by

Aduhai, Depik Gayo plus Bumbu Pidie

Jemur Depik (Lintas Gayo | Khalisuddin)

KEBANYAKAN warga Pidie dan Pidie Jaya, bila hendak ke Kota Takengon atau ke kota-kota kecil pusat pasar kecamatan dalam wilayah Aceh Tengah, tujuannya adalah untuk berdagang di samping keperluan lain yang lebih banyak bersifat silaturrahmi. Sedangkan yang datang khusus saat even-even tertentu, misalnya saat perayaan tujuhbelasan atau perayaan hari ulang tahun Kota Takengon untuk tujuan menonton pacuan kuda, bukan tidak ada meski tak tergolong banyak.

Tapi yang datang istimewa untuk tujuan spesial buat menikmati ikan depik saat musimnya tiba, nyaris tak pernah terdengar. Padahal selain pacuan kuda yang tak mungkin ada di Sigli atau Meureudu, depik juga tak mungkin tersangkut di jaring-jaring para penyuka ikan air tawar di rawa-rawa Paya Ceurih, Bandar Baru, Pidie Jaya atau di rawa-rawa Paya Reubee, Delima, Pidie, misalnya.

Pada lomba pacuan kuda tradisional di perayaan HUT Kota Takengan yang ke-434 Februari lalu, manakala seorang taulan di Pondok Baru, Bener Meriah Aceh bagian Tengah menelepon untuk mengundang dengan tujuan menonton even tersebut dan ternyata karena suatu halangan tertentu saya samasekali tak bisa hadir, daya jelajah di saraf imajinasi saya justru merambah pengalaman beberapa bulan lalu di suatu malam di tengah ibukota Tanah Gayo itu.

Bila penglaman itu ternyata sudah saya ceritakan pada teman-teman di berbagai kesempatan terutama saat tema pembicaraan meyentuh perihal yang tepat, maka wajar kisah kesan pribadi itu saya paparkan dengan semangat gaya promosi yang serius. Soalnya itu benar-benar pengalaman pertama dengan kesan yang tiada tara. Dan bahkan saya berani menantang, khusus pada kawan-kawan yang belum mengalami ektase kuliner tarian lidah akibat gairah rasa sangat khas dari suatu anugerah alam perairan di tengah lembah pergunungan, dia pasti akan perpendapat sama.

Sepertinya belum ada, katakanlah begitu, kata dan bahasa buat mengungkapkan gurihnya dia. Bagai belum tercipta istilah dalam perbendaharaan tutur manusia buat menggambarkan nikmatnya dia.

Depik yang saya nikmati malam itu di salah satu warung di tengah-tengah Kota Takengon, adalah untuk yang pertama sekali ikan air tawar tersebut saya makan untuk sepanjang hidup saya.

Depik benar-benar anugerah istimewa terindah hibbah Sang Penguasa Semesta Yang Maha Kasih kepada segenap penghuni alam raya kendati mereka hidup di sudut terpencil di pojok terlancip tanah bumi.

Spacies rasbora leptosoma itu boleh jadi ada di perairan tawar belahan lain bumi ini. Tapi khusus depik yang telah merebut hegemoni pecitraan danau Laut Tawar, adalah satu-satunya di jagat raya.

Pengalaman pertama itu seakan-akan membaurkan rasa syukur dan penyesalan sekaligus karena kenapa baru sekarang kenikmatan itu sempat terasakan, padahal saya terlahir, besar dan, ubanan di daerah yang hanya berjarak 5 jam perjalanan dengan bus umum dari haribaan lembah Leuser dan Burni Telong di mana di tengah-tengahnya itu depik menghuni.

Dan apa yang terkata dalam hati ketika untuk pertama kali dalam hidup ini ikan sebesar-besar kelingking itu saya urai di antara dua katupan baris geraham, tiada lain, syukur alhamdulillah buat depik yang hanya Allah SWT khususkan ada di Dataran Tinggi Gayo.

Malam itu depik yang membuat jelalatan mata saya berbinar ‘tamak’ tanpa sengaja adalah yang seharusnya menjadi rebutan antara lima teman semeja. Namun karena kawan-kawan adalah warga setempat, mereka mengalah, sehingga depik yang tersisa cuma sepiring kecil lagi itu sepenuhnya saya nikmati sendiri. Olahannya demikian sederhana hingga menimbulkan kesan bahwa cuma baru segitu diramu-masak, namun rasanya tiada kepayang.

Saya masih ingat, sang depik yang saya makan dengan mata mengambang pertanda pikiran sedang mencari-cari rasa padanan, malam itu hanya digoreng dengan campuran bawang, on teumurui dan beberapa ramuan lain yang tak mungkin terdeteksi satu-persatu lantaran penyatuan yang begitu padu serta garam sekedarnya. Dan terakhir saya tahu, ibu pemilik warung itu rupanya orang Metareum, Mila. Dan menurutnya, begitulah depik dari Gayo bila dimasak dengan campuran bumbu yang rada-rada khas ‘kleng’ Pidie atau ‘india’ Meureudu. (Musmarwan Abdullah)

Sumber : harian-aceh.com

Comments

comments

News