by

Asyiknya Jadi Wartawan (3) : Perang Irak, TKI Ngungsi ke Jordania

Luqman Hakim Gayo*

Di depan Masjid Imam Husen, Karbala, Irak. (foto : dok)

Agustus 1990. Entah apa yang mendorong ambisi Saddam Husein, sehingga rakyat Irak membuat ulah. Serdadu Irak beramai-ramai menyerbu Kuwait City pagi-pagi buta. Gedung-gedung dibakar, bangunan dibom dan tentara-tentara diserbu. Kuwait tak berkutik diserbu secara tiba-tiba.

Penduduk Kuwait City kalang kabut, mereka berlarian kucar-kacir. Listrik padam dan jalan raya sudah penuh dengan tank-tank serdadunya Irak. Para TKI ikut kalang kabut. Nasib baik, banyak yang selamat dan melarikan diri ke KBRI Kuwait. Dari Kuwait mereka diungsikan ke Amman, Yordania. Sayang, karena paniknya, banyak yang tak sempat membawa gaji, kecuali pakaian yang melekat di badan.. Ketika itulah saya dikirim ke Yordania.

Pukul 21.00 pesawat berangkat ke Kuala Lumpur. Istirahat sebentar untuk transit dengan RJ (Royal Jordan) menuju Amman, ibukota Jordania. Mendarat sekitar pukul 05.00 di Queen Aliya Airport, Amman, berbarengan dengan azan subuh. Kalimat pertama yang saya hafal adalah ”Abdoun Estate, muqabbil Britain”. Itu alamat KBRI di Amman, berhadapan dengan Kedutaan Inggris. Alhamdulillah, taksi meluncur sambil mengucapkan Selamat Datang. ”Ratusan wartawan sudah memenuhi kota Amman”, kata sopir taksi itu.

Kantor KBRI masih sepi. Seorang Satpam menyapa saya, sambil menginformasikan sudah beberapa wartawan Indonesia berada di Amman. Mereka bertebaran di beberapa hotel. Pegawai KBRI yang pertama menemui saya adalah Drs Budiwan. Beliau memberi alamat hotel. ”Istirahat dulu. Nanti siang kita kumpul-kumpul disini sambil berkenalan dengan pak Dubes, dan,  apa langkah kita selanjutnya”, kata orang Tasik itu dengan ramah.

Saya memilih menginap di Funduk Ambassador, kebagian kamar di lantai empat. Ternyata, Funduk artinya Hotel. Padahal, kalau di Indonesia, kata-kata Pondok pasti berkonotasi Pesantren. Saya mulai membeli beberapa koran berbahasa Arab. Minta tolong kepada Drs Budiwan untuk menerjemahkannya. Berita itulah yang pertamakali saya fax ke Jakarta.

Berita terkini gampang dicari. Press Centre ada di Continental Hotel, tempat ngumpulnya wartawan bule. Kita-kita lebih enak ngumpul sesama kita. Sekali-sekali ke asrama PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) bersama-sama. Disana bisa puas makan nasi, sambel dan makanan Indonesia lainnya.

Kota Amman semakin padat. TKW dari berbagai negara yang tadinya bekerja di Kuwait, berdesakan di kota ini. Bandara Queen Aliya penuh sesak. Pesawat silih berganti menjejali bandara itu mengangkut tenaga kerja dari Kuwait. Ditambah lagi dengan pesawat dari berbagai negara menjemput tenaga kerja mereka. Demikian penuh sesaknya Amman, sampai-sampai ada yang membuat tenda di depan Hotel. Alhamdulillah, TKI masih bisa ditampung di KBRI, meski berjejalan di lantai bawah. Kami menjemput mereka ke perbatasan Kuwait.

M. Bardan, Perdana Menteri Jordania mulai kewalahan. Ia akan menerapkan sistim kupon untuk penyaluran sembako. Karena, persediaan makanan hanya pas-pasan untuk penduduk setempat, kini mulai direbut oleh ’imigran dadakan’. Bukan hanya kesulitan ekonomi, keamanan juga semakin runyam. Jalanan macet dan tenda-tenda di depan hotel mewah merusak pemandangan. Pemuda-pemuda Palestina berdemo setiap hari, siap membela Irak. Mereka agaknya termakan janji Saddam. ’Long Life Saddam, Long Life PLO’, coretan-coretan yang memenuhi tembok.

Tidak ada Negara-negara Arab yang mau terang-terangan membantu Kuwait. Bahkan ribuan tentara Amerika mulai berdatangan ke Saudi. Disamping melindungi Saudi juga menjadi pangkalan mereka untuk bersiap-siap menyerbu Irak. Orang-orang Arab sendiri mulai gerah. Banyak yang lari ke luar negeri.

Serdadu Irak Mundur dari Kuwait

Sejauh ini belum ada rencana langsung terjun ke kancah peperangan itu. Tapi perang sudah dimulai. Para wartawan hanya membuat tenda di padang pasir perbatasan antara Irak, Saudi dan Kuwait. Gampang dijangkau. Untuk pertama kali saya kedinginan. Angin gurun membuat bibir pecah-pecah, kulit kering.

Akhirnya, serdadu Irak memang mundur, kembali ke kandangnya di Baghdad. Tetapi Irak sudah telanjur hancur. Lebih parah dari Kuwait yang mereka hancurkan. Sementara itu, Kuwait hanya dalam waktu sekejap telah mampu bangun kembali sesudah mengalami kehancuran.

Beruntung, saya punya kenalan baru. Waheedee, namanya. Ia punya restoran di downtown. Mereka menyebutnya Balad. Memang, disanalah pusat kota. Ramai dan sedikit kumuh. Segala macam ada disana, termasuk restoran kelas bawah. Waheedee sampai ikut saya ke hotel, karena hubungan akrab kami. Dia tinggal sendiri. ”Abang dan adik saya sudah ke Irak melawan Amerika”, katanya bangga.

Tentang downtown, hampir semua teman-teman punya kenangan tersendiri. Sebab, malam hari tersedia berbagai bursa disini. Mulai dari pakaian bekas tetapi masih layak pakai, buku bekas, mainan bekas dan hiburan kelas rakyat. Jangan heran, disini bioskop dengan filmnya mulai dibuka sejak pukul 9.00 pagi waktu setempat. Tanpa berhenti sampai pukul 17.00, bahkan lebih. Pedagang makanan  keluar masuk , hilir mudik tanpa aturan.

Disini juga tempat berkumpulnya warung kopi kelas bawah, tempat para sopir angkot dan kuli pasar melepas lelah, tetapi sekaligus  bursa informasi yang akurat. Terutama tentang situasi Jordan paling akhir. Satu hal yang kadang-kadang menyebalkan, mereka tidak kenal bahasa lain selain bahasa Arab Jordan. Maklum.

Siapapun yang masuk ke kedai kopi itu, langsung disapa dengan bahasa Arab. Bahkan terus ngobrol ngalor ngidul. Mereka menganggap semua yang disana adalah warga Arab. Saya bersama teman-teman mulai kesal juga. ”Na’am, na’am, ….”, kami menyahut sambil terbahak-bahak karena tidak tahu apa cerita bapak yang satu ini.

Suatu pagi saya sudah duduk menghadapi minuman hangat. Suara obrolan dan ngakaknya tamu warung ini, penuh sesak. Tambah asap rokok mengepul. Tidak peduli dengan apa dan bagaimana berita pagi. Teman saya muncul di depan warung dan mengangkat tangan. Langsung berteriak, ”Qul huwallahu ahad, allahus samad… dan” bermaksud menandingi obrolan yang lain. Semua tamu ikut terbahak-bahak..

”Kenapa kamu? Ngomong apa sih?”, kata saya sambil tertawa.

”Habis, saya kesel. Semua bahasa Arab. Kita kan bukan orang Arab. Saya gak bisa bahsa Arab. Tapi kaget semua, kan. Lumayan…”, katanya sambil tertawa dan menghirup kopi panasnya..

Seperti mendapat inspirasi, saya segera mulai mencari nara sumber. Pertama-tama, menghubungi ketua Ikhwanul Mislimin Jordan. Saya diantar oleh Ketua PPI untuk melakukan serangkaian wawancara. Kemudian, dengan  Ketua pelarian Palestina di Jordan. Semua menyatakan kebencian mereka kepada Amerika. Suatu saat akan meledak dan bisa menjadi pemicu Perang Dunia Ketiga. Waaah..

—–

*Wartawan asal Gayo tinggal di Jakarta

Comments

comments

News