by

Satu Rahim “Terpecah” Karena Politik

Bahtiar GayoMereka terlahir dari satu rahim. Namun dalam persoalan dukung mendukung, adik dengan abang berbeda pilihan. Adik mengusung orang lain, walau abangnya sendiri maju dalam pertarungan Pilkada di Gayo. Inilah catatan sejarah.

Waspada yang memiliki catatan tentang Pilkada, perbedaan antara adik dengan abang itu tidak terelakan.  Nasaruddin misalnya, Bupati Aceh Tengah yang maju menjadi calon wakil Gubernur Aceh berpasangan dengan Zaini Abdullah.  Orang nomor satu di negeri dingin ini, memiliki adik anggota DPRK dan abang kandungnya sebagai anggota DPR Aceh.

Pak Nas panggilan akrab sang bupati, meninggalkan Golkar menempuh jalur independen. Namun partai  adik, serta abangnya menjagokan orang lain dalam perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur.

Muhclis, sang adik dengan partai Demokratnya mendukung Irwandi Yusuf- Nova Iriansyah. Anggota DPRK Aceh Tengah ini harus ikut bersama partainya mengkampanyekan pasangan Irwandi- Nova.

Sementara Beramsyah, abangnya Nas, anggota DPR Aceh dari Partai Golkar. Pohon beringin ini menjagokan Tarmizi Karim. Sudah barang tentu, ketika partainya mengkampanyekan Tarmizi, Beramsyah juga harus ikut serta. Aturan partai itu jelas dan tegas, ada konsekwensinya.

Demikian dengan Zulfikar dan Syirajuddin. Mereka juga seayah seibu. Mereka kini sama-sama menjadi anggota DPRK Aceh Tengah  dari partai yang berbeda. Syirajuddin (Rengkop)  ketua PAN,  bersama partainya mengusung Shabela Abubakar- Firdaus untuk menjadi Balon Bupati dan Wakil Bupati.

Salah seorang calon bupati Aceh Tengah lainya, Muchsin Hasan, secara partai dia harus mengkampanyekan Irwandi atau Tarmizi sebagai kandidat gubernur. Bukan mengkampanyekan Nasaruddin  yang  menjadi wakil pasangan  Zaini Abdullah. Muchsin diusung Demokrat dan Golkar.

Muhcsin, adalah orang yang dibesarkan Nas dari Partai Golkar, sampai dia menduduki sebagai ketua DPRK Aceh Tengah. Hubungan family antara Nas dan  Muhcsin  juga dekat, namun karena berbeda bendera yang meraka ambil dalam Pilkada ini, berbeda pula orang yang diperjuangkan.

Bagaimana ikatan batin mereka?  Walau berbeda orang yang dijagokan dalam pergulatan politik 2017 ini? Apakah hubungan emosional, rasa persaudaran itu? Apakah akan hilang karena membela kepentingan? Semuanya itu akan terjawab seiring dengan dinamika waktu.

Di Gayo dikenal dengan falsafah, “Waih selo tertengkah. Bier itengkah tetap we sali.(Air tidak mungkin bisa dibelah, walaupun dibacok dia akan kembali bersatu). Falsafah ini menggambarkan rasa persaudaraan. Biar bagaimanapun perbedaan pendapat, terjadi perselisihan, pada hakikatnya kelak, saudara itu akan bersatu kembali. (Bahtiar Gayo/ Harian Waspada edisi Rabu 14/9/2016)

Comments

comments