by

Kata Hati

Oleh : Vera Hastuti, M.Pd*

Abdul mengamati semua orang yang berlalu lalu di pasar Pagi dengan peluh berurai.  Matahari telah berdiri gagah tepat di ubun-ubun kepalanya. Kegelisahannya kian membuncah.  Abdul telah berada di pasar ini sedari Shubuh tadi, sebelum adzan  shubuh belum lagi berkumandang  dari  meunasah di seberang rumahnya.

Matahari kian meninggi, menambah legam kulitnya yang hitam. Wajah Abdul tampak diselimuti lelah. Setengah hari sudah Abdul menawarkan jasa becak kepada siapa saja yang lewat menenteng belanjaaan dari pasar. Abdul berharap  jika ada diantara ibu-ibu yang telah selesai berbelanja itu sudi menumpangi becaknya.

Angin berhembus, menggulung debu di ujung jalan pasar. Abdul berperang dengan pikirannya. Hendak berkeliling kota mencari penumpang yang mungkin saja ada di tepi jalan tak memungkinkan, mengingat minyak di tangki Honda Astrea Grand becaknya sudah dalam level kritis, tetap menanti di tepi pasar ini sama saja seperti menanti dalam ketidakpastian.

Abdul berhutang janji pada  Aisyah. Putri kecilnya. Dikarenakan ia mendapat juara I. Abdul harus menunai janji untuk membelikan sebuah hadiah untuknya. Awalnya, kekata itu sekadar saja terucap. Abdul mengira, tak mugkinlah Aisyah, akan beroleh juara karena saban hari selepas pulang sekolah Aisyah harus membantu emaknya membuat kue untuk dititipkan di warung bu Mini.

Tapi siapa menyangka bila kekata Abdul menjadi stimulan bagi Aisyah, Laksana mentari  yang bersinar setelah cakrawala menurunkan hujan.  Aisyah lebih bergiat lagi belajar. Bila telah tunai ia membantu emaknya maka dengan segera Aisyah kembali ke kamarnya, berkutat dengan kitab dan buku.   Saban malam, disaat orang telah terbuai mimpi , Aisyah belajar dengan giat.  Walau diterangi temaram lampu 15 watt, sedikitpun tak turut mengurangi retina kecilnya untuk focus berkutat pada aksara.

Hingga, kerja keras Aisyah akhirnya berbuah manis. Angka 1 pada kolom peringkat kelas tertulis rapi  di rapor yang diberikannya pada Abdul  kemaren sore, menjadi bukti akurat Abdul untuk bersegera menunaikan janji itu. Aisyah tak meminta dibelikan bebrapa geram emas perhiasan, atau mainan mahal  sebagai hadiah. Aisyah hanya meminta dibelikan sepasang mukena untuk pergi mengaji dengan Ustad Sayuti, menggantikan mukenanya yang telah berubah biru dikarenakan Siti, istriku, telah khilaf  mencapurkan mukenanya dengan pakaian yang luntur.

“Bruk…” seorang wanita muda yang tampak tengah tergesa-gesa menubruk Abdulah yang sedari tadi berdiri disamping becaknya.

“Ups, maaf pak,saya tak sengaja” wanita  muda itu menerangkan sambil berlalu pergi.

Tak lama kemudian, mata sipit Abdul terpaku melihat  dompet hitam terletak miring tepat disamping pedal ban becaknya. Diedarkannya mata keseliling, mencari tauadakah orang lain yang melihat beda hitam itu selain dia. Diambilnya dompet itu dan  dengan ragu Abdul membukanya. Abdul masih ingat benar, rupa wajah wanita di foto yang tertempel  dompet itu, persis dengan wanita yang tadi menabrak tubuhnya lalu bergegas pergi.  Puluhan lembar uang pecahan beragam warna tersusun rapi di dompet  yang kini dalam genggamannya  itu. Mulai dari lembar ribuan, puluh ribuan dan ratus ribuan.

 “Rejeki nomplok Abdul, ayo ambil saja uang itu, dan belikan Aisyah mukena. Rayuan sebelah  kiri mengiang-ngiang di telinganya.

 “Jangan Adul, Ingat!!! Itu bukan milikmu, jangan lah kamu memberikan hadiah dari uang yang tidak halal untuk anakmu. Kembalikan saja kepada pemiliknya” Suara bilik hati sebelah kanan  ikut pula menimpali.

Abdul kian ragu, sekelebat pertikaian antara bilik kiri dan bilik kanan pemikirannya  terus saja beradu pendapat masing-masing.  Membuatnya  kian sulit mengambil keputusan. Jika dia mengikuti kata bilik kiri, tentu saja risau yang melanda nya sedari shubuh tadi akan segera usai. Karena dengan mudah Abdul dapat membelikan hadiah  untuk anaknya dengan uang yang ada dalam dompet itu.Bahkan sisanya bisa dibawa pulang . Tapi, jika Abdul perbuat hal itu, ia pasti akan merasa menyesal tak kepalang. Takut jika malaikat Atid, sang pencatat amalan buruk akan mencatat kesalahannya dan membuat Tuhan murka padanya, ditambah lagi perempuan pemilik dompet ini pastinya akan merasa panik karena kehilangan banyak kartu – kartu penting  yang ikut tertata rapi di antara lembar ribuan rupiah di dompet itu.

***

“Tok…tok…Assalamualaikum”

“Waalaikum salam” jawab seorang perempuan dari dalam rumah bercat hijau itu.

“Mencari siapa ya pak?” Tampak wanita yang menubruknya pagi tadi membukakan pintu

“Apa benar ini rumah ibu Vita?”

“Ya, Saya sendiri, ada apa ya pak?”

“Saya hendak mengembalikan dompet ibu yang terjatuh saat ibu berbelanja di pasar tadi pagi.

 

Hari hampir sore, mataharipun  perlahan berotasi  arah timur.  Dengan senyuman khas seorang yang lagi dirundung bahagia Abdul melangkah pulang. Sesaat setelah Abdullah mengembalikan dompet hitam itu, wanita muda itu segera menyerukan hamdalah mengucap syukur serta mempersilakhan Abdul masuk,  menghidangkan minuman , dan bercerita perihal kejadian pagi tadi. Dan,disaat Abdul hendak beranjak pulang, wanita itu menyelipkan dua lembar uang  berwarna biru di kantongnya. Seketikan Abdul menolak, niat hati Abdul mengembalikan  dompet itu iklhas Lillahitaala. Namun, wanita itu berikeras menyelipkannya di saku kemejanya yang memang tengah terperangah.

Malam itu,  Aisyah tampak begitu cantik mengenakan mukena putih yang dibelikan Abdul di toko wak Parmin tempat becaknya biasa mangkal.  Tunailah sudah janjinya untuk meberikan hadiah mukena untuk puterinya. Di dalam hati Abdul tak lupa berucap hamdallah. Bersyukur karena telah dapat menunai janji pada Aisyah dan juga bersyukur karena malaikat Atid tak perlu mencatat dosanya apabila siang tadi Abdul lebih mendengarkan suara dari bilik kiri hatinya.

Guru SMAN 1 Takengon*

Comments

comments

News