by

Mengikuti Jejak Ayah Berdagang Depik dan Belacan

“Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit,” itulah prinsip hidup seorang pria yang berjualan depik kering dan belacan di Pasar paya Ilang, Takengon, Aceh Tengah.

Dia memilih menjual ikan khas Gayo, sekaligus belacan yang diolah dari depik, karena mengikuti jejak orang tuanya. Depik sudah menjadi bagian dari kehidupanya, sejak kecil lekaki berperawakan kurus, agak tinggi, namun masih muda ini sudah terbiasa dengan depik, khususnya depik kering.

Namanya Fitra, 22 tahun, merupakan penduduk Kebayakan, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Ketika diminta santri dayah keteranganya, anak satu anak ini tidak sungkan mengungkapkanya.

Santri dayah melakukan wawancara kepada sejumlah pedagang di Pasar Paya Ilang Takengon, Selasa (10/11/2020), sehubungan dengan tugas yang diberikan Bahtiar Gayo, pemateri latihan Jurnalistik yang diselenggarakan Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah, Kabupaten Aceh Tengah.

Fita mengisahkan, ikan depik untuk sumber usahanya dia peroleh dari nelayan di Kampung Kelitu, pinggiran danau Lut Tawar, Aceh Tengah. Danau sumber depik ini setiap musimnya mengeluarkan yang tersimpan di danau untuk dinikmati manusia.

Salah satunya depik. Dari ikan kecil, sebesar jemari ini, Fitra mengantungkan hidup. Lelaki yang sudah 3 tahun berkeluarga ini, berpewarakan sedikit kurus, namun diperkirakan tinggi tubuhnya mencapai 165 sentimeter.

Kalau ikan depik dia dapatkan dari Kelitu, namun untuk belacan, dia bersama istrinya mengolah sendiri. Ikan depik yang sudah “diawetkan” secara alami ini, dia kemas dalam bungkusan daun berukuran kecil, seperti lepat.

Fitra mengakui dia dan istrinya sudah terampil mengolah belacan sebagai sambal teman nasi. Rasanya khas sebagai penganan khas negeri penghasil kopi.

Bagi fitra, apapun usaha dan kegiatan seseorang bila ditekuni dan dilakukan dengan serius akan menghasilkan. Dia sudah memiliki sejumlah pelanggan baik untuk depik kering maupun belacan.

Dari hasil keringatnya ini dia akan berjuang menopang hidup. Mulanya kecil dan sedikit, lama lama menjadi bukit, demikian falsafahnya, sebuah prinsip yang bisa dijadikan pedoman bagi manusia lianya.

(Penulis Maya Sari, Santriwati Dayah Mi’yarul Ulum Al Aziziyah, peserta pelatihan jurnalistik Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah)

 

Comments

comments

News