by

Van Daalen Bantai 2,926 Jiwa Masyarakat Gayo

Takengen | Lintas Gayo – Seorang perwira Belanda Gotfried Coenraad Ernst van Daalen, yang lahir di Makassar 23 Maret 1863 dan Mati di Den Haag pada tanggal 22 Februari 1930, adalah perwira yang Kejam. Van Daalen telah membantai 2,926 jiwa masyarakat Gayo pada tahun 1904.

Trio wartawan yang kini sudah menjadi penulis, terenyuh dan merasa terpanggil untuk menggali dan mengungkapkan fakta-fakta sejarah tentang pembantaian ini. “ Kami sudah lakukan ekspedisi dan menemukan bukti tentang pembantaian ini,” sebut Iwan Gayo.

Iwan Gayo, LK. ARA dan Oedin Dela Rosa, melakukan perjalanan panjang selama dua bulan untuk mengungkapkan sejumlah fakta tentang pembantain tersebut. Hasil ekspedisi mereka akan diseminarkan, Sabtu (19/9/2015) di Oprom Takengen.

Menurut Iwan Gayo, Pada bulan November 1884, van dalen yang sudah menjadi pasukan militer pergi berdinas ke Jawa dan kesatuan artileri dengan pangkat Letda. Dan di tahun 1888, van Dalen dipindah tugaskan ke Aceh untuk membasmi tentara muslimin yang melakukan perlawanan geriliya dari pedalaman dataran tinggi Gayo terhadap posisi Belanda yang secara de fakto telah menguasai seluruh pesisir Aceh.

Pada tanggal 8 Februari 1904, van Daalen diperintahkan untuk mematahkan perlawanan ke Tanah Gayo dan Alas dengan diperkuat oleh 10 brigade Marsose. Expedisi yang memakan waktu 163 hari itu berubah jadi pembantaian yang menewaskan ribuan masyarakat Gayo.

Sistem genosida yang Kejam tanpa ampun. Van Daalen membantai 7 benteng Tanoh Gayo yaitu Pasir, Gamuyang, Durin, Bdak, Rikit Gaib, Penosan, Daan Tampeng. Serta 3 benteng di Tanah Alas yaitu Kute Reh, Likat, dan Lengkat Baru. Aksi Kejam yang dilakukan Militer Belanda ini mengantar van Daalen menjadi Komandan Militaire Willems-Orde pada tanggal 14 September 1904, dan diangkat menjadi Dubernur Militer Aceh oleh van Heuts.

Data yang diambil dari buku JCI Kempees, salah seorang asisten van Daalen yang berjudul ” De Tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas, Bataklanden” yang diterbitkan oleh JC. Dalmeijer, Amsterdam tahun 1905. Setahun setelah pembantaian, sempat menghebohkan parlemen Belanda .

“Data dan fakta itu yang kita telusuri dan kita buka kembali, agar semua pihak tahu bagaimana sadisnya pembantaian manusia dibumi Gayo yang dilakukan oleh pihak Belanda, semoga seminar tentang pembataian ini menjadi bahan masukan yang paling berharga,” sebutnya. (Iqoni RS)

Comments

comments