by

Asyiknya Jadi Wartawan (2) : Ke Jepang, Berkat Menulis Dunia Fantasi

Luqman Hakim Gayo*

Terpaksa berdiri dalam kereta subway ekspres di Tokyo, Jepang

Pengalaman luar negeri pertama kali adalah ke Negeri Sakura.  Ketika itu, tahun 1986, Dunia Fantasi Taman Impian Jaya Ancol (Dufan-TIJA) baru dibuka. Sekaligus mengadakan sayembara menulis untuk para wartawan. Mereka mendapat undangan gratis. Saya hanya mendapat tulisan kecil dari Pak Ir Ciputra ketika bertemu di sebuah pameran. Tulisan itu ditukar dengan lima undangan untuk masuk Dufan.

Karena sayembara, maka semua yang saya lihat saya catat. Termasuk yang terkencing-kencing ketika naik Kora-Kora, permainan baru di Indonesia. Hampir semua permainan di Dufan tergolong baru. Belum pernah ada permainan itu di lokasi hiburan manapun. Hasil menikmati semua mainan  itu saya tulis, dan, saya pemenang pertama sayembara. Tulisan edisi Inggris dimenangkan oleh Syahbudin Hamzah dari Indonesian Time dan foto terbaik dimenangkan oleh Frans dari IPPOS. Akhirnya kami bertiga berangkat ke Jepang, menikmati  hadiahnya.

Ada kenangan tersendiri dalam proses pemberangkatan ini. Mulai dari membuat pasport sampai minta visa ke Kedutaan Jepang di Jalan MH Thamrin, Jakarta. Maklum, baru pertama ke luar negeri. Selesai urusan visa, ditunggu soal perlengkapan. Padahal, besok harus berangkat..

 Saya gusar karena tidak punya tas dan rumah jauh. Padahal pesawat berangkat dari Cengkareng pukul 08.00 pagi.. Kami diberi bekal 100 dollar masing-masing. Saya tukarkan uang asing itu dan saya beli perlengkapan seperti kopor kecil, tas gantung dan pakaian kecil. Sisanya buat pegangan isteri.

Di tempat tinggal saya, Perumnas, tidak ada yang tahu. Saya memang tidak suka gembar gembor, akan pergi ke luar negeri. Namun, ada juga yang sudah mencium gelagatnya. Mereka, wartawan, datang ke rumah saya malam-malam memberikan ucapan selamat. “Jangan lupa oleh-oleh buat kami”, kata beberapa teman wartawan. Barulah tersiar, kalau saya akan ke Jepang, mengherankan mereka.

Terus terang, naik pesawat asing, baru sekali ini saya alami. Japan Air Line (JAL) menerbangkan kami jam 8.00 pagi. Dingin, memang. Karena itu, saya disarankan memakai jas, termasuk di dalam pesawat yang besar itu. Saya diapit oleh seorang Jerman di kanan dan ’orang kita’ di kiri. Kesempatan belajar dialog bahasa Inggris, kata saya. Tapi, untuk memulai, tetap saja tidak berani. Dasar, kampungan.

Saya mulai terbayang masa kecil, di hutan belantara pedalaman Tanah Gayo. Duduk di punggung kerbau sambil menggiring hewan-hewan itu pulang ke kandang di Batu Bale. Kami meniup suling, sambil duduk tergoyang-goyang mengikuti irama jalannya kerbau gendut itu. Tapi hari ini, saya bukan di punggung kerbau, di atas pesawat. Pesawat asing lagi.

Ketika pramugari menawarkan sarapan pagi, saya bingung. Aksennya tidak jelas, membuat saya tergagap-gagap. Tapi sambil senyum, saya menganggukkan kepala. Artinya, sama dengan teman sebelah saya. Saya ceritakan, saya mendapat undangan ke Jepang untuk beberapa hari. Selain Tokyo, kami juga akan mengunjungi beberapa kota industri.

Pesawat berhenti di Singapura. Semua penumpang turun untuk beberapa jam, karena pesawat mau dibersihkan. Saya benar-benar kagum. Dalam hitungan beberapa detik, pekerja di bandara Changi itu menyerbu pesawat dengan alat pembersih di tangan masing-masing. Hanya dalam sekejap, perut pesawat yang buncit itu benar-benar bersih dari sampah. Kami naik lagi, dan, pesawat berangkat.

Di Hongkong, kembali berhenti agak lama. Beberapa penumpang transit, meneruskan perjalanan dengan pesawat lain. Kata orang, di kota ini barang-barang elektronik murah harganya. Kami berjalan di deretan pertokoan airport Hongkong. Tapi agak hati-hati juga, sebab pencopet berdasi sedang marak. Apalagi, kami kan terkesan kampungan.

Mungkin itulah yang membuat pesawat kami agak malam tiba di Narita, airportnya kota Tokyo. Rasanya, kami bertiga penumpang terakhir di bandara internasional itu. Semua pendatang sudah meninggalkan bandara. Sepi. Tidak tampak para kuli pengangkut barang. Tidak kelihatan calo yang menawarkan taksi.

Kami berjalan gontai sambil menarik kopor masing-masing. Bengong, karena tidak tahu mau bertanya kemana. Sampai akhirnya, polisi airport mendekati kami. Lalu ia memanggil taksi. Ia menuliskan sesuatu  dan menyerahkannya kepada sopir taksi. Berkat jasa polisi yang santun itulah, taksi kami meluncur ke kota Tokyo. Kami berhenti di depan hotel megah, Ginza Dai Ichi Hotel. Ginza adalah kawasan pertokoan terpadat di kota ini.

Sopan santun orang Jepang.

Hotel mewah, juga baru sekali ini saya alami. Bukan hanya soal petiduran yang disediakan, tetapi juga perlengkapan memasak kalau tidak mau makan di restoran. Hiburan malam kelas dewasa ada di televisi, hanya dengan memasukkan koin beberapa yen. Tapi, di laci ada buku agama Shinto, agama orang Jepang. Kagum dan mengherankan. Di tengah kemewahan ini masih ada penuntun moral sesuai dengan  agama mereka.

Kemewahan sebuah ruangan, telah mewarnai hidup saya. Kunci kamar hanya dengan sebuah kartu yang telah ”diisi” untuk beberapa hari. Pintu kamar tidak akan bisa dibuka lagi, apabila sudah habis masa berlakunya. Yaitu, selama kita bermalam di hotel ini. Bukan itu saja. Kamar mandi tanpa kran. Air akan keluar sendiri ketika berdiri dibawah pancuran. Ruarrr biasa.

Terus terang, budaya Jepang baru sekali ini saya lihat dengan mata kepala sendiri. Setiap pagi,  dua orang petugas berdasi siap di pintu loby. Keduanya membungkukkan badan sampai sembilan puluh derajat, kalau ada yang masuk atau keluar dari pintu itu. Bukan dibuat-buat. Tapi benar-benar sebuah penghormatan kepada tamu. Belakangan saya lihat, penghormatan itu tidak hanya di hotel, tetapi juga di pintu sejumlah toko. Pengunjung membeli atau tidak.

Saya mendapat kamar di lantai 14. Pagi-pagi melihat ke seputar kota Tokyo, adalah pemandangan yang menakjubkan dari jendela yang tinggi itu. Inilah kota termahal di dunia. Biaya hidup yang tinggi, kemajuan yang mengagumkan, tetapi dengan penduduk yang penuh sopan santun. Jam enam pagi, ketika itu. Saya melihat karyawan berlari di tepi jalan sambil memakai jas dan memasang dasi mereka. Kemudian hilang. Ternyata mereka turun masuk terowongan melalui tepi jalan raya itu. Mereka naik sub way.

Ketika kami mencoba berjalan kaki seputar hotel, hampir semua karyawan perusahaan berolah raga di depan kantor mereka. Setiap pagi, sebelum mulai bekerja. Mereka tahu kami orang asing, lalu melambaikan tangan sambil berolah raga itu. Kami mencoba berjalan kaki, sejauh yang bisa dicapai. Baru kemudian pulang ke hotel dengan menunjukkan alamat hotel dalam huruf kanji, kepada sopir taksi. Maklum, sopir taksi jarang mau menggunakan bahasa Inggris.

Comments

comments

News