by

Memanfaatkan Facebook Sebagai Sarana Dakwah

Oleh: Muhammad Erwin Dianto

FACEBOOK, mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita, terlebih kepada yang melek akan tehnologi internet. Beberapa tahun belakangan ini, terutama di kalangan remaja baik pelajar maupun mahasiswa juga tak terkecuali para pegawai di kantor-kantor yang sengaja memanfaatkan facebook untuk menghilangkan kesuntukan disela-sela pekerjaan yang melelahkan.

Mulanya, facebook dikembangkan pertamakali oleh seorang programmer yang bernama Mark Elliot Zuckerberg dibantu salah seorang teman satu kampusnya bernama Andrew McColleum saat masih kuliah di Universitas Harvard.

Keanggotaan facebook awalnya dibatasi hanya untuk siswa dari Harvard. Namun dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah/kampus lain diwilayah Boston seperti Boston University dan Boston  College, Amerika Serikat. Seiring berkembangnya zaman facebook pun menyebar keseluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Sejak 11 september 2006, orang dengan alamat surat elektronik apapun dapat medaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah, tempat kerja, atau wilayah geografis.

Dilansir dari situs socialbakers.com, pengguna facebook di Indonesia saat ini telah mencapai 43,06 juta, terbesar ke-3 di dunia. Data ini merupakan data harian untuk hari ini yang terus di-update setiap hari oleh situs socialbakers. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini yang sekitar 243 juta, berarti angka penetrasi terhadap populasi sebesar 17,72 persen. Artinya 1 dari 6 rakyat Indonesia, mempunyai sebuah akun di facebook.

Begitu juga di Dataran Tinggi Gayo, baik di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo lues, Facebook semakin banyak yang meminanti, sebagai akun yang dapat dijadikan media berkomunikasi baik jarak dekat ataupun jarak jauh melalaui dunia maya. Hal ini sebenarnya sah-sah saja apabila penggunaan facebook tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang merugikan, baik diri sendiri ataupun pihak lain.

Beberapa tahun belakangan seiring semakin tinggi popularitas Facebook, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa “Facebook Haram”. Akan tetapi menurut penulis pribadi semuanya kembali pada diri kita masing-masing, bagaimana kita memanfaatkan facebook. Kalau berbicara masalah haram atau tidak, itu tergantung bagaimana kita memanfaatkan sesuatu antara positif dan negatif.

Ironis memang, jika melihat remaja sekarang menjadikan Facebook sebagai  trend tempat ber-narcis ria, mungkin itu menjadi hak pribadi setiap pengguna akun. Akan tetapi, alangkah lebih baiknnya apabila menjadikan Facebook sebagai sarana berdakwah dan berbagai informasi, tidak hanya membuang-buang waktu berjam-jam hanya untuk membincangkan hal-hal yang tidak berguna.

Ada beberapa fitur yang disediakan yang bisa digunakan untuk kepentingan dakwah. Antara lain; (1) status untuk syi’ar dakwah, walaupun menulis status adalah hak kita, tetap ada cara yang baik dalam membuat status agar berguna untuk kita dan teman-teman kita. (2) Wall sebagai media dakwah, pada fitur Wall (dinding), kita bisa menulis pesan  kita pada dinding teman kita. Pesan ini akan dibaca oleh seluruh anggota atau teman kita. Oleh karna itu, perlu diusahakan agar hal-hal yang tidak terlalu penting sebaiknya tidak dikirim ke Wall. (3) Chatting untuk diskusi, hendaknya kita menyadari bahwa segala ucapan atau tulisan kita tetap diawasi oleh Allah Swt. Dan juga Malaikat Raqib serta Atid yang senantiasa memcatat apapun tindak tanduk kita.

Namun disisi lain, terjebak dalam kesia-siaan juga mungkin terjadi. Jangan sampai kita terlalu lama online tapi hasilnya tidak ada alias sia-sia. Agar Facebook kita tidak sia-sia maka usahakan atur waktu online. Waktu tidur, tidurlah. Waktu shalat, shalatlah. Begitu juga diwaktu makan, belajar dan bekerja.

Facebook adalah jejaring sosial, berarti kita hidup dalam sebuah kelompok pertemanan. Maka, aturan pertemanan dalam Islam sebaiknya tidak kita lupakan. Terlebih  sebagai masyarakat suku Gayo yang baik, kita memiliki nilai-nilai adat istiadat yang sangat kental akan nilai-nilai islami. Aturan Islam itulah yang membuat kita selamat dalam bergaul.***

*Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, asal Jagong Jeget, Aceh Tengah

Comments

comments