by

Serule, Tanah Gersang yang Kaya

Catatan Perjalanan ke Serule-Isaq

Asal Linge Awal Serule. Begitu pepatah Gayo berbunyi. Entah makna apa yang sesungguhnya disimpan dalam pepatah ini oleh moyang Datu Bangsa Gayo. Mungkin sebuah filosofi yang perlu penjabaran atau sebuah rahasia dalam kata. Seperti halnya  halnya petatah petitih basa Gayo yang dijadikan tempat menyimpan makna.

Kampung Serule berlatar Bur Kera dari Buntul Kebayakan. (Foto : Khalisuddin)

Serule dipeluk  pinus mercusi yang menutup ribuan lahan di kawasan Serule yang bertanah liat berwarna kuning, ribuan, mungkin ratusan ribu hektar. Sepanjang mata memandang menjadi permadani pohon berdaun jarum. Pinus pulalah yang membawa PT.KKA pernah mendatangkan mesin pemotong kayu yang diangkut monster-monster bermesin ke kawasan ini. Termasuk member pengerasan jalan demi memudahkan mereka mengangkut log-log pinus ke Lhokseumawe.

Kalaulah tak ada batang pinus, tanah Serule sejak Kampung Dedamar diisi pohon ‚Äďpohon dari hutan¬† tropis yang garang menunjuk langit dan menutup tanah dari sengatan mentari atau terjangan hujan pada tanah perawan yang merupakan hutan konservasi.

Kesepakatan Konservasi Hutan antar petani, Disbunhut, Asosiasi Petani Kopi (foto : Khalisuddin)

Masih sedikit kawasan dari Kampung Dedamar hingga Serule dijadikan warga pemilik sah tanah ini yang menjadi lahan didaerah perkebunan kopi. Selebihnya masih hutan. Benar-benar hutan. Sehingga kopi didaerah ini yang didominasi arabika dengan sebagain kecil robusta menjadi ‚ÄúKopi Specialty‚ÄĚ, Kopi Konservasi yang harus dihargai lebih mahal.

Curamnya bukit dan gunung di kawasan ini membuat para penduduk disana hanya menjadikan kawasan yang rata atau lahan miring dengan kecuraman kurang dari 40 derajat yang dijadikan kawasan kebun. Seputar Kampung dijadikan sawah basah sebagai sumber utama konsumsi warga.

Untuk bahan bakar warga mengambil kayu-kayu yang telah rubuh sebagai kayu bakar. Tidak menebang pohon pinus yang tumbuh disamping halaman mereka sebagai bahan bakar memasak. Kearifan local yang masih utuh hingga kini.

Angkutan umum penduduk Serule, satu kali sehari PP dari Bintang dengan ongkos Rp.20.000 perorang dan jika ke Takengon harus naik angkutan lain dengan ongkos Rp.10.000 perorang. (Foto : Khalisuddin)

Serule bisa diakses lewat satu-satunya jalan dari Kecamatan Bintang kearah Timur. Jalan ini masih pengerasan. Entah sudah berapa kali warga Serule secara resmi meminta jalan ini diaspal pada Pemkab setempat. Tapi hingga kini belum dipenuhi. Demikian juga mahasiswa asal Kecamatan Bintang sudah pula beraudiensi kepad wakil mereka di DPRK, tapi tak jua terealisir.

Sebuah tower terpasang persis di Jantung Kampung Serule. Tapi menurut warga belum berfungsi sehingga jangan harap ada akses telepon disini. Kampung Serule diisi beberapa puluh rumah tradisional yang terbuat dari bahan kayu. Atap seng rumah warga sudah menguning semua.

Bangunan baru seperti Puskesmas Pembantu (Pustu) atau sekolah dasar bisa dilihat dari bentuk bangunannya yang baru dan atap seng yang belum berkarat. Beberapa ratus meter menjelang Kampung Serule, diaspal. Selebihnya pengerasan. Menurut tokoh masyarakat setempat aspal seperti ini disebut aspal ‚ÄúSayaman‚ÄĚ.

Sapi Bali di Serule terlihat gemuk dan sehat-sehat. (Foto : Khalisuddin)

Pohon-pohon kelapa tumbuh disisi jalan Kampung Serule. Di akhir Kampung, disana pulalah aspal berakhir. Di Bagian Timur dan Selatan Serule terhampar sawah warga. Bagian Utara sudah berisi Pinus dan hutan hujan tropis. Kampung di belantara pinus.

Tidak heran jika disepanjang kawasan Kampung Serule, kerbau lalu-lalang dengan bebas. ‚ÄúSerule adalah kawasan peternakan kerbau sepanjang sejarah kawasan ini. Dalam bahasa local disebut sebagai daerah Peruweren‚ÄĚ, kata Subhandy, mantan Camat Bintang yang menjadi pemandu.

Serule, Kampung di belantara pinus ini, secara kasat mata adalah daerah yang sangat kaya. Pinus adalah bahan industry pulp atau bahan kertas.Demikian juga ratusan hingga ribuan ekor kerbau berkeliaran dikawasan ini.

‚ÄúUang yang jalan-jalan‚ÄĚ, istilah warga Takengon untuk ternak kerbau dan sapi Bali ini. Tapi Serule tetaplah Serule. Di salah satu bagian Kampung Serule, ada batu besar yang disebut batu tapak. Diatas batu sepanjang ¬†lebih kurang 7-10 meter dengan tinggi sekitar dua meter lebih ini, menurut warga setempat, berbentuk tapak-tapak binatang.

Makam Cik Serule di Buntul Kebayakan Kampung Serule (Foto : Khalisuddin)

Kunjungan ke Serule oleh sejumlah wartawan di Takengon yang hobi photography adalah kuburan Cik Serule. Kuburan ini terletak sekitar 50 meter arah Timur Kampung Serule diatas sebuah bukit yang disebut Bukit Kebayakan. Kuburan Cik Serule seperti kuburan di Gayo umumnya.

Batu nisan dari batu sungai yang keras di bagian kaki dan kepala yang menghadap ke Barat. Kuburan dibatasi batu-batu kali yang berukuran lebih kecil. Tidak ada yang istimewa. Tak jauh dari kuburan Cik Serule sebuah bangunan beton beratap seng berukuran sekitar empat kali empat berdiri.

Menurut Subhandy, bangunan ini dibangun pihak Provinsi Aceh untuk kandang kerbau. Tapi tak ada satupun kerbau berkandang disini. Hal ini ditandai dengan tidak adanya bekas perapian untuk kerbau atau kotoran kerbau.

Makam Syeh Syirajuddin atau Muyang Kaya. (Foto Khalisuddin)

Menurut beberapa warga Serule , makam Cik Serule akan dipugar tahun ini. Sementara dua kuburan bersejarah lainnya di Serule, Muyang Kaya, dan Muyang Gerpa, sudah dibangun yang ditandai dengan pagar komplek serta tempat berteduh.

Kedua makam atau kuburan berada benar-benar ditengah hutan pinus dan jauh dari perkampoungan penduduk Serule. Makam ditengah belantara pinus sepanjang mata memandang. Bangunan di kuburan Muyang Kaya, dibangun secara pribadi oleh Ir. Tagore AB.sebagai bentuk kepeduliannya pada sejarah nenek moyang Gayo, kata Tagore.

Perjalanan dilanjutkan kearah Selatan . Dari Serule . Tak ada pemandangan lain kecuali pokok pinus mercusi yang pernah diteliti sebelumnya yang menyebutkan kualitas pinus mercusi Aceh Tengah adalah pinus terbaik. Sama halnya seperti  teh  di Redelong .

Makam Sengeda. (Foto : Khalisuddin)

Pinus dan Teh serta kopi pernah dijadikan penjajah Belanda komoditi unggulan kala itu. Terpentin, getah pinus dieksport Belanda dari Dataran Tinggi Gayo ke Erofa. Menapaki jalan-jalan yang dibangun PT.KKA dengan pagar hutan pinus sepanjang lembah dan Bukit.

Beberapa titik api muncul di kawasan ini. Membakar rumput dan daun pinus yang jatuh. Beberapa wartawan yang ikut rombongan coba memadamkan api dengan ranting kayu basah. Api bisa dipadamkan karena masih kecil. Beberapa titik api terlihat disepanjang wilayah ini yang ditandai asap dari hutan pinus.

Beberapa wartawan berspekulasi asal api. Sebagain menduga karena punting rokok atau sengaja dibakar. Sebagian lainnya menyanggah argument ini karena kalau peternak kerbau yang bakar akan merugikan mereka sendiri. Alasannya, kerbaunya akan pergi lebih jauh dan mematikan rumput.

Rombongan memadamkan api yang kebetulan sedang membakar daun-daun kering disisi jalan. (Foto : Khalisuddin)

Api yang muncul sepertinya tidak mempengaruhi pertumbuhan pohon pinus karena rata-rata pinus yang tumbuh sudah diatas lima meter keatas. Tidak ada yang lain. Di bagian lembah berdiri Kampung ‚Äďkampung yang sudah ada dan tersebut dalam sejarah Gayo. Seperti, Penarun, Jamat, Isaq, Waq, Linge, Umang , Pantan Nangka dan sejumlah kawasan lainnya. Berada di hutan pinus.

Jalan Serule lewat Selatan ini tembus di Jalan Takengon-Gayo Lues.Makan

siang diperoleh saat berada di Kampung Isaq. Tiga orang berkebangsaan China terlihat berjalan. Menurut pemilik warung di Isaq, ketiganya, dua lelaki dan satu perempuan belia adalah penderes pinus di Isaq.

Mereka tidak bisa berbahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Di Isaq, sejumlah oleh-oleh pantas dibawa pulang. Mulai dari gula dari aren, ragi atau tape, dan sejumlah penganan lainnya. Pulang dari Isaq, Subhandy mengarahkan mobilnya melewati Despot Linge. Sebuah kawasan transmigrasi.

Kilometer 0 (Km 0) Kampung Serule. (foto Khalisuddin)

Kawasan Despot Linge tampaknya bermasalah dengan pohon pelindung. Kopi-kopi warga transmigran ini tidak ditanami pohon pelindung. Udara yang sangat dingin langsung menerpa pohon-pohon kopi. Buah kopi tampak lebih mengecil dibandingkan daerah lainnya. Demikian juga daun kopi, tampak lebih kecil dengan varietas yang sama di tempat lainnya yang memiliki naungan .

Wartawan yang melakukan hunting photography, Khalisuddin, dari TGJ dan Redaktur Pelaksana Lintas Gayo, Mahyadi dari Serambi, Irham Hakim dari Waspada Bener Meriah dan Jurnalisa dari Raja Post, saya (Redaktur) Lintas Gayo dan Subhandy, mantan Camat Bintang dan Linge sebagai pemandu tampak puas. Memori foto mereka terisi gambar-gambar lokasi bersejarah. Potensi alam serta kisah masa lalu yang dipenuhi tabir (Win Ruhdi Bathin)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3,627 comments