Agus Muliara : Nilai Perjuangan ALA di Ujung Tanduk

Doc. Agus Muliara . Ist

Takengon | Lintasgayo.com – Salah seorang mahasiswa Gayo yang juga pernah tergabung dalam Gerakan Aceh Louser Antara (ALA), Agus Muliara, menyayangkan nilai gerakan Provinsi ALA yang semakin di ujung tanduk.

Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa gerakan perjuangan ALA di Aceh Tengah ini mengaku miris melihat gerakan ALA harus tergerus nilainya karena dugaan tebengan isu tergesernya tokoh wilayah tengah dari jabatan penting di Aceh dan isu pemerataan pembangunan.

“Gerakan Aceh Louser Antara (ALA) dikenal sering muncul pada momen-momen tertentu, terutama ketika kelompok-kelompok tertentu merasa kepentingannya tidak terakomodir,” ungkap Mantan Ketua Umum HMI Cabang Takengon-Bener Meriah periode 2022-2023 ini melalui pers rilisnya yang diterima Lintasgayo.com, Senin (31/03/2025).

“Kritikan terhadap keberlangsungan gerakan ini muncul. Ruang publik justru beranggapan ALA cenderung meredam kembali setelah kepentingan yang nebeng di isu ini terpenuhi, hal ini tentu membuat nilai perjuangan ALA semakin tergerus,” tambahnya.

Agus juga menjelaskan, sikap tersebut berpotensi membuat gerakan ALA kehilangan daya tarik dan nilai perjuangan sesungguhnya. Menurutnya, gerakan sosial yang sejati seharusnya tidak hanya muncul saat kepentingan jangka pendek dipenuhi, tetapi harus berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan merata.

“Jangan sampai ALA justru menjadi kepentingan yang pragmatis, tidak lagi murni berjuang untuk kepentingan rakyat gayo. Nilai dan tujuan awal ALA diubah, tidak lagi untuk kemajuan yang berlandaskan perjuangan masyarakat namun menjadi alat politik untuk kepentingan tertentu saja,” katanya lagi

Jika pemekaran provinsi ALA dilakukan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai perjuangan yang menjadi dasar gerakan ini, maka gerakan tersebut bisa kehilangan esensi dan tujuan awalnya.

“Dari perspektif tata negara, hal ini berisiko menciptakan ketimpangan dalam pembagian kewenangan dan dapat menyebabkan ketidakpuasan di masyarakat, jika tujuan awal gerakan hanya terfokus pada kepentingan kelompok tertentu dan bukan untuk kemajuan bersama,” tambah mahasiswa pascasarjana HTN ini

Terakhir, Agus berharap kritik yang ia sampaikan ini diharap bisa menjadi bahan introspeksi bagi gerakan ALA, agar lebih fokus pada keberlanjutan aksi-aksi sosial yang tidak hanya terfokus pada kepentingan semata, namun juga pada perubahan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan. (Mhd/Ril)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.