by

Bagaimana Relasi Sosial Suku Gayo dengan Suku Pendatang ?

Gayo adalah nama sebuah suku berpopulasi kecil yang mendiami sebuah wilayah bernama Tanoh Gayo yang terletak di pedalaman Aceh.

Tidak banyak orang luar Aceh yang mengetahui keberadaan suku ini dan juga wilayah yang ditempatinya. Di Medan, ada sebagian orang yang mengetahui keberadaan Gayo, tapi lebih jauh ke timur orang-orang umumnya sudah tidak tahu lagi.

Gayo adalah salah satu dari sekian suku minoritas di provinsi Aceh. Yang hidup berbagi wilayah dengan suku Aceh yang mayoritas.

Di Tanoh Gayo (Khususnya di Aceh Tengah dan Bener Meriah), suku Gayo hidup berdampingan dengan etnis-etnis lain yang merupakan pendatang. Secara garis besar para pendatang ke tanoh Gayo umumnya adalah suku Aceh, Jawa, Minang, Tionghoa dan beberapa etnis lain yang jumlahnya tidak terlalu signifikan.

Suku Aceh dan suku Gayo memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama penganut Islam fanatik. Dalam pengertian identitas suku dan agama tidak dipisahkan, kurang lebih mirip dengan pola identitas kultural orang Bali yang melekat dengan Hindu. Artinya, baik orang Aceh maupun Gayo, hanya akan dianggap sebagai orang Aceh atau orang Gayo, kalau mereka beragama Islam. Orang Aceh atau orang Gayo yang keluar dari Islam (meskipun ada, tapi jumlahnya sangat sedikit sekali) tidak lagi dianggap sebagai orang Aceh atau orang Gayo. Dan sebagai konsekwensinya, orang yang keluar dari Islam ini dibuang alias tidak akan lagi diterima di masyarakat ini.

Di luar kesamaan agama ini, sulit mencari persamaan lain antara kedua suku ini. Secara fisik, orang Gayo berbeda dengan orang Aceh. Bahasa sangat berbeda, malah akar bahasanya pun tidak sama. Jarang sekali ada orang Aceh yang bisa berbahasa Gayo dan sebaliknya, jarang sekali ada orang Gayo yang lancar berbahasa Aceh. Cara hidup orang Gayo juga berbeda dengan orang Aceh. Orang Aceh yang mendiami pesisir Aceh, meskipun juga bertani tapi umumnya cukup terbiasa untuk berdagang. Orang Gayo sebaliknya, suku ini adalah suku petani dan tidak biasa berdagang.

Perbedaan-perbedaan ini membuat pola relasi antara Aceh dan Gayo tidak bisa dikatakan akrab dan menyatu. Sebagaimana layaknya relasi antara suku Karo dan suku Batak di Sumatera Utara atau relasi antara suku Madura dan suku Jawa di Jawa Timur.

Hubungan yang tidak akrab dan menyatu ini bisa dilihat dari fakta. Bahwa meskipun secara geografis, Aceh dan Gayo tinggal berdekatan dan sama-sama menganut Islam. Kemudian tidak sedikit orang Gayo yang tinggal di wilayah Aceh juga sebaliknya tidak sedikit pula orang Aceh yang tinggal dan bekerja sebagai pedagang di Gayo. Tapi jarang sekali terjadi hubungan perkawinan antara kedua suku ini.

Untuk di wilayah Gayo sendiri, di samping tentu saja adanya faktor-faktor lain. Sangat mungkin besar hal ini disebabkan oleh perbedaan profesi yang membuat perbedaan karakter antara orang Gayo dan orang Aceh.  Dalam proses jual beli Orang Aceh sebagai penjual dan orang Gayo sebagai konsumen, tentu berada dalam posisi berhadap-hadapan. Situasi seperti ini tampaknya terbawa ke dalam cara pandang secara umum kedua etnis ini dalam keseharian. Sehingga dalam pergaulan sehari-hari, meskipun tentu saja ada beberapa pengecualian. Tapi secara umum sulit bagi orang Aceh dan orang Gayo untuk bisa berkomunikasi dalam empati yang sama.

Saya berpikir faktor profesi ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola relasi antara Aceh dan gayo ini, karena saya juga menemui cara pandang orang Gayo yang seperti ini juga berlaku terhadap etnis Minang, yang sebagaimana halnya etnis Aceh, mayoritas adalah pedagang.

Sehingga meskipun masyarakat kedua etnis ini sudah puluhan tahun menetap di Gayo. Sampai hari ini, dalam pergaulan sehari-hari, kita masih melihat adanya jarak psikologis dalam pergaulan keseharian antara orang Gayo dengan orang Aceh dan Minang.

Oleh orang Gayo, sikap pribadi orang Aceh dan orang Minang yang umumnya lebih percaya diri, seringkali dianggap sebagai sikap yang sombong.

Sehingga bagi banyak orang tua Gayo, memiliki menantu (terutama menantu perempuan) dari etnis Aceh atau Minang, sering dianggap sebuah ‘musibah’. Meskipun ketika pernikahan sudah terjadi, seringkali apa yang terjadi tidak seburuk yang dibayangkan. Tapi sebelum pernikahan itu terjadi, biasanya sikap defensif akan muncul di keluarga pihak laki-laki.

Jarak psikologis yang lebih lebar terdapat dalam hubungan sosial antara etnis Gayo dan Etnis Tionghoa. Ini disebabkan, selain perbedaan profesi, jarak psikologis yang lebih besar antara etnis Gayo dengan etnis ini tercipta karena perbedaan agama. Sehingga mayoritas etnis Tionghoa di Gayo, seperti hidup di dunia sendiri. Hanya beberapa gelintir dari mereka yang bisa menyatu dengan orang Gayo. Dan biasanya ini terjadi karena pilihan bisnisnya yang mengharuskannya banyak bergaul dan bicara dengan pelanggan. Misalnya sebut saja bisnis warung kopi.

Meski tidak separah yang terjadi dengan etnis Tionghoa. Dalam hubungan sosial antar masyarakat di Gayo, jarak psikologis yang lebar juga tercipta antara orang Gayo dengan etnis-etnis lain yang tidak beragama Islam. Meskipun mereka bukan pedagang.

Tapi jarak psikologis dengan kalau etnis-etnis yang secara umum dikenal bukan penganut Islam itu langsung luruh, kalau mereka memutuskan untuk masuk Islam. Di Takengen, orang Batak bahkan orang Tionghoa yang memutuskan memeluk Islam. Biasanya langsung dirangkul oleh masyarakat dan diperlakukan layaknya orang Gayo saja.

Dari semua etnis pendatang yang ada di Gayo. Hubungan paling akrab terjadi antara etnis Gayo dengan etnis Jawa.

Mayoritas etnis Jawa yang bekerja sebagai petani, sebagai mana layaknya orang Gayo. Ketika berhadapan dengan etnis Aceh atau Minang yang pedagang. Gayo dan Jawa berada di posisi yang sama sebagau pembeli. Situasi seperti ini menciptakan perasaan senasib yang membuat komunikasi antara orang Gayo dan orang Jawa berlangsung dengan lebih berempati. Karakter orang Jawa yang lebih suka mengalah untuk menghindari konflik, membuat orang Gayo semakin nyaman berinteraksi dengan mereka. Ada banyak orang Gayo yang bisa berbahasa Jawa dan juga sebaliknya, ada banyak sekali orang Jawa yang fasih berbahasa Gayo. Hubungan yang seperti ini membuat jarang sekali terjadi konflik antara etnis Gayo dan etnis Jawa.

Indikasi harmonisnya hubungan ini bisa dilihat dari kenyataan banyaknya terjadi hubungan pernikahan antara kedua suku ini. Kalau mendapatkan perempuan etnis Aceh atau etnis Minang sebagai menantu, biasanya sangat dihindari oleh calon mertua Gayo. Sebaliknya dengan perempuan etnis Jawa. Karakter perempuan Jawa yang penurut, rajin bekerja  dan tidak banyak tuntutan. Membuat etnis Jawa baik perempuan maupun laki-laki menjadi calon menantu favorit bagi para calon mertua Gayo.

Hubungan harmonis antara suku Gayo dan suku Jawa ini sempat rusak semasa konflik berkecamuk di Aceh.

Tapi kalau kita amati dengan baik. Rusaknya hubungan harmonis antara suku Gayo dan suku Jawa ini tidak terjadi secara natural, melainkan karena provokasi dari luar. Yaitu kedua fihak yang berkonflik.

Masa konflik adalah masa propaganda. Propaganda dalam masa konflik ini seringkali diakukan atas dasar generalisasi. Tidak berdasarkan atas realitas yang terjadi di lapangan.

Begitulah relasi sosial orang Gayo di Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan suku-suku pendatang, berdasarkan atas pengamatan pribadi saya dengan segala keterbatasan yang saya punya.

Saya menuliskan ini sama sekali bukan bermaksud untuk membangkitkan sentimen dan rasa superioritas kesukuan. Tapi sebaliknya, ini saya maksudkan untuk lebih mengenal diri sendiri dan orang-orang yang hidup berbagi tempat dengan kita.

Harapan saya, mudah-mudahan ke depannya. Ada ahli ilmu sosial di Gayo yang mau serius meneliti masalah-masalah ini, dengan metode penelitian yang benar. Supaya hal seperti ini bisa dijadikan sebuah kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Yang pada akhirnya akan membantu kita agar tidak terjatuh dalam pandangan stereotip dalam menilai orang-orang dari suku lain yang tinggal bersama dengan kita di sepotong tanah yang sama. (Win Wan Nur)

Comments

comments