by

M. Nur Gaybita: Small is Beautiful

Jakarta | Lintas Gayo – Dalam kuliah Entrepreneurship II Mahasiswa Asrama Lut Tawar Jakarta di Jalan Muria No. 46, Menteng Atas, Setia Budi, Jakarta Selatan, Minggu (11/12/2011), M. Nur Gaybita yang bertindak sebagai pembicara, mengatakan, perlu perubahan pola pikir dan langkah kecil menuju perubahan besar. Sayangnya, Ny AS. Jafar, pakar kecantikan dan salon di Indonesia berhalangan hadir.

Selain mahasiswa, pemuda, dan masyarakat Gayo Jabodetabek, kuliah yang dimoderatori Darwan Hakim, dihadiri beberapa pengurus Yayasan Asrama Lut Tawar (YALT) Jakarta, Ikatan Musara Gayo (IMG) Jabodetabek, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Generasi Muda Pengawal Aspirasi Rakyat (GEMPAR), Research Center for Gayo, Forum Komunikasi Gayo Linge, dan tampak pula seorang peserta dari Takengon.

Dalam amatan M. Nur Gaybita, terjadi penurunan dalam banyak hal pada orang Gayo dan Aceh. Berbeda dengan orang Sulawesi Selatan. “Dulunya, tahun 1960, Universitas Syiah Kuala dan Universitas Hasanuddin itu sama. Bedanya, pengusaha Sulawesi Selatan ikut ambil bagian dalam “menitipkan” mahasiswa-mahasiswa cerdas dari sana ke Departemen-departemen, saat itu. Alhasil, sekarang, mereka banyak yang jadi Direktur Jenderal (Dirjen) dan berkiprah dimana-mana.

Belakangan, ada Abraham Samad, Ketua Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) yang juga dari sana. Kalau orang Gayo, tidak demikian, bergerak sendiri-sendiri (kedediri, sesereng, masing-masing). Dan, tidak muncul secara nasional,” katanya. Terkait persoalan tersebut—kaderisasi dan regenerasi—menurutnya, kelemahan orang Gayo ada pada persoalan komunikasi dan kurangnya kemauan.

Selanjutnya, M. Nur Gaybita yang pernah diminta jadi Bupati Kabupaten Aceh Tengah, tahun 1985-1990—karena menolak, kemudian ditunjuk M. Jamil—menjelaskan, untuk menuju perubahan besar, seseorang perlu fokus, adanya kerberkelanjutan, efisiensi, daya saing, nilai tambah, benefit, dan pemerataan. Oleh sebab itu, diperlukan latihan dan praktik dalam bertindak. Akibatnya, akan ada daya saing, nilai tambah, benefit, dan kesejahteraan.

Berkenaan dengan efisiensi, Nur—panggilan M. Nur Gaybita, yang juga motivator dan pengerak wirausaha seluruh Indonesia dan sering ke luar negeri—membandingkan Indonesia dengan Cina. Cina katanya, bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian. Sebaliknya, Indonesia bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian. Gambaran tersebut bisa dilihat dalam perjalanan pembangunan Cina dari awal sampai sekarang.

“Waktu saya ke sana, tahun 1993, Direktur di sana memakai sepeda ke kantor. Gedung-gedung mereka pun dibuat dari batako. Mereka betul-betul menerapkan efisiensi dan hidup sederhana. Yang terpenting, saat yang bersamaan, mereka bisa bikin mesin dan jual barang. Kalau di sini, kan tidak. Di Indonesia juga lebih ceremonial dan feodal.”

Kepemimpinan Raja Linge

Usai menggambarkan kondisi di banyak daerah di Indonesia dan pelbagai negara yang pernah didatanginya, Nur pun kemudian menggambarkan filosofis kepemimpinan Reje (Raja) Linge di tanoh Gayo, Propinsi Aceh. “Dalam masyarakat Gayo, kita punya teori kepempinan Reje Linge, yaitu cerdik (pintar, cerdas), bidik (cepat, cekatan, ber-akselerasi), lisik (giat, ulet, tekun), mersik (sehat, kuat, bisa survive), bijak, dan adil,” ungkap Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) itu.

Di sisi lain, dalam pandangannya, tak jarang, orang Gayo berprilaku seperti reje (raja). Lebih dari itu, ia pernah diingatkan tokoh Gayo, Muhammad Kasim AS alm agar tidak suka mu regeng seperti kebiasaan orang Gayo lainnya. “Ike ko gere mu regeng, puren kin kepala kese ko i Acih ni (kalau kamu tidak mu regeng, suatu saat, kamu akan jadi kepala di Aceh),” kenang Nur mengigat petuah Mohd. Kasim AS kepadanya. Alhasil, Nur Gaybita pun kemudian penah menjabat Kepala Dinas Pertanian Aceh, yang saat itu masih berusia 35 tahun.

Untuk mencapai sukses, tambahnya, perlu dipaksa, terpaksa, terbiasa, biasa, dan terakhir jadi budaya. “Saran saya, adik-adik mulai lah dari yang kecil. Karena, small is beautiful. Namun, dari beberapa jenis bisnis atau usaha yang mau dijalankan, mesti ditelaah kekuatan (strengthen), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancamannya (threaten)”.

Di akhir paparannya, Nur menegaskan, kerja keras tanpa tujuan sama halnya dengan mimpi buruk dan kerja keras dengan tujuan berarti sukses. Selanjutnya, tujuan tanpa kerja keras sama dengan menghayal. Dan, tanpa tujuan dan kerja keras tak ubahnya seperti mati suri (Yusradi Usman al-Gayoni)

Comments

comments