ikut membantunya bekerja di kebun,  karena Subhan  berperinsip bahwa lelakilah yang wajib mencari nafkah sedangkan tugas istri mengurus anak dan  rumah tangga.

Pernikahan mereka serasa telah sangat lengkap, hasil kopi melimpah ruah,  dikaruniai seorang anak laki-laki yang cerdas,yang  tak lama lagi akan  memiliki seorang adik. Hingga di suatu sore , saat  hujan turun dengan deras, kebahagiaan mereka terenggut. Kala itu, dengan perasaan cemas Rapiah menantikan Genali tak kunjung pulang bermain dengan teman-temannya. Derasnya  hujan yang kian menjadi  ditambah suara petir yang saling sahut menyahut,membuat Rapiah urung mencari Genali , ditambah lagi dengan keadaannya yang tengah hamil tua. Rapiah hanya bisa menantikan Genali dengan harapan anak lelakinya tengah bermain di rumah salah seorang temannya.

Tok..Tok.. “Rapiah, Rapiah” suara tetangga membuat Rapiah terkejut

“ada apa  Ridha?” tanya Rapiah penuh cemas

“Genali terjatuh saat bermain sampan dengan teman-temannya, dan ..”suara  Ridha terasa berat untuk menyambung  kata-katanya.

“kenapa Ridha?” tangis Rapiah seketika pecah, membaca  ada firasat burut dari gelagat Ridha, tetangganya.

“Genali…”

“Kenapa Genali?”

“Genali ditemukan Amat tewas di danau, derasnya hujan membuat teman-temannya tidak bisa cepat menolong, dan rupanya Genali belum terlalu mahir berenang” jelas Ridha sambil menyapu air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya agar tak tertumpah.

***

Seketika mendengar kabar itu, Rapiah pingsang. Akibat benturan hebat saat ia terjatuh, Rapiah mengalami pendarahan hebat,  sehingga bayi dalam kandungannya pun tak dapat diselamatkan. Rapiah tampak tabah kala itu menghadapi cobaan yang kian bertubi-tubi menimpa keluarganya. Tapi tak begitu dengan Subhan suaminya, selang beberapa bulan pasca meninggalnya Genali, anak kesayangannya dan disusul dengan anak keduanya.Subhan berubah menjadi lelaki yang suka mabuk-mabukan dan suka bermain perempuan.

“Bang, berhentilah minum-minuman keras, tak baik untuk kesehatanmu” nasehat Rapiah sore itu.

“Diam,  kau perempuan sial!!!, kau telah membuat kehidupanku kacau, kau telah membunuh anak-anakku”.

“Itu takdir bang, aku pun tak pernah ingin musibah itu terjadi. Aku pun menyayangi anak-anak kita seperti abang meyayangi mereka.”

“Prakkk” sebuah tamparan mendarat di  pipi Rapiah. Dan setelah perdebatan sore itu, Subhan tak pernah lagi kembali.

***

Lima belas   tahun sudah Rapiah  hidup sendiri. Menantikan Subhan kembali padanya, walaupun didengarnya kabar bahwa Subhan telah menikah lagi dengan orang di kota seberang.  Rapiah masih menunggu Subhan dengan penuh harap untuk  memaafkan kekhilafan yang tak pernah ingin dia lakukan. Subhan tak pernah tau, bahwa Rapiah menyayangi Genali melebihi nya.  Dia lah yang mengandung Genali  dengan bersusah payah sembilan bulan lamanya, melahirkan Genali dengan nyawa sebagai pertaruhannya. Subhan mungkin telah lupa, jika anak adalah titipan Tuhan yang bisa kapan saja diambil oleh si empu-Nya. Dan siapapun tidak dapat menolak takdir-Nya , jika Allah telah berkendak. Subhan sungguh telah lupa, bahwa Rapiah adalah seorang  ibu yang pastinya juga akan terpukul jika kehilangan dua anak sekaligus pada saat yang berdekatan.

Kumandang Adzan magrib membuyarkan lamunan Rapiah, didekapnya dengan erat foto itu, seakan Rapiah merasa ia tengah memeluk Subhan dan Genali putranya.   “Ah, hidup harus terus berlanjut walau pun derita menghadang” Batinya . Rapiah beranjak  dari ranjang tuanya, bergegas menuju musala. Baginya, tak ada kebahagiaan lain di hidupnya selain saat mendekatkan diri pada_Nya.

Guru SMA N 1 Takengon*

Comments

comments

News